Tabengan.com – Setelah sempat tertatih akibat pandemi dan pelemahan daya beli global, pasar smartphone global akhirnya menunjukkan tanda pemulihan sepanjang 2025. Firma riset Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone dunia tumbuh 2 persen secara tahunan (year on year/yoy), menandai berakhirnya fase kontraksi yang berlangsung beberapa tahun terakhir.
Pertumbuhan ini bukan datang secara tiba-tiba. Ada kombinasi faktor yang bekerja bersamaan: tren premiumisasi perangkat, semakin agresifnya skema pembiayaan, strategi pemasaran yang lebih matang, serta melonjaknya adopsi jaringan 5G, khususnya di negara berkembang.
“Sepanjang 2025, pasar smartphone global terus bergerak ke level harga yang lebih tinggi,” ujar Analis Senior Counterpoint Research, Shilpi Jain, dikutip dari laman resmi Counterpoint, Rabu (14/1/2026).
Konsumen Mulai Naik Kelas, HP Lama Ditinggalkan
Menurut Jain, perubahan perilaku konsumen menjadi kunci. Sepanjang 2025, pengguna smartphone mulai berani meninggalkan perangkat lama dan beralih ke model yang lebih premium.
“Di saat yang sama, permintaan smartphone 5G meningkat tajam di berbagai wilayah berkembang,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa smartphone tidak lagi dipandang sekadar alat komunikasi, tetapi sudah menjadi perangkat utama untuk produktivitas, hiburan, hingga ekosistem digital harian. Premiumisasi bukan lagi tren sesaat, melainkan arah permanen pasar smartphone global.
Kekhawatiran Tarif Sempat Membayangi
Meski bertumbuh, perjalanan 2025 tidak sepenuhnya mulus. Kekhawatiran terkait kebijakan tarif global sempat membuat produsen smartphone mempercepat pengiriman pada semester pertama.
Namun, seiring berjalannya waktu, dampak tarif ternyata lebih ringan dari perkiraan awal. Akibatnya, tekanan terhadap volume pengiriman di semester kedua pun berkurang.
Secara regional, pertumbuhan pasar smartphone global masih timpang. Jepang, Timur Tengah dan Afrika (MEA), serta sejumlah negara Asia-Pasifik berhasil menutup pelemahan di pasar-pasar matang seperti Amerika Utara dan Eropa Barat.
Kuartal Akhir 2025: Stok Menumpuk, Pertumbuhan Melandai
Pada kuartal terakhir 2025, pengiriman smartphone global hanya tumbuh 1 persen yoy. Penyebab utamanya adalah penumpukan stok di kuartal-kuartal sebelumnya, yang membuat produsen dan distributor lebih berhati-hati.
Namun demikian, Apple justru tampil dominan. Perusahaan asal Cupertino itu menguasai seperempat pengiriman smartphone global di kuartal tersebut—pangsa tertinggi yang pernah mereka raih dalam satu kuartal.
Samsung menyusul di posisi kedua dengan pangsa 17 persen.
Apple Jadi Raja Smartphone 2025
Secara tahunan, Apple keluar sebagai pemimpin pasar smartphone global 2025 dengan pangsa pasar 20 persen dan pertumbuhan pengiriman mencapai 10 persen—tertinggi di antara lima merek teratas.
“Pertumbuhan Apple didorong oleh ekspansi di pasar negara berkembang dan menengah, serta bauran produk yang semakin kuat,” kata Analis Senior Counterpoint, Varun Mishra.
Ia menambahkan, seri iPhone 17 mencatat daya tarik signifikan pada kuartal keempat setelah peluncuran yang sukses. Sementara itu, iPhone 16 tetap mencatat kinerja solid di Jepang, India, dan Asia Tenggara.
Momentum ini diperkuat oleh siklus upgrade pasca-era COVID-19, di mana jutaan pengguna kini berada di fase mengganti perangkat lama mereka.
Samsung Bertahan, Xiaomi Konsisten
Samsung menutup 2025 di posisi kedua dengan pangsa pasar 19 persen dan pertumbuhan moderat sebesar 5 persen yoy. Seri Galaxy A menjadi tulang punggung di kelas menengah, sementara Galaxy Fold7 dan Galaxy S25 menjaga daya tarik di segmen premium.
Meski tertekan di Amerika Latin dan Eropa Barat, performa Samsung tertolong oleh pertumbuhan kuat di Jepang dan stabilnya pasar inti mereka.
Xiaomi mempertahankan posisi ketiga dengan pangsa 13 persen. Strategi premiumisasi, permintaan solid di negara berkembang, serta eksekusi rapi di Amerika Latin dan Asia Tenggara membuat Xiaomi relatif tahan banting di tengah tantangan industri.
Vivo Naik, OPPO Tertahan
Vivo berada di posisi keempat dengan pangsa 8 persen dan pertumbuhan 3 persen yoy. Kinerja ini didorong oleh kekuatan distribusi offline di India serta portofolio produk yang efisien di kelas menengah dan premium.
Sebaliknya, OPPO mencatat penurunan 4 persen yoy akibat melemahnya permintaan di China dan Asia-Pasifik. Meski tumbuh di India dan MEA, penurunan di pasar utama sulit tertutup.
Counterpoint mencatat, jika OPPO dan Realme digabung, entitas ini akan menguasai sekitar 11 persen pasar smartphone global 2025, menempatkannya di posisi keempat.
Merek Penantang Mulai Menggeliat
Di luar lima besar, Nothing dan Google menjadi sorotan. Nothing mencatat pertumbuhan 31 persen yoy, sementara Google tumbuh 25 persen, menandakan adanya ruang bagi pemain non-tradisional untuk mencuri perhatian pasar.
Prediksi 2026: Pertumbuhan Melambat, Tekanan Biaya Menguat
Memasuki 2026, Counterpoint memperkirakan pasar smartphone global akan menghadapi tantangan baru. Kekurangan DRAM dan NAND, serta meningkatnya biaya komponen, diprediksi menekan pengiriman.
Penyebabnya tak lain adalah prioritas produsen chip yang kini lebih fokus ke pusat data kecerdasan buatan (AI) dibandingkan smartphone.
“Kami merevisi proyeksi 2026 dengan memangkas estimasi pengiriman sebesar 3 persen,” ujar Direktur Riset Counterpoint, Tarun Pathak.
Ia menilai Apple dan Samsung akan tetap relatif tangguh berkat rantai pasok yang kuat dan dominasi di segmen premium. Sebaliknya, OEM China yang bermain di segmen harga rendah akan menghadapi tekanan lebih besar.
Sinyalnya jelas: di 2026, pasar smartphone global bukan soal siapa yang menjual paling banyak, tetapi siapa yang paling siap menghadapi era mahalnya komponen dan kompetisi berbasis nilai.






