Berita

Kapasitas dan Kualitas 5G Jadi Sorotan, Operator Diminta Tak Sekadar Bangun BTS

131
×

Kapasitas dan Kualitas 5G Jadi Sorotan, Operator Diminta Tak Sekadar Bangun BTS

Sebarkan artikel ini
Perang BTS 5G: Apakah Kapasitas dan Kualitas ke Pelenggan Optimal?

Tabengan.com – Di tengah agresifnya pembangunan infrastruktur jaringan generasi kelima, isu kapasitas dan kualitas 5G kini menjadi perhatian utama. Operator seluler memang berlomba memperbanyak jumlah BTS 5G sepanjang 2025, namun pertanyaannya bukan lagi sekadar berapa menara yang berdiri, melainkan apakah kapasitas dan kualitas 5G yang dirasakan pelanggan sudah benar-benar optimal.

Fenomena ini mencuat di awal 2026 ketika Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart sama-sama memamerkan pencapaian jumlah BTS 5G mereka. Perang infrastruktur terlihat jelas. Namun di balik angka-angka tersebut, pembahasan tentang kapasitas dan kualitas 5G justru semakin relevan.

Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menilai Indonesia memang sudah memasuki fase awal adopsi 5G dengan penetrasi sekitar 10 persen. Artinya, ekspansi jaringan penting dilakukan untuk membangun fondasi jangka panjang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas dan kualitas 5G tidak bisa hanya mengandalkan penambahan BTS.

“Indonesia mulai memasuki fase awal adopsi 5G dengan penetrasi sekitar 10%, sehingga ekspansi penting untuk membangun fondasi jangka panjang,” ujar Heru, 20 Februari 2026.

Jangan Hanya Kejar Jumlah

Menurut Heru, momentum ekspansi 5G memang tepat. Namun operator diminta tidak sekadar mengejar jumlah menara. Fokus utama seharusnya adalah memastikan kapasitas dan kualitas 5G benar-benar meningkat secara nyata.

“Ya, menurut saya ini momentum yang tepat, tetapi harus selektif,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa pembangunan BTS perlu disesuaikan dengan kesiapan ekosistem, mulai dari perangkat pengguna, backbone fiber optik, hingga kesiapan sektor industri dalam memanfaatkan 5G. Tanpa keseimbangan tersebut, peningkatan kapasitas dan kualitas 5G berpotensi tidak maksimal.

Strategi bertahap dengan fokus pada kota besar dan kawasan industri dinilai lebih rasional dibanding ekspansi nasional secara langsung. Kota metropolitan memiliki trafik data tinggi, sehingga kebutuhan kapasitas dan kualitas 5G lebih mendesak dan bernilai ekonomis.

Trafik Data Terus Tumbuh

Heru juga menyoroti pertumbuhan trafik data yang terus meningkat setiap tahun. Dengan lonjakan konsumsi video, cloud computing, dan aplikasi berbasis real-time, jaringan harus memiliki kapasitas yang cukup agar tidak mudah mengalami penurunan performa saat beban tinggi.

“Dengan trafik data terus tumbuh, investasi 5G sekarang akan memperkuat daya saing dan efisiensi jaringan dalam 3–5 tahun ke depan,” jelasnya.

Namun ia mengingatkan, tanpa dukungan spektrum yang memadai, kapasitas dan kualitas 5G sulit mencapai potensi penuhnya.

Spektrum Jadi Hambatan Utama

Salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas 5G adalah keterbatasan spektrum. Spektrum mid-band ideal untuk 5G seperti 2,6 GHz dan 3,5 GHz, serta spektrum rendah 700 MHz, belum sepenuhnya tersedia bagi operator karena masih menunggu proses lelang tambahan dari pemerintah.

Saat ini operator masih banyak mengandalkan spektrum eksisting seperti 1800 MHz, 2100 MHz, dan 2300 MHz. Teknologi dynamic spectrum sharing (DSS) digunakan untuk membagi spektrum antara 4G dan 5G.

Konsekuensinya, meskipun jaringan 5G sudah aktif, kapasitas dan kualitas 5G yang dirasakan pelanggan belum sepenuhnya optimal. Kecepatan bisa meningkat, tetapi belum mencapai performa maksimal yang dijanjikan standar 5G global.

“Tanpa tambahan spektrum baru, ekspansi bisa tetap berjalan, tetapi kecepatan dan efisiensinya belum mencapai potensi penuh 5G,” tegas Heru.

Realita di Lapangan

Di sejumlah kota besar, pelanggan memang sudah bisa menikmati jaringan 5G. Namun dalam kondisi trafik padat, performa sering kali masih bergantung pada kualitas spektrum yang digunakan.

Di sinilah isu kapasitas dan kualitas 5G menjadi krusial. Jika spektrum terbatas, maka kapasitas jaringan ikut terbatas. Ketika pengguna bertambah, kualitas layanan bisa terpengaruh.

Karena itu, perang membangun BTS harus diiringi kebijakan spektrum yang progresif. Tanpa itu, operator hanya memperluas jangkauan, bukan meningkatkan kualitas pengalaman secara signifikan.

Menuju Fase Kritis

Indonesia berada pada fase awal transformasi menuju ekosistem digital berbasis 5G. Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, kebutuhan kapasitas dan kualitas 5G akan semakin tinggi, terutama dengan berkembangnya industri berbasis Internet of Things (IoT), smart manufacturing, dan layanan berbasis kecerdasan buatan.

Operator dituntut tidak hanya memperbanyak infrastruktur, tetapi memastikan setiap investasi menghasilkan peningkatan nyata bagi pelanggan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan 5G bukan sekadar ikon jaringan di layar ponsel. Ukurannya adalah stabilitas, latensi rendah, kecepatan konsisten, dan kemampuan menangani trafik besar tanpa gangguan.

Kapasitas dan kualitas 5G kini menjadi parameter utama dalam menilai kesiapan Indonesia memasuki era konektivitas generasi kelima. Ekspansi penting, tetapi optimalisasi jauh lebih menentukan.