Tabengan.com – Grab Holdings Ltd. kembali menegaskan dominasinya sebagai raja platform layanan antar makanan Asia Tenggara, mengungguli para pesaing utama di tengah persaingan bisnis food delivery yang kian ketat di kawasan ASEAN.
Berdasarkan laporan terbaru Momentum Works, pangsa pasar unit bisnis food-delivery Grab sepanjang 2025 meningkat menjadi 55 persen, naik dari 53,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini mencerminkan posisi Grab yang masih sulit digoyang di pasar regional yang mencakup Singapura, Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Secara keseluruhan, nilai transaksi industri platform layanan antar makanan Asia Tenggara tercatat mencapai US$22,7 miliar pada 2025, tumbuh sekitar 18 persen yoy.
ShopeeFood Geser Foodpanda di Posisi Kedua
Persaingan di bawah Grab tetap dinamis. Pada 2025, ShopeeFood berhasil menggeser Foodpanda dari posisi kedua berdasarkan nilai total transaksi penjualan barang atau Gross Merchandise Value (GMV).
Perubahan peringkat ini menunjukkan bagaimana strategi promosi agresif dan integrasi dengan ekosistem e-commerce masih menjadi senjata utama dalam perebutan pengguna layanan antar makanan di Asia Tenggara.
Momentum Works mencatat bahwa rivalitas antar pemain utama semakin sengit, terutama dalam upaya memperluas basis pengguna aktif dan meningkatkan frekuensi pemesanan.
Indonesia Jadi Kontributor GMV Terbesar
Khusus Indonesia, pasar platform layanan antar makanan memberikan kontribusi terbesar di kawasan. Sepanjang 2025, GMV food-delivery Indonesia tercatat menyumbang 28,19 persen dari total regional, setara dengan sekitar US$6,4 miliar.
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai pasar paling strategis bagi seluruh pemain food delivery di ASEAN, termasuk Grab, GoFood, dan ShopeeFood.
Dari sisi pertumbuhan, Thailand mencatatkan pertumbuhan GMV tertinggi sekitar 22 persen yoy, disusul Indonesia, Malaysia, dan Vietnam dengan kisaran 18–19 persen yoy.
Grab Dominan di Pasar Indonesia
Dominasi Grab semakin terlihat di Indonesia. Berdasarkan data pangsa pasar GMV, Grab menguasai sekitar 46 persen pasar layanan antar makanan nasional.
Posisi tersebut menempatkan Grab unggul dari dua pesaing utamanya, yakni GoFood dengan pangsa pasar sekitar 31 persen, serta ShopeeFood sebesar 23 persen.
Kondisi ini menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya pasar terbesar, tetapi juga medan persaingan paling krusial dalam peta platform layanan antar makanan Asia Tenggara.
Pertumbuhan Didongkrak Frekuensi, Bukan Nilai Pesanan
Menariknya, Momentum Works mencatat bahwa pertumbuhan GMV industri food delivery di kawasan lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya frekuensi pemesanan dan jumlah pengguna, bukan oleh kenaikan nilai pesanan per transaksi.
“Nilai rata-rata per transaksi atau average order value (AOV) justru mengalami penurunan,” ungkap Momentum Works dalam laporannya, Kamis (29/1/2026).
Penurunan AOV ini disebut sebagai dampak dari strategi platform dalam meningkatkan keterjangkauan harga, termasuk lewat subsidi ongkos kirim, diskon, dan promosi masif.
Perang Harga dan Promosi Kian Intens
Sepanjang 2025, para pemain platform layanan antar makanan Asia Tenggara terlibat perang strategi untuk merebut loyalitas konsumen. Biaya jasa antar yang rendah, promo agresif, serta rekomendasi makanan berbasis algoritma menjadi senjata utama.
Momentum Works menyoroti bahwa perilaku konsumen juga berubah. Pengguna kini lebih banyak memesan makanan melalui rekomendasi di halaman feed dan promo, bukan lagi mengandalkan kolom pencarian.
Pola ini mendorong platform semakin aktif mengontrol visibilitas merchant dan jenis promosi yang ditampilkan ke pengguna.
Ketergantungan Merchant Semakin Tinggi
Di sisi lain, ketergantungan pelaku usaha makanan terhadap platform digital kian meningkat. Momentum Works menilai bahwa platform antar makanan kini bukan sekadar perantara, tetapi juga ikut membentuk cara pedagang menetapkan harga, memasarkan produk, hingga bersaing dengan kompetitor.
“Dengan kontrol atas pemesanan makan di luar, iklan, data, dan discovery, platform antar makanan semakin memengaruhi strategi pedagang,” tegas Momentum Works.
Kondisi ini membuat efisiensi operasional dan pengelolaan anggaran menjadi fokus utama para pemain besar di tengah tekanan margin dan kompetisi yang intens.
Grab Masih Sulit Tergoyahkan
Dengan pangsa pasar regional 55 persen dan dominasi kuat di pasar utama seperti Indonesia, Grab dinilai masih berada di posisi terdepan sebagai raja platform layanan antar makanan Asia Tenggara.
Namun, dinamika persaingan menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan masih terbuka, terutama di negara dengan penetrasi layanan digital yang terus meningkat.
Ke depan, arah kompetisi diperkirakan akan semakin bergeser ke efisiensi, penguatan ekosistem, dan pemanfaatan data untuk mempertahankan loyalitas pengguna di pasar food delivery yang makin matang.






