Tabengan.com – GoPro merger Starman Optical menjadi langkah strategis terbaru produsen kamera aksi asal Amerika Serikat tersebut untuk memperluas bisnis di luar pasar consumer electronics. GoPro mengumumkan rencana merger definitif dengan Starman Optical, perusahaan fotonik swasta, sekaligus membuka peluang ekspansi ke sektor pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) dan industri pertahanan.
Pengumuman tersebut disampaikan GoPro pada Selasa, 1 September. Melalui kesepakatan ini, perusahaan ingin memosisikan diri sebagai perusahaan teknologi pencitraan dan optik yang tidak hanya melayani konsumen, tetapi juga pasar komersial serta kebutuhan pertahanan.
CEO GoPro Nicholas Woodman mengatakan merger tersebut diharapkan dapat membuka ruang pertumbuhan baru bagi perusahaan. Menurutnya, kombinasi teknologi GoPro dan Starman Optical dapat mendukung pengembangan solusi pencitraan, optik, hingga infrastruktur AI yang berkaitan dengan kepentingan strategis Amerika Serikat.
“Kami berharap merger ini memungkinkan GoPro untuk tumbuh di pasar konsumen, komersial, dan pertahanan sebagai perusahaan solusi pencitraan dan optik terkemuka asal Amerika,” ujar Woodman dalam pernyataan resmi perusahaan.
Pasar langsung merespons positif pengumuman tersebut. Harga saham GoPro dilaporkan ditutup dengan kenaikan sekitar 40 persen setelah kabar merger mencuat. Kendati demikian, GoPro belum memberikan informasi lebih terperinci mengenai strategi bisnis yang akan dijalankan setelah transaksi rampung.
Dalam kesepakatan tersebut, pemegang saham GoPro akan menerima pembayaran tunai dengan nilai total sekitar US$285 juta atau setara US$1,14 per saham. Saham GoPro juga disebut akan tetap diperdagangkan di bursa Nasdaq.
Salah satu pihak yang berpotensi memperoleh keuntungan dari transaksi tersebut adalah YouTuber Markiplier. Berdasarkan dokumen pengungkapan informasi tertanggal 13 Juli, Markiplier tercatat memiliki sekitar 8,5 persen saham GoPro. Sementara itu, perusahaan investasi BlackRock dilaporkan mempunyai kepemilikan sekitar 6,4 persen pada awal musim panas tahun ini.
Langkah ekspansi tersebut tidak terlepas dari kondisi bisnis GoPro yang menghadapi tekanan cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Sejak melakukan penawaran umum perdana pada 2014 dengan harga US$38 per saham, perusahaan mengalami perjalanan yang berliku di pasar modal. Harga sahamnya bahkan sempat jatuh ke level yang sangat rendah sebelum kembali mengalami lonjakan setelah pengumuman merger.
GoPro juga menyatakan bahwa utang perusahaan senilai sekitar US$92 juta akan dilunasi ketika transaksi diselesaikan. Di sisi lain, perusahaan memastikan produk konsumennya tetap mendapatkan dukungan. Platform berlangganan dan layanan cloud GoPro juga akan terus dikembangkan.
Perubahan arah bisnis ini menjadi semakin penting karena posisi GoPro di industri action camera mengalami tekanan dari kompetitor asal China, terutama DJI dan Insta360. Kedua perusahaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir berkembang agresif dan berhasil mengambil porsi besar dalam pasar perangkat pencitraan portabel.
Berdasarkan laporan IDC, pengiriman kamera pintar genggam secara global mencapai sekitar 4,14 juta unit pada kuartal pertama. Kategori tersebut mencakup perangkat portabel dengan kemampuan komputasi terintegrasi, fitur stabilisasi, serta resolusi minimal 2K.
Pasar kamera pintar genggam tidak hanya mencakup action camera seperti seri GoPro Hero. Perangkat dalam kategori tersebut juga meliputi kamera gimbal berukuran saku seperti DJI Pocket dan kamera panorama dari Insta360.
Nilai penjualan kategori ini pada periode tersebut dilaporkan mencapai lebih dari 10,5 miliar yuan atau sekitar US$1,46 miliar. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
IDC juga memperkirakan pengiriman perangkat kamera pintar genggam secara global dapat menembus lebih dari 40 juta unit pada 2030. Proyeksi tersebut mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan hampir 18 persen dalam periode lima tahun.
Namun, pertumbuhan pasar tersebut tidak secara otomatis memberikan keuntungan bagi GoPro. Persaingan semakin ketat karena DJI dan Insta360 berhasil menarik minat konsumen dengan portofolio produk yang luas serta inovasi teknologi pencitraan.
Kedua perusahaan China itu bahkan menguasai gabungan sekitar 87 persen pangsa pasar pada kuartal pertama. DJI menjadi pemain terbesar dengan pangsa sekitar 65 persen setelah mengirimkan sekitar 2,7 juta unit, atau tumbuh 38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dominasi tersebut membuat ruang pertumbuhan GoPro di pasar action camera semakin terbatas. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa ekspansi ke bidang baru seperti pusat data AI, teknologi optik, dan pertahanan dapat menjadi strategi penting bagi perusahaan.
Melalui GoPro merger Starman Optical, perusahaan berupaya memanfaatkan kompetensi di bidang pencitraan dan optik untuk masuk ke pasar dengan karakteristik berbeda dari bisnis kamera konsumen. Pusat data AI dan sektor pertahanan memiliki kebutuhan teknologi yang semakin besar terhadap sistem optik, sensor, pencitraan, serta infrastruktur berkemampuan tinggi.
Dengan demikian, GoPro tidak sepenuhnya meninggalkan bisnis kamera konsumennya. Perusahaan justru mencoba membangun sumber pertumbuhan baru sembari mempertahankan produk, layanan berlangganan, dan platform cloud yang telah dimilikinya.
Keberhasilan strategi tersebut masih akan bergantung pada kemampuan GoPro mengintegrasikan Starman Optical dan mengubah teknologi fotonik menjadi produk atau solusi yang memiliki nilai komersial. Jika berhasil, merger ini dapat menjadi titik perubahan bagi GoPro setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan di pasar kamera aksi.
Di tengah dominasi DJI dan Insta360, diversifikasi bisnis menjadi pilihan yang dapat membantu GoPro mengurangi ketergantungan terhadap pasar consumer electronics. Ekspansi menuju pusat data AI dan pertahanan juga menempatkan perusahaan pada persaingan teknologi yang lebih luas, khususnya dalam pengembangan solusi pencitraan dan optik untuk kebutuhan komersial maupun strategis.











