Berita

Literasi AI Pelajar Diperkuat Telkom, 10 SMA dan SMK di Makassar Ikut Program

53
×

Literasi AI Pelajar Diperkuat Telkom, 10 SMA dan SMK di Makassar Ikut Program

Sebarkan artikel ini
Literasi AI Pelajar Diperkuat Telkom, 10 SMA dan SMK di Makassar Ikut Program

Tabengan.com – Telkom Indonesia memperkuat literasi AI pelajar melalui program EduMind Wellbeing & AI Camp yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) Telkom di bidang pendidikan, dengan menggabungkan pengenalan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan perhatian terhadap kondisi emosional pelajar.

Program tersebut diikuti 350 peserta yang terdiri atas 300 siswa dan 50 guru dari 10 SMA dan SMK. Melalui kegiatan ini, Telkom mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, kreatif, dan produktif di lingkungan pendidikan.

EduMind Wellbeing & AI Camp merupakan bagian dari program BISA PandAI melalui BISA Vokasi. Inisiatif tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pemanfaatan teknologi AI sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya wellbeing atau kesejahteraan emosional dalam proses pembelajaran.

Senior General Manager Social Responsibility Telkom Hery Susanto mengatakan, perkembangan penggunaan AI di dunia pendidikan perlu diimbangi dengan perhatian terhadap aspek emosional siswa. Menurutnya, kemampuan memanfaatkan teknologi tidak dapat dipisahkan dari kesiapan pelajar dalam mengelola kondisi dan kesejahteraan dirinya.

“Pemanfaatan AI harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap emotional wellbeing siswa. Karena itu, kami ingin membekali pelajar bukan hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dengan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kondisi emosional,” ujar Hery dalam kegiatan tersebut.

Dalam pelaksanaannya, siswa mendapatkan pengenalan mengenai penggunaan AI untuk mendukung aktivitas pendidikan. Pemanfaatan teknologi diarahkan agar tidak hanya berorientasi pada kemudahan, tetapi juga digunakan secara kreatif dan produktif serta tetap memperhatikan aspek tanggung jawab.

Upaya memperkuat literasi AI pelajar tersebut dilakukan bersamaan dengan pengenalan konsep wellbeing kepada guru. Para pendidik diperkenalkan dengan platform EduMind yang memiliki sejumlah fitur untuk membantu sekolah memantau kondisi emosional siswa.

Salah satu fitur yang diperkenalkan adalah weekly mood check-in. Fitur tersebut memungkinkan pemantauan kondisi atau suasana hati siswa secara berkala. EduMind juga dilengkapi kemampuan pemantauan wellbeing dengan bantuan AI serta sistem pelaporan yang dapat mendukung sekolah dalam melihat kondisi peserta didik.

Kehadiran fitur tersebut diharapkan dapat membantu guru memiliki gambaran yang lebih baik mengenai kondisi siswa. Dengan demikian, perhatian terhadap wellbeing dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan, bersamaan dengan pengembangan kemampuan akademik dan digital.

Telkom menilai kebutuhan terhadap literasi AI semakin penting seiring dengan meningkatnya penggunaan teknologi tersebut di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital yang dikutip Telkom, tingkat adopsi AI di Indonesia pada 2026 telah mencapai 92 persen.

Angka tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan teknologi AI dalam berbagai aktivitas masyarakat. Kondisi ini turut memberikan tantangan bagi dunia pendidikan untuk memastikan pelajar memiliki kemampuan yang memadai dalam memahami dan menggunakan AI.

Literasi AI pelajar menjadi penting bukan hanya agar siswa dapat mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga supaya mereka mampu memahami penggunaan AI secara tepat. Dalam konteks pendidikan, pemanfaatan AI perlu diarahkan untuk mendukung proses belajar, kreativitas, produktivitas, serta pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Di sisi lain, Telkom juga menempatkan program tersebut dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan nomor 4 tentang pendidikan berkualitas. Penggabungan aspek teknologi dan wellbeing dinilai dapat mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Bagi guru, pemahaman terhadap teknologi AI juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Pendidik memiliki peran dalam membantu siswa memahami batasan dan pemanfaatan teknologi secara tepat. Karena itu, program Telkom tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga memberikan pembekalan kepada guru melalui pengenalan platform EduMind.

Melalui pendekatan tersebut, Telkom berupaya membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memperhatikan kebutuhan siswa secara lebih menyeluruh. AI diposisikan sebagai alat yang dapat mendukung proses pendidikan, sementara wellbeing menjadi aspek yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan teknologi tetap memberikan dampak positif bagi peserta didik.

Hery menambahkan bahwa Telkom akan terus memperkuat kolaborasi dengan sekolah, guru, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengembangkan program pendidikan berbasis teknologi. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat program sekaligus membantu institusi pendidikan menghadapi perubahan yang berlangsung akibat perkembangan AI.

Penguatan literasi AI pelajar juga menjadi semakin relevan karena teknologi kecerdasan buatan berkembang dengan cepat dan mulai digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Sekolah dituntut untuk tidak hanya mengenalkan teknologi kepada siswa, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Melalui EduMind Wellbeing & AI Camp di Makassar, Telkom mencoba menggabungkan kedua kebutuhan tersebut. Siswa mendapatkan wawasan mengenai AI, sedangkan guru memperoleh pengenalan terhadap perangkat yang dapat membantu memperhatikan aspek wellbeing peserta didik.

Program yang melibatkan 10 SMA dan SMK tersebut menjadi salah satu bentuk upaya Telkom dalam mendorong transformasi pendidikan melalui teknologi. Dengan melibatkan siswa dan guru secara bersamaan, perusahaan berharap pemanfaatan AI dapat berkembang secara lebih terarah di lingkungan sekolah.

Ke depan, penguatan kolaborasi antara perusahaan, sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan akan menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan AI. Selain meningkatkan kemampuan digital, dunia pendidikan juga perlu memastikan bahwa teknologi digunakan untuk mendukung proses belajar dan perkembangan siswa secara seimbang.