Berita

Snapdragon 8 Elite vs Tensor G6, Siapa Lebih Unggul? Hasil Benchmark Ungkap Perbedaannya

71
×

Snapdragon 8 Elite vs Tensor G6, Siapa Lebih Unggul? Hasil Benchmark Ungkap Perbedaannya

Sebarkan artikel ini
Snapdragon 8 Elite vs Tensor G6, Siapa Lebih Unggul? Hasil Benchmark Ungkap Perbedaannya

Tabengan.com – Snapdragon 8 Elite vs Tensor G6 menjadi perbandingan menarik di tengah persaingan chipset flagship untuk smartphone premium. Qualcomm Snapdragon 8 Elite menunjukkan keunggulan cukup signifikan dalam sejumlah pengujian benchmark dibandingkan Google Tensor G6 yang digunakan pada lini Google Pixel 11 Series.

Google menghadirkan Tensor G6 sebagai generasi terbaru system-on-chip (SoC) untuk mendukung smartphone flagship terbarunya. Chipset tersebut diproduksi menggunakan fabrikasi 3 nanometer (nm) TSMC dan membawa pendekatan berbeda dibandingkan Snapdragon 8 Elite milik Qualcomm.

Jika Qualcomm lebih menitikberatkan kemampuan komputasi mentah dan performa grafis, Google mengarahkan Tensor G6 untuk memperkuat kemampuan kecerdasan buatan (AI), efisiensi pemrosesan, serta berbagai fitur yang berjalan langsung di perangkat.

Perbedaan filosofi tersebut terlihat jelas dalam hasil pengujian benchmark. Pada Geekbench 6, Google Pixel 11 Pro XL yang ditenagai Tensor G6 mencatat skor single-core sebesar 2.671 poin. Sementara itu, Samsung Galaxy S25 Plus dengan Snapdragon 8 Elite memperoleh 3.008 poin.

Dengan hasil tersebut, Snapdragon 8 Elite memiliki keunggulan sekitar 12 persen pada pengujian single-core. Perbedaan semakin besar ketika pengujian beralih ke kemampuan multi-core.

Tensor G6 mencatat skor multi-core sebesar 6.802 poin, sedangkan Snapdragon 8 Elite mencapai 9.730 poin. Artinya, chipset Qualcomm unggul sekitar 43 persen dalam pengujian tersebut.

Perbedaan performa juga terlihat melalui AnTuTu Benchmark v11. Snapdragon 8 Elite mencatat skor keseluruhan sebesar 3.162.650 poin. Tensor G6 memperoleh 1.857.406 poin.

Sektor GPU menjadi salah satu faktor utama yang memperlebar jarak performa kedua chipset tersebut. Adreno 830 yang digunakan Snapdragon 8 Elite mencatat skor GPU sebesar 1.200.291 poin. Sebagai pembanding, GPU PowerVR CXTP-48-1536 pada Tensor G6 memperoleh 432.908 poin.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa Snapdragon 8 Elite memiliki kemampuan pemrosesan grafis yang jauh lebih tinggi dalam pengujian benchmark. Keunggulan ini berpotensi memberikan dampak pada aktivitas yang membutuhkan kemampuan GPU besar, seperti gaming dengan grafis berat, pengolahan visual, dan aplikasi yang membutuhkan komputasi paralel.

Pengujian 3DMark Wild Life Extreme Stress Test kembali memperlihatkan pola serupa. Snapdragon 8 Elite memperoleh nilai 6.612 poin dengan rata-rata frame rate 39,48 FPS. Tensor G6 mencatat 3.386 poin dengan rata-rata 20,31 FPS.

Data tersebut memperlihatkan bahwa Snapdragon 8 Elite lebih unggul dalam mempertahankan performa grafis pada beban kerja yang berat. Bagi pengguna yang menjadikan smartphone sebagai perangkat gaming, perbedaan tersebut menjadi salah satu aspek penting.

Namun, perbandingan Snapdragon 8 Elite vs Tensor G6 tidak dapat hanya dilihat berdasarkan skor benchmark. Google memang mengambil keputusan arsitektur yang berbeda pada Tensor G6.

Google menggunakan konfigurasi CPU 7-core pada Tensor G6. Konfigurasi tersebut terdiri dari satu inti ARM C1-Ultra dengan kecepatan hingga 4,11 GHz, empat inti ARM C1-Pro berkecepatan 3,38 GHz, serta dua inti ARM C1-Pro dengan kecepatan 2,65 GHz.

Jumlah inti tersebut lebih sedikit dibandingkan konfigurasi 8-core yang umum digunakan pada chipset flagship. Google dilaporkan mengurangi jumlah inti CPU untuk memberikan ruang silikon lebih besar bagi komponen pemrosesan AI.

Fokus tersebut diarahkan pada Tensor Processing Unit (TPU) generasi kelima. Komponen khusus ini digunakan untuk menjalankan berbagai model AI secara langsung di perangkat atau on-device.

Salah satu pemanfaatannya adalah Google Gemini Nano yang digunakan pada berbagai fitur di lini Pixel 11. Pemrosesan AI tersebut dapat mendukung fotografi komputasional, real-time semantic segmentation, serta pemrosesan bahasa alami.

Pendekatan Google juga memberikan peningkatan dibandingkan generasi sebelumnya. Tensor G6 disebut mampu membuat proses penjelajahan web sekitar 20 persen lebih cepat dibandingkan Tensor G5. Respons ketika membuka aplikasi juga meningkat sekitar 15 persen.

Qualcomm mengambil pendekatan berbeda melalui Snapdragon 8 Elite. Chipset tersebut mempertahankan konfigurasi CPU 8-core dengan unit pemroses kustom Oryon generasi kedua.

Konfigurasinya terdiri dari dua inti performa utama yang memiliki kecepatan hingga 4,32 GHz serta enam inti efisiensi dengan kecepatan hingga 3,53 GHz. Arsitektur tersebut dirancang untuk memberikan performa tinggi pada beban kerja komputasi sekaligus mempertahankan efisiensi penggunaan daya.

Snapdragon 8 Elite juga dilengkapi NPU Qualcomm Hexagon untuk menangani berbagai tugas generative AI atau Gen AI multimodal. Dengan demikian, Qualcomm tidak mengabaikan perkembangan AI meskipun performa komputasi konvensional tetap menjadi salah satu fokus utamanya.

Dari sisi konektivitas, Tensor G6 menggunakan modem MediaTek M90 5G yang mendukung jaringan mmWave dan sub-6 GHz. Modem tersebut memiliki kemampuan kecepatan unduh teoretis hingga 12 Gbps.

Snapdragon 8 Elite menggunakan modem Snapdragon X80 5G dengan kecepatan unduh puncak hingga 10 Gbps serta kecepatan unggah hingga 3,5 Gbps. Kedua platform mendukung teknologi konektivitas modern seperti Wi-Fi 7 dan Bluetooth 6.0.

Pada sektor penyimpanan, keduanya telah mendukung standar UFS 4.0 dan UFS 4.1. Perbedaan terdapat pada dukungan kecepatan memori. Snapdragon 8 Elite mendukung RAM LPDDR5X hingga 5,3 GHz, sedangkan Tensor G6 mendukung LPDDR5X hingga 4,2 GHz.

Dari perbandingan tersebut, Snapdragon 8 Elite terlihat lebih unggul ketika parameter yang digunakan adalah performa CPU, GPU, gaming, dan skor benchmark secara keseluruhan. Keunggulan tersebut membuat chipset Qualcomm lebih sesuai untuk pengguna yang membutuhkan kemampuan komputasi tinggi.

Sementara itu, Tensor G6 memiliki strategi berbeda. Google tidak menjadikan skor benchmark sebagai satu-satunya indikator kemampuan chipset. Tensor G6 lebih diarahkan untuk mengoptimalkan pengalaman penggunaan Pixel melalui integrasi AI, pemrosesan on-device, fotografi komputasional, dan berbagai fitur pintar.

Perbedaan strategi tersebut membuat hasil Snapdragon 8 Elite vs Tensor G6 tidak serta-merta menentukan chipset mana yang paling baik untuk semua pengguna. Snapdragon 8 Elite lebih menonjol pada performa mentah, sedangkan Tensor G6 memiliki keunggulan pada integrasi AI dengan ekosistem Google.

Persaingan kedua chipset tersebut menunjukkan bahwa pasar prosesor smartphone flagship semakin berkembang. Produsen tidak hanya mengejar skor benchmark tinggi, tetapi juga berupaya membangun kemampuan AI, efisiensi daya, konektivitas, dan fitur perangkat lunak yang semakin terintegrasi.

Bagi pengguna yang mengutamakan gaming dan performa berat, Snapdragon 8 Elite menawarkan keunggulan yang lebih jelas berdasarkan hasil benchmark. Sementara bagi pengguna Google Pixel yang membutuhkan fitur AI dan pemrosesan cerdas secara langsung di perangkat, Tensor G6 menawarkan pendekatan yang lebih terintegrasi dengan ekosistem Google.