Tabengan.com – Gedung GMP Telkom berpeluang dimanfaatkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui skema kerja sama business to business (B2B). Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dalam mengoptimalkan aset perusahaan sekaligus menata kembali kebutuhan ruang kerja di lingkungan TelkomGroup. Meski demikian, proses pemanfaatan gedung masih berada pada tahap negosiasi dan pembahasan antara kedua belah pihak.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, pemanfaatan Gedung GMP merupakan salah satu bentuk optimalisasi aset atau leveraging asset yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Selain membuka peluang pendapatan dari penyewaan gedung, kerja sama tersebut juga berpotensi menghadirkan kesempatan bisnis baru melalui penyediaan layanan konektivitas dan solusi digital milik TelkomGroup.
“Bagi TelkomGroup, rencana penyewaan Gedung GMP oleh BGN merupakan bentuk leveraging asset yang dapat menghadirkan peluang bisnis baru, termasuk melalui penyediaan layanan konektivitas dan solusi digital unggulan yang kami miliki,” ujar Dian dalam keterangan resmi Telkom, Selasa (8/9/2026).
Menurut Dian, rencana tersebut berawal dari surat resmi yang disampaikan BGN kepada Telkom mengenai kebutuhan ruang kerja. Berdasarkan hasil survei dan diskusi yang dilakukan kedua pihak, BGN mengusulkan pemanfaatan Gedung GMP sebagai kantor beserta sejumlah fasilitas workstation standar.
Namun, realisasi pemanfaatan gedung tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Telkom menegaskan seluruh proses masih bergantung pada hasil pembahasan dan negosiasi yang tengah berlangsung.
Selain itu, perpindahan akan dilakukan secara bertahap setelah penataan unit-unit kerja Telkom selesai dan seluruh peralatan kerja yang saat ini berada di Gedung GMP dipindahkan ke lokasi yang telah disepakati bersama.
Dian menjelaskan bahwa optimalisasi aset tersebut juga menjadi momentum bagi Telkom untuk melakukan penataan ruang kerja di lingkungan TelkomGroup. Saat ini, sejumlah unit yang memiliki keterkaitan fungsi bisnis masih tersebar di berbagai lokasi di Jakarta.
Melalui proses penataan tersebut, Telkom ingin mengelompokkan unit kerja berdasarkan karakteristik dan alur bisnis masing-masing agar koordinasi antartim dapat berlangsung lebih efektif.
“Saat ini sejumlah unit yang saling berkaitan masih tersebar di berbagai lokasi kerja di Jakarta. Melalui penataan ini, kami ingin menciptakan lingkungan kerja yang lebih terintegrasi sesuai stream masing-masing unit sehingga kolaborasi semakin mudah, proses kerja lebih efektif, dan produktivitas karyawan meningkat,” jelas Dian.
Menurutnya, penataan lokasi kerja merupakan bagian dari transformasi organisasi yang terus dijalankan TelkomGroup. Perusahaan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memetakan kembali kebutuhan fasilitas kerja sesuai perkembangan organisasi dan strategi bisnis.
Dengan pengelompokan unit berdasarkan fungsi dan karakteristik bisnis, Telkom berharap proses koordinasi dapat berlangsung lebih cepat sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Meski tengah melakukan penataan ruang kerja, Telkom memastikan seluruh layanan kepada pelanggan tetap berjalan normal. Perusahaan juga menegaskan bahwa aspek keamanan, keselamatan, serta kenyamanan karyawan menjadi perhatian utama selama proses transisi berlangsung.
Dian mengatakan, perpindahan unit kerja maupun pemanfaatan Gedung GMP baru akan dilakukan setelah seluruh tahapan penataan selesai dan memperoleh kesepakatan dari seluruh pihak terkait.
“Berdasarkan hasil survei dan diskusi bersama Telkom, BGN menyampaikan rencana pemanfaatan Gedung GMP untuk ruang kerja serta beberapa fasilitas workstation standar. Pemanfaatan tersebut akan dilakukan setelah proses penataan unit-unit di Telkom dan pemindahan peralatan kerja existing ke lokasi yang telah disepakati bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh proses optimalisasi aset perusahaan akan tetap mengacu pada prinsip Good Corporate Governance (GCG). Prinsip tata kelola perusahaan yang baik menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk terkait pengelolaan aset maupun perubahan lokasi kerja.
Di sisi lain, Telkom juga terus menjalankan program modernisasi Telkom Integrated Operation Center (TIOC). Program tersebut merupakan bagian dari pengembangan teknologi operasional perusahaan dan tidak berkaitan langsung dengan rencana pemanfaatan Gedung GMP oleh BGN.
Modernisasi TIOC dilakukan melalui penerapan teknologi terbaru seperti otomasi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta sistem pemantauan generasi terbaru untuk meningkatkan kemampuan operasional perusahaan dalam mengelola jaringan dan layanan digital.
Telkom menegaskan bahwa program modernisasi TIOC memiliki perencanaan tersendiri dan berjalan secara paralel dengan upaya optimalisasi aset perusahaan.
Dengan demikian, pemanfaatan Gedung GMP Telkom lebih difokuskan pada pengelolaan aset dan penataan ruang kerja, sedangkan pengembangan TIOC merupakan bagian dari strategi transformasi teknologi perusahaan.
Selain memberikan manfaat dari sisi properti, kerja sama dengan BGN juga dinilai membuka peluang bagi TelkomGroup untuk memperluas penyediaan layanan digital. Sebagai perusahaan digital telekomunikasi, Telkom memiliki kesempatan menawarkan berbagai solusi konektivitas yang dapat mendukung operasional instansi tersebut.
Meski demikian, Telkom belum mengungkapkan nilai investasi, skema komersial, maupun rincian layanan digital yang akan disediakan karena seluruh pembahasan masih berada dalam tahap negosiasi.
Ke depan, perusahaan berharap optimalisasi Gedung GMP Telkom dapat berjalan seiring dengan penataan organisasi dan transformasi bisnis yang sedang dilakukan. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas internal, memaksimalkan pemanfaatan aset perusahaan, sekaligus membuka peluang bisnis baru tanpa mengganggu keberlangsungan operasional maupun kualitas layanan kepada pelanggan.





