Tabengan.com – Tren menggunakan kecerdasan buatan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari semakin meluas, termasuk untuk membuat kata sandi. Namun temuan terbaru menunjukkan bahwa password dari AI ternyata tidak seaman yang dibayangkan.
Perusahaan keamanan siber Irregular menemukan bahwa password dari AI seperti Claude, ChatGPT, dan Gemini memang terlihat rumit, tetapi sebenarnya memiliki pola yang mudah ditebak. Temuan ini memicu kekhawatiran karena banyak pengguna mulai mengandalkan AI untuk menghasilkan kata sandi yang dianggap lebih kompleks.
Dalam analisisnya, Irregular meminta beberapa model AI membuat password enam karakter yang mengandung kombinasi huruf, angka, dan simbol. Sekilas, hasilnya tampak memenuhi kriteria kompleksitas. Namun setelah dianalisis lebih dalam, muncul pola berulang yang mengurangi tingkat keamanan.
Banyak Duplikasi dan Pola Konsisten
Pada pengujian terhadap Claude Opus 4.6, dari 50 password yang dihasilkan, hanya 30 yang benar-benar unik. Sebanyak 20 lainnya merupakan duplikasi, bahkan 18 di antaranya identik secara persis.
Artinya, password dari AI tidak benar-benar acak. Jika dalam 50 percobaan saja sudah muncul banyak kesamaan, maka risiko tebakan otomatis oleh peretas menjadi lebih besar.
Masalah lain adalah pola yang terlalu konsisten. Claude hampir selalu memulai password dengan huruf, sering kali huruf kapital “G”, lalu diikuti angka “7”. Karakter seperti “L”, “9”, “m”, “2”, “$”, dan “#” terus muncul berulang, sementara banyak huruf alfabet tidak pernah digunakan sama sekali.
ChatGPT menunjukkan kecenderungan serupa. Hampir semua password dari AI yang dihasilkan model ini dimulai dengan huruf “v”, dan hampir separuhnya menggunakan “Q” sebagai karakter kedua.
Sementara itu, Gemini cenderung memulai dengan huruf “k”, baik kecil maupun besar, serta sering menempatkan kombinasi “#”, “P”, atau “9” di bagian awal. Pola seperti ini membuat password dari AI menjadi lebih mudah diprediksi secara statistik.
Tidak Ada Karakter Berulang
Irregular juga mencatat bahwa tidak satu pun dari 50 password yang diuji mengandung karakter berulang. Sekilas hal ini terlihat positif karena menghindari pola sederhana seperti “aa” atau “11”.
Namun secara probabilitas, tidak adanya karakter berulang justru menjadi indikator pola yang tidak alami. Dalam sistem acak murni, kemungkinan munculnya karakter yang sama tetap ada. Ketika hal itu tidak terjadi sama sekali, justru menandakan adanya batasan pola tertentu.
Peneliti menjelaskan akar persoalan terletak pada cara kerja large language model (LLM). Model seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini dirancang untuk menghasilkan teks yang masuk akal berdasarkan probabilitas statistik, bukan menciptakan angka acak murni seperti yang dibutuhkan dalam pembuatan kata sandi.
Entropi Rendah, Risiko Tinggi
Dalam dunia keamanan siber, kekuatan password ditentukan oleh tingkat keacakan atau entropi. Semakin tinggi entropinya, semakin sulit ditebak.
Password dari AI mungkin terlihat kompleks karena mengandung kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol. Namun jika pola kemunculannya bisa ditebak, maka entropinya sebenarnya rendah.
Laporan Techspot menyebut bahwa kelemahan ini bersifat mendasar. Artinya, masalah pada password dari AI tidak bisa diperbaiki hanya dengan mengubah prompt atau pengaturan parameter model.
Irregular menegaskan bahwa pengguna maupun pengembang sebaiknya tidak mengandalkan AI untuk membuat kata sandi. Sistem LLM memang pintar dalam menyusun bahasa, tetapi tidak dirancang untuk menghasilkan string acak tingkat tinggi seperti generator kriptografi.
Gunakan Password Manager
Sebagai alternatif, pakar keamanan menyarankan penggunaan password manager yang memiliki generator acak berbasis kriptografi. Sistem ini dirancang khusus untuk menciptakan kombinasi karakter dengan entropi tinggi dan tanpa pola prediktif.
Selain itu, penggunaan autentikasi dua faktor (2FA) tetap menjadi lapisan perlindungan penting untuk mengurangi risiko pembobolan akun.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa meskipun password dari AI terdengar modern dan praktis, tidak semua solusi berbasis kecerdasan buatan cocok untuk kebutuhan krusial seperti keamanan akun digital.
AI memang dapat membantu banyak hal, tetapi untuk urusan keamanan, keacakan sejati masih menjadi kunci utama.





