Berita

Kelangkaan Chip Memori Global Makin Parah, Harga Smartphone Diprediksi Naik hingga 2028

35
×

Kelangkaan Chip Memori Global Makin Parah, Harga Smartphone Diprediksi Naik hingga 2028

Sebarkan artikel ini
Kelangkaan Chip Memori Global Makin Parah, Harga Smartphone Diprediksi Naik hingga 2028

Tabengan.com – Kelangkaan chip memori global semakin memberikan tekanan terhadap industri smartphone. Harga komponen DRAM dan NAND yang meningkat membuat harga jual rata-rata smartphone global diproyeksikan naik hingga 27,6 persen menjadi sekitar USD 581 pada 2026. Kondisi ini terjadi ketika produsen memori mengalihkan sebagian kapasitas produksi dari kebutuhan perangkat konsumen ke chip High Bandwidth Memory (HBM) yang digunakan untuk mendukung pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perubahan prioritas produksi tersebut menyebabkan pasokan komponen memori untuk smartphone tidak mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan industri. Berdasarkan laporan International Data Corporation (IDC), pusat data AI kini menyerap sekitar 70 persen dari produksi memori global. Permintaan dari sektor tersebut menjadi semakin menarik bagi produsen karena margin keuntungannya disebut tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan segmen elektronik konsumen.

Dampaknya mulai terlihat pada pertumbuhan pasokan DRAM dan NAND untuk smartphone sepanjang 2026. IDC memperkirakan pertumbuhan pasokan DRAM hanya berada di kisaran 16 persen, sedangkan NAND mencapai sekitar 17 persen. Angka tersebut berada di bawah kebutuhan normal industri yang berada pada rentang 20 persen hingga 30 persen.

Kesenjangan antara pasokan dan permintaan kemudian mendorong kenaikan harga komponen. Counterpoint Research mencatat harga DRAM global meningkat lebih dari 50 persen, sementara harga NAND Flash melonjak lebih dari 90 persen pada kuartal pertama 2026.

Kenaikan harga tersebut memberikan tekanan langsung terhadap produsen smartphone. Biaya komponen yang semakin mahal membuat perusahaan harus memilih antara mempertahankan spesifikasi perangkat, menaikkan harga jual, atau melakukan penyesuaian terhadap konfigurasi produk.

Francisco Jeronimo, Vice President for Worldwide Client Devices IDC, menyebut kondisi tersebut memberikan tekanan besar terhadap rantai pasok elektronik konsumen. Sementara itu, Ryan Reith, Group Vice President IDC, menilai lamanya periode kelangkaan memori akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan seberapa besar kontraksi pasar smartphone global.

IDC bahkan memproyeksikan pengiriman smartphone global dapat terkoreksi hingga 16,7 persen. Jika proyeksi tersebut terealisasi, penurunan itu akan menjadi salah satu kontraksi tahunan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah industri smartphone.

Dampak kelangkaan chip memori global juga dirasakan lebih berat oleh smartphone kelas bawah dan menengah. Segmen tersebut memiliki ruang yang lebih terbatas bagi produsen untuk menyerap kenaikan biaya komponen tanpa menaikkan harga jual secara signifikan.

Data Counterpoint Research menunjukkan bahwa komponen memori sebelumnya menyumbang sekitar 15 persen hingga 20 persen dari total Bill of Materials (BOM) smartphone kelas menengah. Namun, pada kuartal kedua 2026, porsinya pada perangkat entry-level bahkan disebut telah melampaui 65 persen.

Kenaikan tersebut membuat biaya produksi smartphone dengan harga di bawah USD 200 meningkat sekitar 20 persen hingga 30 persen. Tekanan paling besar terjadi pada perangkat dengan harga di bawah USD 100. Penjualan smartphone di segmen tersebut tercatat merosot hampir 60 persen pada periode yang sama.

Situasi serupa juga mulai terlihat di pasar Indonesia. Berdasarkan laporan Counterpoint Indonesia Smartphone Tracker, total pengiriman smartphone di Indonesia turun 9 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026. Segmen entry-level dengan harga di bawah USD 150 menjadi kelompok yang mengalami penurunan paling besar, yakni hingga 19 persen.

Namun, kondisi pasar tidak terjadi secara merata pada seluruh segmen. Smartphone premium dengan harga di atas USD 600 justru mencatat pertumbuhan sekitar 30 persen. Segmen tersebut juga mencatat kontribusi sebesar 8,3 persen terhadap total pengiriman smartphone di Indonesia.

Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain menjelaskan bahwa konsumen di segmen entry-level cenderung menunda penggantian perangkat ketika harga smartphone mengalami tekanan. Sebagian konsumen juga memilih membeli perangkat bekas atau refurbished sebagai alternatif untuk menghindari kenaikan harga perangkat baru.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan penjualan smartphone di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan daya beli konsumen. Kenaikan biaya komponen dari sisi produksi juga menjadi faktor yang memengaruhi harga dan keputusan pembelian.

Menghadapi tekanan biaya yang diperkirakan berlangsung dalam jangka panjang, produsen smartphone mulai melakukan berbagai penyesuaian terhadap spesifikasi. Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga harga jual tetap kompetitif sekaligus mengurangi dampak kenaikan biaya produksi.

Senior Analyst Counterpoint Research Shenghao Bai menyebut produsen mulai melakukan penyesuaian pada sejumlah komponen, termasuk modul kamera, kualitas layar, sistem audio, hingga kapasitas memori. Beberapa smartphone kelas menengah mempertahankan kapasitas memori yang sama tanpa memberikan peningkatan seperti pada generasi sebelumnya.

Pada perangkat entry-level, sebagian produsen juga mulai mempertimbangkan konfigurasi 4GB DRAM untuk menjaga harga jual tetap berada pada tingkat yang dapat dijangkau konsumen. Strategi tersebut memperlihatkan bahwa kelangkaan chip memori global tidak hanya berdampak terhadap harga, tetapi juga berpotensi mengubah spesifikasi smartphone yang ditawarkan di pasar.

Tekanan harga memori juga diperkirakan tidak segera berakhir. Lembaga riset memperkirakan harga komponen memori tidak akan kembali ke tingkat 2025 meskipun kondisi pasokan secara bertahap mulai membaik. Sejumlah fasilitas produksi memori baru diproyeksikan baru mencapai kapasitas produksi penuh pada 2027.

IDC bahkan memperkirakan tekanan harga dapat berlanjut setidaknya hingga 2028. Artinya, produsen smartphone masih harus menghadapi struktur biaya yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Senior Research Director Worldwide Consumer Devices IDC Nabila Popal menilai era smartphone dengan harga sangat murah telah berakhir. Industri harus menyesuaikan strategi bisnis dengan struktur biaya baru yang terbentuk akibat meningkatnya permintaan memori untuk infrastruktur AI.

Perubahan tersebut pada akhirnya juga dapat memengaruhi cara konsumen menentukan pilihan ketika membeli smartphone. Kapasitas RAM yang besar atau chipset dengan performa tinggi tidak lagi menjadi satu-satunya aspek yang perlu diperhatikan.

Konsumen dapat mempertimbangkan daya tahan baterai, kestabilan performa dalam penggunaan jangka panjang, ketahanan fisik perangkat, ketersediaan suku cadang, serta dukungan pembaruan sistem operasi dan keamanan. Faktor-faktor tersebut menjadi semakin penting ketika harga smartphone mengalami kenaikan akibat tekanan komponen.

Dengan demikian, kelangkaan chip memori global berpotensi memberikan dampak lebih luas daripada sekadar kenaikan harga perangkat. Pergeseran kapasitas produksi menuju kebutuhan AI, peningkatan harga DRAM dan NAND, serta keterbatasan pasokan dapat mendorong produsen mengubah spesifikasi dan strategi produk.

Jika kondisi tersebut bertahan hingga 2028 seperti yang diproyeksikan IDC, konsumen kemungkinan akan menghadapi pasar smartphone dengan harga yang lebih tinggi dan pilihan perangkat murah yang semakin terbatas. Pada saat yang sama, produsen harus mencari keseimbangan antara mempertahankan spesifikasi, mengendalikan biaya produksi, dan menjaga daya tarik produk di tengah perubahan struktur industri memori global.