Berita

Harga Bitcoin September 2026 Tertekan, Level US$80.000 Jadi Penentu Arah Berikutnya

81
×

Harga Bitcoin September 2026 Tertekan, Level US$80.000 Jadi Penentu Arah Berikutnya

Sebarkan artikel ini
Harga Bitcoin September 2026 Tertekan, Level US$80.000 Jadi Penentu Arah Berikutnya

Tabengan.com – Harga Bitcoin September 2026 kembali berada di bawah level psikologis US$80.000 setelah aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut gagal mempertahankan penguatan di atas area tersebut. Pergerakan Bitcoin kini berada di kisaran US$78.000, dengan investor mencermati arus dana ETF dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai dua faktor penting yang dapat menentukan pergerakan berikutnya.

Sebelumnya, Bitcoin sempat mencatat reli sekitar 26 persen. Harga BTC bergerak dari sekitar US$62.700 hingga mencapai US$81.235. Namun, penguatan tersebut kemudian diikuti aksi koreksi sehingga Bitcoin kembali diperdagangkan di bawah US$80.000.

Kondisi tersebut membuat level US$80.000 menjadi perhatian utama pelaku pasar. Investor tidak hanya menunggu apakah Bitcoin mampu kembali melewati batas tersebut, tetapi juga mencermati kemampuan aset kripto tersebut untuk mempertahankan level US$80.000 apabila berhasil ditembus.

Menurut Yudhono, reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih cukup kuat. Namun, kegagalan mempertahankan harga di atas US$80.000 membuat pasar memasuki fase pembuktian.

“Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat. Namun, setelah gagal bertahan di atas 80.000 dolar AS, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian,” kata Yudhono, dikutip dari Antara, Senin (7/9/2026).

Arus Dana ETF Bitcoin Mulai Melemah

Salah satu indikator yang menjadi perhatian dalam Harga Bitcoin September 2026 adalah arus dana produk exchange-traded fund (ETF) berbasis aset kripto di Amerika Serikat.

ETF Bitcoin dan Ethereum di AS mencatatkan arus masuk bersih sekitar US$2,71 miliar pada pekan yang berakhir 24 Agustus. Dari jumlah tersebut, Bitcoin menyumbang sekitar US$1,92 miliar.

Besarnya arus dana tersebut sebelumnya menjadi indikasi bahwa minat investor institusional terhadap aset kripto masih kuat. Aliran modal ke ETF juga dapat memberikan dukungan terhadap permintaan Bitcoin di pasar spot.

Namun, momentum tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Berdasarkan data Farside Investors, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$201,9 juta pada 28 Agustus. Kondisi tersebut terjadi setelah produk investasi tersebut sebelumnya mencatat arus masuk selama beberapa hari.

Perubahan arus dana ETF menjadi penting karena investor institusional kini memiliki peran yang semakin besar dalam pasar Bitcoin. Jika arus masuk kembali menguat ketika Bitcoin berada di area US$77.000 hingga US$80.000, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa investor besar masih melihat koreksi sebagai peluang untuk melakukan akumulasi.

Sebaliknya, arus keluar yang berkelanjutan dapat meningkatkan tekanan jual dan membuat Bitcoin kesulitan untuk kembali mempertahankan level psikologis US$80.000.

Kebijakan The Fed Jadi Faktor Berikutnya

Selain ETF, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.

Yudhono menilai pasar akan mencermati perkembangan inflasi dan data tenaga kerja AS menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026.

Sikap The Fed terhadap inflasi dapat memengaruhi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Apabila inflasi masih berada di atas target, ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat menjadi lebih terbatas.

Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus sebelumnya dipandang bernada hawkish. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa inflasi AS masih berada di atas target 2 persen.

Sikap yang lebih ketat dari bank sentral dapat menjadi tekanan bagi aset berisiko karena investor berpotensi mempertahankan dana pada instrumen yang dianggap lebih aman atau memberikan imbal hasil yang lebih menarik.

Sebaliknya, apabila data ekonomi menunjukkan bahwa pertumbuhan mulai melambat sementara inflasi tetap terkendali, pasar dapat kembali memperkirakan adanya ruang pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Volatilitas Bitcoin Diperkirakan Tetap Tinggi

Perkembangan data ekonomi AS diperkirakan membuat volatilitas Bitcoin tetap tinggi sepanjang September. Investor akan semakin sensitif terhadap publikasi data inflasi, tenaga kerja, serta berbagai indikator ekonomi yang dapat memengaruhi keputusan The Fed.

Yudhono memperkirakan kondisi tersebut akan membuat pergerakan Bitcoin sangat bergantung pada kombinasi faktor makroekonomi dan arus modal institusional.

“Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka,” ujarnya.

Sebaliknya, inflasi yang bertahan pada level tinggi dapat memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin. Kondisi tersebut dapat mempersempit peluang pelonggaran kebijakan moneter AS sehingga sentimen terhadap aset berisiko berpotensi tetap terbebani.

Dengan demikian, investor perlu memperhatikan bukan hanya pergerakan harga Bitcoin secara harian, tetapi juga data ekonomi yang dapat menjadi katalis bagi pasar.

US$80.000 Menjadi Level Kunci

Dari perspektif teknikal, area US$80.000 hingga US$81.000 menjadi zona penting dalam menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.

Apabila Bitcoin mampu menembus area tersebut dan mempertahankan perdagangan di atasnya, momentum penguatan berpotensi kembali terbentuk. Kondisi tersebut akan menunjukkan bahwa tekanan jual di sekitar US$80.000 mulai berhasil diatasi.

Sebaliknya, apabila Bitcoin kembali gagal melewati US$80.000, aset kripto tersebut berpotensi melanjutkan fase konsolidasi sambil menunggu katalis baru dari pasar.

Level tersebut memiliki arti penting karena sebelumnya Bitcoin telah berhasil mencapai US$81.235 setelah mengalami kenaikan sekitar 26 persen dari US$62.700. Kegagalan mempertahankan area tersebut kemudian menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih melakukan tarik-menarik antara tekanan jual dan minat beli.

“Pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke 80.000 dolar AS. Yang lebih penting adalah apakah 80.000 dolar AS nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support,” kata Yudhono.

Dalam analisis teknikal, resistance merupakan area harga yang cenderung menahan kenaikan karena tekanan jual meningkat. Sementara itu, support merupakan area yang cenderung menahan penurunan karena minat beli mulai muncul.

Bagi Harga Bitcoin September 2026, perubahan fungsi US$80.000 dari resistance menjadi support akan menjadi salah satu indikator penting untuk melihat keberlanjutan tren penguatan. Jika level tersebut berhasil dipertahankan sebagai support, peluang terbentuknya momentum positif baru dapat meningkat.

Namun, apabila Bitcoin terus berada di bawah US$80.000 dan arus dana ETF tetap melemah, pasar perlu bersiap menghadapi periode konsolidasi yang lebih panjang.

Dengan demikian, pergerakan Bitcoin pada September akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni arah arus dana ETF dan kebijakan moneter AS. Data inflasi serta tenaga kerja menjelang pertemuan FOMC juga berpotensi menjadi pemicu volatilitas baru. Investor perlu mencermati perkembangan tersebut sebelum menarik kesimpulan mengenai arah Bitcoin berikutnya.