Smartphone

Galaxy Z Fold8 Hanya 201 Gram, Ini Teknologi yang Membuatnya Lebih Ringan

105
×

Galaxy Z Fold8 Hanya 201 Gram, Ini Teknologi yang Membuatnya Lebih Ringan

Sebarkan artikel ini
Galaxy Z Fold8 Hanya 201 Gram, Ini Teknologi yang Membuatnya Lebih Ringan

Tabengan.com – Galaxy Z Fold8 membawa perubahan signifikan pada bobot smartphone lipat Samsung. Perangkat tersebut memiliki bobot hanya 201 gram, turun 52 gram dibandingkan Galaxy Z Fold5 yang memiliki bobot 253 gram. Samsung Indonesia mengungkap bahwa pencapaian tersebut tidak diperoleh hanya dengan mengecilkan ukuran komponen, tetapi melalui rekayasa ulang arsitektur internal, penggunaan material khusus, hingga proses manufaktur dengan tingkat presisi tinggi.

Penurunan bobot menjadi salah satu tantangan penting dalam pengembangan smartphone lipat. Perangkat foldable umumnya memiliki struktur lebih kompleks dibandingkan smartphone konvensional karena harus mengakomodasi dua bagian bodi, layar fleksibel, engsel, serta berbagai komponen pendukung.

Berdasarkan riset eksternal YouGov pada 2024, dimensi perangkat yang tebal dan bobot yang berat masih menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian konsumen ragu beralih ke smartphone lipat. Di sisi lain, pengguna tetap menempatkan daya tahan baterai, ketahanan fisik, dan kualitas layar sebagai pertimbangan penting ketika memilih smartphone.

Samsung kemudian berupaya mencari titik keseimbangan antara bobot, ketahanan, performa, dan kapasitas perangkat. Hasilnya terlihat pada generasi terbaru lini Galaxy Z Fold yang membawa pendekatan berbeda dalam pengelolaan ruang internal.

Galaxy Z Fold8 Gunakan Material Flex Titanium

Salah satu teknologi yang berperan dalam pengurangan bobot terdapat pada struktur penopang layar dan mekanisme engsel. Samsung menggunakan teknologi Flex Titanium yang mengintegrasikan Titanium Alloy Film pada struktur layar lipat.

Lapisan tersebut dirancang secara khusus untuk kebutuhan layar fleksibel. Ketebalannya hanya berada pada kisaran puluhan mikrometer atau sekitar sepertiga dari lebar rambut manusia.

Meski sangat tipis, material tersebut dirancang untuk mempertahankan fleksibilitas sekaligus mendukung ketahanan struktur layar. Penggunaan material dengan karakteristik tersebut memungkinkan Samsung mengurangi penggunaan material berlebih tanpa mengabaikan kebutuhan struktural perangkat.

Selain lapisan titanium, pelat logam yang berfungsi menopang layar juga dibuat menggunakan teknik ultra-thin metal precision machining. Ketebalan pelat tersebut dapat mencapai 0,2 milimeter, sedangkan bagian tertentu dibuat lebih tipis hingga 0,15 milimeter.

Proses tersebut membutuhkan tingkat presisi tinggi. Material logam dengan ketebalan sangat rendah memiliki risiko mengalami perubahan bentuk atau kelengkungan selama proses produksi.

Untuk mengatasinya, Samsung membagi proses perakitan ke dalam beberapa tahapan. Parameter machining, perkakas produksi, hingga proses pendinginan dikontrol secara ketat agar komponen tetap memiliki bentuk dan karakteristik sesuai rancangan.

Rangka Galaxy Z Fold8 Gunakan Material Khusus

Pengurangan bobot juga dilakukan pada bagian eksterior perangkat. Samsung menggunakan Advanced Armor Aluminum pada bagian rangka.

Material tersebut dipadukan dengan Clad Metal pada bagian dalam panel belakang. Penggunaan kombinasi material dengan karakteristik berbeda bertujuan menghasilkan struktur yang tetap kokoh tanpa memberikan tambahan bobot secara berlebihan.

Samsung juga mempertimbangkan pengelolaan panas dalam rancangan tersebut. Material yang digunakan turut membantu proses pelepasan panas dari komponen internal.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengurangan bobot pada smartphone lipat tidak dilakukan dengan mengorbankan satu aspek saja. Samsung perlu mengoptimalkan berbagai komponen secara bersamaan agar perangkat tetap memenuhi kebutuhan performa dan durabilitas.

Samsung Evaluasi Ratusan Komponen

Di balik bobot Galaxy Z Fold8 yang mencapai 201 gram, Samsung melakukan evaluasi terhadap struktur internal perangkat secara sangat detail.

Tim engineering Samsung mengevaluasi sekitar 270 komponen utama serta lebih dari 180 jenis bagian pendukung. Komponen yang ditinjau mencakup Printed Circuit Board atau PCB, struktur antena, bracket, pita perekat, hingga fastener.

Evaluasi tersebut dilakukan untuk mencari ruang dan bobot yang masih dapat dioptimalkan. Samsung bahkan menghilangkan sekitar 15 jenis komponen pendukung dari arsitektur perangkat.

Selain mengurangi jumlah komponen, Samsung juga merancang ulang sejumlah bagian agar memiliki bentuk dan ukuran yang lebih efisien. Optimalisasi dilakukan pada footprint PCB serta sistem antena Magnetic Flux Channel atau MFC.

Proses pengurangan material juga dilakukan pada skala yang sangat kecil. Penyesuaian terhadap sejumlah bagian pendukung dilakukan dengan tingkat presisi hingga 0,1 milimeter dan 0,001 gram.

Jika dilakukan pada ratusan komponen, penghematan dalam skala kecil tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan bobot keseluruhan perangkat.

Bobot Turun, Ruang Internal Justru Bertambah

Menariknya, efisiensi ruang internal tidak hanya dimanfaatkan Samsung untuk membuat perangkat lebih ringan. Ruang yang berhasil dihemat kemudian dialokasikan kembali untuk meningkatkan sejumlah spesifikasi.

Pada Galaxy Z Fold8 Ultra, misalnya, efisiensi arsitektur internal memungkinkan Samsung meningkatkan kapasitas baterai hingga 5.000mAh. Kapasitas tersebut lebih besar dibandingkan 4.400mAh pada generasi sebelumnya.

Samsung juga menambah volume lapisan grafit untuk sistem pembuangan panas hingga 7%. Langkah tersebut diperlukan untuk membantu menjaga temperatur komponen ketika perangkat menjalankan beban kerja tinggi.

Selain baterai dan sistem termal, ruang internal juga dimanfaatkan untuk mendukung konfigurasi kamera yang lebih tinggi. Perangkat membawa kamera utama beresolusi 200MP serta kamera Ultra-Wide 50MP.

Dengan demikian, pengurangan bobot tidak semata-mata bertujuan menghasilkan smartphone lipat yang lebih ringan. Samsung mencoba menggunakan kembali ruang yang berhasil dihemat untuk menambah kapasitas dan kemampuan perangkat.

Galaxy Z Fold8 Lebih Ringan dari Smartphone Flagship Tertentu

Bobot 201 gram menjadi salah satu pencapaian penting karena smartphone lipat secara historis memiliki konstruksi yang lebih kompleks dibandingkan smartphone bar-type.

Galaxy Z Fold5 memiliki bobot 253 gram. Dengan generasi terbaru, Samsung berhasil memangkas angka tersebut hingga 52 gram.

Penurunan tersebut membuat perangkat foldable semakin mendekati karakter smartphone konvensional dari sisi kenyamanan mobilitas. Bobot yang lebih rendah juga berpotensi membuat perangkat lebih nyaman dibawa dalam waktu lama, terutama bagi pengguna yang sering berpindah tempat.

Perubahan ini penting karena bobot dan ketebalan selama ini menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan adopsi smartphone lipat. Konsumen menginginkan layar besar dan fleksibilitas perangkat foldable, tetapi pada saat yang sama tidak ingin membawa perangkat yang terasa terlalu berat.

Rekayasa Presisi Jadi Kunci

Pencapaian bobot Galaxy Z Fold8 memperlihatkan bahwa pengembangan smartphone lipat telah memasuki tahap optimasi yang semakin detail. Samsung tidak hanya mengandalkan satu material atau satu komponen untuk mengurangi bobot.

Sebaliknya, penghematan dilakukan melalui kombinasi penggunaan titanium, material aluminium, Clad Metal, machining presisi, optimalisasi PCB, perancangan ulang antena, hingga penghapusan komponen pendukung yang dianggap tidak lagi diperlukan.

Setiap penghematan dalam skala kecil kemudian dikumpulkan untuk menghasilkan pengurangan bobot yang signifikan pada tingkat perangkat.

Pendekatan tersebut juga memperlihatkan tantangan manufaktur smartphone lipat. Komponen yang sangat tipis membutuhkan proses produksi dengan toleransi yang ketat agar tidak mengalami deformasi dan tetap dapat menjalankan fungsi sesuai rancangan.

Samsung harus memastikan bahwa pengurangan material tidak berdampak negatif terhadap kekuatan struktur, kemampuan pembuangan panas, ketahanan layar, maupun performa perangkat.

Arah Baru Smartphone Lipat Samsung

Dengan bobot 201 gram, Galaxy Z Fold8 menunjukkan arah pengembangan smartphone lipat yang semakin berfokus pada efisiensi. Jika generasi awal foldable banyak menghadapi tantangan terkait ketebalan dan bobot, generasi terbaru mulai mengejar pengalaman penggunaan yang semakin mendekati smartphone konvensional.

Samsung juga menunjukkan bahwa ruang internal yang berhasil dihemat dapat digunakan untuk meningkatkan fitur lain. Baterai yang lebih besar, sistem pendinginan yang lebih luas, serta sensor kamera beresolusi tinggi dapat ditempatkan tanpa harus menambah bobot secara signifikan.

Perkembangan tersebut berpotensi memperluas daya tarik smartphone lipat bagi konsumen yang sebelumnya masih mempertimbangkan faktor bobot sebagai hambatan.

Pada akhirnya, bobot ringan bukan sekadar angka pada lembar spesifikasi. Bagi perangkat foldable, efisiensi bobot berkaitan langsung dengan kenyamanan ketika digunakan dan dibawa sehari-hari.

Rekayasa material serta optimalisasi komponen yang dilakukan Samsung pada Galaxy Z Fold8 memperlihatkan bagaimana produsen harus mengoptimalkan setiap bagian perangkat hingga tingkat mikroskopis. Dari material titanium dengan ketebalan puluhan mikrometer hingga penyesuaian komponen pada skala 0,001 gram, setiap penghematan berkontribusi terhadap pencapaian bobot akhir 201 gram.

Jika tren tersebut terus berlanjut, smartphone lipat berpotensi semakin sulit dibedakan dari smartphone flagship konvensional dalam hal kenyamanan mobilitas, sekaligus tetap mempertahankan keunggulan utama berupa layar yang dapat dilipat.