Berita

Pasar Smartphone Layar Lipat Semakin Penuh, Apple Resmi Masuk dengan iPhone Duo

103
×

Pasar Smartphone Layar Lipat Semakin Penuh, Apple Resmi Masuk dengan iPhone Duo

Sebarkan artikel ini
Pasar Smartphone Layar Lipat Semakin Penuh, Apple Resmi Masuk dengan iPhone Duo

Tabengan.com – Pasar Smartphone Layar Lipat semakin ramai sepanjang 2026. Sejumlah produsen besar mulai memperkuat posisi di segmen ponsel premium dengan menghadirkan perangkat lipat generasi terbaru, mulai dari Huawei, Xiaomi, Samsung, hingga Apple yang akhirnya resmi memasuki kategori tersebut melalui iPhone Duo.

Persaingan semakin menarik karena para vendor tidak lagi hanya menawarkan smartphone yang bisa dilipat menjadi perangkat berukuran lebih ringkas. Teknologi engsel, ketahanan perangkat, performa chip, kemampuan multitasking, hingga ukuran layar yang mendekati tablet kini menjadi bagian penting dalam strategi masing-masing produsen.

Huawei dan Xiaomi menjadi dua perusahaan yang lebih dahulu memperlihatkan produk terbarunya pada awal September. Kedua perusahaan tersebut memperkenalkan perangkat kelas atas masing-masing pada Senin, 7 September, hanya beberapa hari sebelum Apple menggelar acara peluncuran produk terbarunya.

Huawei membawa Mate XT2, smartphone lipat tiga yang dirancang agar dapat dibuka dari dua sisi. Ketika dibentangkan sepenuhnya, perangkat tersebut menawarkan bidang layar berukuran besar yang dapat digunakan menyerupai tablet.

Mate XT2 ditenagai chip Kirin 9050 Pro. Huawei juga melakukan sejumlah pembaruan pada sisi desain, termasuk penggunaan engsel baru serta peningkatan perlindungan terhadap debu dan air.

Salah satu fitur yang menjadi perhatian adalah teknologi layar privasi. Fitur tersebut dirancang untuk membatasi pandangan orang di sekitar ketika pengguna sedang melihat informasi pada layar.

Huawei menjadwalkan penjualan Mate XT2 mulai 12 September. Harganya berada pada kisaran 19.999 yuan hingga 24.999 yuan untuk varian dengan spesifikasi tertinggi.

Harga tersebut menunjukkan bahwa perangkat lipat tiga masih berada di kategori premium dengan biaya produksi yang relatif tinggi. Direktur Eksekutif Huawei, Richard Yu, menyebut kenaikan biaya memori menjadi salah satu tantangan dalam menentukan harga perangkat.

Huawei juga mengembangkan pendekatan baru pada desain chip yang disebut LogicFolding. Teknologi tersebut menjadi bagian dari kerangka Tau Scaling Law yang diperkenalkan perusahaan sebelumnya untuk mendorong pengembangan teknologi semikonduktor di tengah berbagai pembatasan ekspor dari Amerika Serikat.

Xiaomi Hadirkan Pesaing Baru

Tidak ingin tertinggal dalam Pasar Smartphone Layar Lipat, Xiaomi juga memperkenalkan perangkat flagship terbarunya, Xiaomi 18 Fold.

Xiaomi menempatkan 18 Fold sebagai salah satu perangkat paling canggih yang pernah mereka hadirkan. Ketika dalam kondisi terlipat, smartphone tersebut memiliki ukuran yang relatif ringkas sehingga dapat dibawa di dalam saku. Sementara ketika dibuka, layarnya mampu menjalankan hingga tiga aplikasi secara bersamaan.

Kemampuan multitasking tersebut menjadi salah satu keunggulan yang coba ditawarkan Xiaomi untuk menarik konsumen premium. Perangkat lipat saat ini tidak lagi sekadar menawarkan bentuk yang berbeda, tetapi juga berusaha menggantikan sebagian fungsi tablet untuk aktivitas produktivitas.

Xiaomi 18 Fold menggunakan prosesor AI XRing O3 yang dikembangkan secara internal. Perangkat tersebut juga memanfaatkan memori DRAM dari CXMT, salah satu produsen chip asal China.

Untuk harganya, Xiaomi 18 Fold ditawarkan mulai 10.999 yuan hingga 14.999 yuan, tergantung konfigurasi yang dipilih.

CEO Xiaomi Lei Jun turut membandingkan perangkat tersebut dengan jajaran iPhone Pro Max milik Apple. Menurutnya, Xiaomi 18 Fold memiliki bobot yang lebih ringan, sementara prosesor XRing O3 diklaim mampu memberikan responsivitas yang lebih tinggi dibandingkan A19 Pro milik Apple.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan dalam Pasar Smartphone Layar Lipat tidak hanya berkaitan dengan desain. Performa chipset, efisiensi, bobot, kemampuan kecerdasan buatan, dan pengalaman penggunaan menjadi aspek yang semakin diperhitungkan.

Apple Resmi Masuk Lewat iPhone Duo

Persaingan kemudian memasuki babak baru setelah Apple memperkenalkan iPhone Duo pada acara peluncuran 9 September. Kehadiran perangkat tersebut menjadi salah satu langkah paling penting Apple di kategori smartphone lipat.

Apple selama bertahun-tahun belum memiliki perangkat foldable, sementara Samsung, Huawei, Xiaomi, dan sejumlah produsen China telah lebih dahulu mengembangkan kategori tersebut.

iPhone Duo hadir dengan layar utama berukuran 7,6 inci ketika perangkat dibuka. Sementara itu, layar luar berukuran 5,4 inci digunakan ketika smartphone berada dalam kondisi terlipat.

Kedua layar tersebut mendukung teknologi ProMotion dengan tingkat kecerahan puncak mencapai 3.000 nit. Apple juga memberikan perhatian besar terhadap konstruksi perangkat melalui penggunaan titanium pada bagian engsel dan sejumlah komponen pendukung.

Engsel iPhone Duo dilengkapi rangkaian magnet yang membantu perangkat menutup dengan rapat. Apple juga menggunakan teknologi perlindungan Ceramic Shield pada bagian belakang dan Ceramic Shield 2 pada layar depan.

Perangkat tersebut memiliki sertifikasi IP68 untuk perlindungan terhadap debu dan air. Pada layar lipatnya, Apple menggunakan lapisan pelindung antigores dan menempatkan panel di atas pelat berbahan titanium.

Apple juga menawarkan finishing nano-texture custom yang menghasilkan permukaan matte. Teknologi tersebut diklaim dapat membantu mengurangi visibilitas lipatan pada layar ketika perangkat digunakan.

Untuk kamera depan, Apple menempatkan kamera swafoto di bawah layar lipat. Sementara untuk keamanan, iPhone Duo dilengkapi Touch ID yang terintegrasi pada tombol samping.

A20 Pro Jadi Andalan Performa

Dari sisi performa, iPhone Duo menggunakan chipset A20 Pro, sama seperti yang digunakan pada iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max.

Chipset tersebut dibuat menggunakan proses fabrikasi 2 nanometer. A20 Pro memiliki CPU enam inti, GPU tujuh inti, serta NPU 16 inti ganda.

Dibandingkan A19 Pro, Apple mengklaim A20 Pro menawarkan peningkatan performa CPU hingga 20 persen. Performa GPU juga diklaim meningkat hingga 40 persen.

Apple turut meningkatkan kemampuan Neural Engine hingga dua kali lipat dan bandwidth memori terpadu sebesar 50 persen. Peningkatan tersebut menjadi penting karena perangkat lipat premium semakin banyak digunakan untuk multitasking dan berbagai fitur berbasis kecerdasan buatan.

Dengan masuknya Apple, Pasar Smartphone Layar Lipat kini memiliki salah satu pemain terbesar di industri smartphone. Apple berpotensi mengubah peta persaingan karena basis pengguna iPhone yang besar serta ekosistem perangkat keras dan perangkat lunaknya.

Samsung Tetap Menjadi Pemain Penting

Sebelum Apple memasuki kategori tersebut, Samsung telah lebih dahulu memperkuat portofolio perangkat lipatnya. Pada Juli 2026, perusahaan asal Korea Selatan tersebut memperkenalkan tiga perangkat lipat Galaxy Z generasi terbaru.

Langkah Samsung menunjukkan bahwa perusahaan tersebut masih berupaya mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemain utama di segmen foldable.

Samsung memiliki pengalaman lebih panjang dalam mengembangkan smartphone lipat dibandingkan Apple. Namun, masuknya Apple dapat meningkatkan tekanan kompetitif, terutama di pasar premium.

Huawei dan Xiaomi juga memiliki posisi yang kuat, khususnya di China. Keduanya terus menawarkan teknologi layar lipat dengan desain dan pendekatan berbeda.

Dengan demikian, Pasar Smartphone Layar Lipat kini tidak hanya mempertemukan produsen smartphone Android. Apple juga mulai menjadi bagian dari persaingan tersebut dengan pendekatan desain, chipset, dan ekosistem yang menjadi ciri khasnya.

Pasar Masih Menjadi Segmen Premium

Meski jumlah pemain terus bertambah, smartphone layar lipat sebenarnya masih menjadi bagian kecil dari keseluruhan pasar smartphone global.

Data proyeksi IDC untuk tahun ini memperkirakan perangkat foldable hanya mencakup sekitar 2,2 persen dari total pasar smartphone.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan teknologi layar lipat belum otomatis menjadikannya produk massal. Harga yang relatif tinggi masih menjadi salah satu faktor yang membatasi adopsi.

Omdia memperkirakan jumlah pengiriman perangkat layar lipat dapat mencapai sekitar 45 juta unit per tahun pada 2030. Namun, sekalipun proyeksi tersebut terealisasi, kontribusinya diperkirakan masih berada di bawah 3 persen dari keseluruhan pasar smartphone.

Omdia juga menilai perangkat foldable kemungkinan tetap menjadi segmen premium khusus dalam jangka panjang.

Salah satu faktor yang dapat mendorong pertumbuhan adalah semakin banyaknya perangkat dengan layar berukuran besar. Ketika dibuka, smartphone foldable dapat memberikan pengalaman yang lebih menyerupai tablet tanpa mengharuskan pengguna membawa dua perangkat berbeda.

Kondisi tersebut menjadi alasan bagi produsen untuk terus mengembangkan teknologi layar lipat. Huawei mencoba mendorong format tiga lipatan, Xiaomi menekankan produktivitas dan performa, Samsung memperluas portofolio Galaxy Z, sedangkan Apple membawa pendekatan khas ekosistem iPhone.

Pada akhirnya, Pasar Smartphone Layar Lipat memang semakin penuh dengan pemain besar, tetapi kategori tersebut masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar. Persaingan berikutnya kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mampu menghadirkan layar lipat paling inovatif, tetapi juga siapa yang mampu membuat teknologi tersebut lebih tipis, ringan, tahan lama, efisien, dan terjangkau.

Masuknya Apple menjadi titik penting dalam perkembangan industri ini. Dengan semakin banyaknya produsen papan atas yang berinvestasi di kategori foldable, teknologi smartphone layar lipat berpotensi berkembang dari produk premium khusus menjadi salah satu format penting dalam evolusi perangkat mobile.