Tabengan.com – Kesenjangan kapabilitas AI masih menjadi tantangan utama dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia. Meski tingkat adopsi AI terus meningkat dan Indonesia termasuk salah satu negara dengan penggunaan AI yang tinggi di kawasan, pemanfaatannya untuk mendukung produktivitas secara luas dinilai masih belum merata. Temuan tersebut menjadi salah satu fokus dalam white paper bertajuk Closing the AI Capability Gap in Indonesia yang dirilis Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI).
White paper tersebut disusun SEAPPI dengan dukungan OpenAI dan bekerja sama dengan Vriens & Partners. Laporan ini mengulas peluang Indonesia untuk memanfaatkan perkembangan AI secara lebih optimal, sekaligus memberikan sejumlah rekomendasi agar teknologi tersebut mampu mendorong produktivitas di berbagai sektor.
Executive Director SEAPPI sekaligus penulis utama white paper, Ed Ratcliffe, mengatakan Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi yang cukup kuat dalam adopsi AI. Tantangan berikutnya adalah memastikan lebih banyak individu maupun organisasi mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk pekerjaan yang membutuhkan kemampuan analitis dan pengetahuan yang lebih tinggi.
Menurutnya, upaya menutup kesenjangan kapabilitas AI membutuhkan pengembangan keterampilan praktis, panduan yang jelas bagi sektor-sektor yang memiliki regulasi ketat, serta koordinasi yang lebih erat antarinstansi pemerintah.
Indonesia Sudah Memiliki Fondasi yang Kuat
White paper tersebut menunjukkan Indonesia tidak memulai pemanfaatan AI dari nol. Sejumlah pengguna di Tanah Air telah memanfaatkan teknologi AI generatif untuk mengerjakan tugas-tugas yang lebih kompleks, seperti pemrograman, analisis data, hingga pekerjaan yang membutuhkan proses penalaran tingkat lanjut.
Berdasarkan data penggunaan ChatGPT dari OpenAI, Indonesia bahkan masuk dalam lima besar negara di dunia untuk penggunaan ChatGPT dalam aktivitas Codex dan analisis data. Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian pengguna telah memanfaatkan kemampuan AI pada level yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan dasar seperti pembuatan teks atau pencarian informasi.
Meski demikian, kesenjangan kapabilitas AI masih terlihat karena kemampuan tersebut belum dimanfaatkan secara merata oleh seluruh pengguna maupun organisasi.
Pemanfaatan AI Tingkat Lanjut Masih Terbatas
SEAPPI mengungkapkan bahwa penggunaan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks masih terkonsentrasi pada kelompok pengguna tertentu.
Analisis OpenAI dalam white paper menunjukkan pengguna Indonesia pada persentil ke-95 menggunakan lebih dari 11 kali lipat token penalaran dibandingkan pengguna median. Walaupun metrik tersebut bukan ukuran langsung produktivitas seseorang, angka tersebut dapat menggambarkan tingkat kompleksitas pekerjaan yang diselesaikan menggunakan AI.
Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian kecil pengguna telah memanfaatkan AI secara maksimal, sementara sebagian besar lainnya masih menggunakan teknologi tersebut untuk kebutuhan yang relatif sederhana.
Karena itu, kesenjangan kapabilitas AI dinilai tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap teknologi, tetapi juga kemampuan pengguna dalam memanfaatkan fitur-fitur AI yang lebih canggih.
Organisasi Juga Menghadapi Tantangan
White paper tersebut menegaskan bahwa persoalan AI bukan hanya berada pada tingkat individu. Banyak organisasi masih menghadapi berbagai tantangan dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis sehari-hari.
Riset Amazon Web Services (AWS) yang dikutip dalam laporan menunjukkan hanya sekitar 10 persen perusahaan di Indonesia yang telah berhasil mentransformasi bisnisnya melalui pemanfaatan AI. Sementara itu, sebanyak 57 persen perusahaan menyebut keterbatasan keterampilan digital sebagai salah satu hambatan terbesar dalam implementasi teknologi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan kesenjangan kapabilitas AI juga dipengaruhi kesiapan organisasi, termasuk infrastruktur digital, sumber daya manusia, kebijakan internal, hingga kemampuan melakukan transformasi proses kerja.
Peran Dunia Usaha dalam Mendorong Adopsi AI
Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, mengatakan data OpenAI memperlihatkan bahwa pengguna Indonesia telah memanfaatkan AI untuk berbagai pekerjaan tingkat lanjut seperti pemrograman dan analisis data.
Namun, menurutnya, kemampuan tersebut masih terkonsentrasi pada kelompok yang relatif kecil. Oleh karena itu, perusahaan memiliki peran penting untuk memperluas pemanfaatan AI melalui penyediaan perangkat AI perusahaan yang aman, pelatihan keterampilan praktis, serta menciptakan lingkungan kerja yang mendukung penggunaan AI dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan strategi tersebut, manfaat AI tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas organisasi secara keseluruhan.
Empat Sektor Prioritas Pengembangan AI
Untuk mempercepat pemanfaatan AI, SEAPPI mengidentifikasi empat sektor yang dinilai memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan teknologi tersebut.
Sektor pertama adalah pemerintahan. White paper merekomendasikan perluasan akses lembaga publik terhadap perangkat AI yang didukung panduan penggunaan, mekanisme pengadaan yang jelas, serta koordinasi antarinstansi agar penerapan AI berjalan lebih konsisten.
Di sektor pendidikan, AI dinilai mampu mendukung proses pembelajaran. Salah satu contoh yang disoroti adalah penerapan tutor AI di Universitas Terbuka yang telah membantu ratusan kelas dan melayani lebih dari 100 ribu mahasiswa. Pengembangan selanjutnya diharapkan mencakup pelatihan tenaga pendidik, panduan penggunaan berdasarkan usia, serta pemerataan akses hingga ke daerah terpencil.
Pada sektor kesehatan, AI dipandang berpotensi memperkuat layanan primer melalui dukungan terhadap tenaga kesehatan, pengurangan beban administrasi, serta pemanfaatan teknologi dalam proses skrining penyakit seperti tuberkulosis.
Sementara di sektor jasa keuangan, penerapan AI didorong melalui tata kelola yang bertanggung jawab berdasarkan pedoman yang telah disusun Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pendekatan tersebut diharapkan dapat diperluas hingga bank dan lembaga keuangan skala menengah maupun kecil.
Rekomendasi untuk Menutup Kesenjangan
Sebagai penutup, white paper merekomendasikan sejumlah langkah strategis untuk mengurangi kesenjangan kapabilitas AI di Indonesia. Rekomendasi tersebut meliputi perluasan akses terhadap perangkat AI di tingkat institusi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, percepatan transformasi digital UMKM, penyusunan panduan AI yang lebih spesifik untuk setiap sektor, hingga penguatan koordinasi antarlembaga pemerintah.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menilai white paper tersebut dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam beralih dari sekadar mengadopsi AI menuju pemanfaatan yang lebih mendalam.
Menurutnya, penguatan kapabilitas komputasi, transfer teknologi, investasi, serta pengembangan talenta akan menjadi faktor penting agar AI mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di kawasan ASEAN.
Melalui berbagai rekomendasi tersebut, kesenjangan kapabilitas AI diharapkan dapat dipersempit sehingga manfaat teknologi kecerdasan buatan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, dunia usaha, maupun pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.











