Tabengan.com – Apple Inc. kembali menegaskan statusnya sebagai raksasa teknologi paling tangguh di tengah volatilitas pasar global. Saat sebagian besar saham teknologi tertekan oleh kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Apple justru bergerak berlawanan arah. Kinerja ini membuat Apple kalahkan Alphabet Google dalam peringkat perusahaan dengan nilai pasar terbesar di dunia.
Pada perdagangan Rabu siang waktu New York, saham Apple menguat sekitar 1,8% hingga pukul 12.30. Di saat yang sama, Indeks Nasdaq 100 yang didominasi saham teknologi justru terkoreksi 2,4%. Selisih kinerja ini menjadi yang terbesar sejak awal 2025, menandakan Apple secara signifikan mengungguli pasar secara luas.
Tren positif tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Sejak awal Februari 2026, saham Apple tercatat naik hampir 6%, sementara Nasdaq 100 justru turun sekitar 3,3%. Lonjakan ini mendorong kapitalisasi pasar Apple menembus level lebih dari US$4 triliun, membuat perusahaan asal Cupertino tersebut resmi menyalip Alphabet Inc. dan menempati posisi kedua perusahaan bernilai terbesar di dunia, tepat di bawah Nvidia Corp.
Bagi investor, pergerakan ini memperkuat narasi bahwa Apple kini dipersepsikan sebagai “oase” di tengah ketidakpastian sektor teknologi, khususnya yang berkaitan dengan AI. Ketika banyak emiten software dan layanan digital dinilai terlalu agresif dalam membakar dana untuk AI, Apple justru tampil lebih disiplin.
“Pemberitaan terkait gangguan AI tampaknya tidak terlalu merambah ke sektor hardware. Ini tentu menjadi sentimen positif, terutama ketika pasar mulai percaya bahwa AI akan menguasai hampir seluruh ruang software,” ujar Dan Eye, Chief Investment Officer Fort Pitt Capital Group, yang memegang saham Apple di beberapa portofolio investasinya.
Menurut Eye, kondisi ini mencerminkan perbedaan arah yang semakin jelas antara Apple dan sebagian besar perusahaan teknologi lain. Apple dinilai memiliki momentum fundamental yang kuat, sementara ketidakpastian justru meningkat di sektor teknologi secara umum.
Kinerja keuangan Apple yang dirilis pekan lalu turut memperkuat optimisme pasar. Perusahaan mencatat penjualan kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, disertai proyeksi kinerja yang melampaui ekspektasi analis. Hasil tersebut kontras dengan situasi yang dialami sejumlah raksasa teknologi lain, yang sahamnya tertekan akibat kekhawatiran bahwa layanan AI generatif baru akan menggerus model bisnis lama.
Dalam beberapa bulan terakhir, peluncuran dan pengembangan tool AI dari Alphabet Inc. serta startup seperti Anthropic memicu aksi jual besar-besaran di saham teknologi. Investor menilai persaingan AI yang semakin ketat berpotensi menekan margin keuntungan sekaligus meningkatkan risiko pembengkakan belanja modal.
“Apple bukan saham nilai murni, tetapi juga bukan saham berisiko tinggi,” kata Eye. “Posisinya berada di tengah, dan itu membuatnya menarik dalam kondisi pasar seperti sekarang.”
Menariknya, meski Apple kalahkan Alphabet Google dalam hal kapitalisasi pasar, Apple justru dipandang sebagai salah satu penerima manfaat utama dari adopsi AI dalam jangka panjang. Bedanya, Apple tidak mengambil jalur agresif dengan membangun infrastruktur AI berskala raksasa seperti yang dilakukan sebagian pesaingnya.
Perangkat Apple, khususnya iPhone, diperkirakan akan menjadi gerbang utama bagi pengguna untuk mengakses berbagai layanan AI. Dengan basis pengguna aktif yang sangat besar dan loyal, Apple berada di posisi strategis untuk memonetisasi AI melalui perangkat keras dan ekosistemnya.
Bulan lalu, Alphabet Google bahkan menandatangani kesepakatan jangka panjang (multiyears) untuk mendukung teknologi AI Apple, termasuk penguatan kapabilitas asisten suara Siri. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa meski tersalip dalam peringkat nilai pasar, Alphabet tetap menjadi mitra strategis Apple dalam pengembangan AI.
Sementara itu, tekanan di sektor software semakin terasa. Dana yang diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF) yang berisi emiten software tercatat turun sekitar 2,7% dan menuju sesi negatif ketujuh berturut-turut. Ini menjadi rekor terpanjang dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Bahkan Microsoft Corp., yang selama ini dianggap sebagai salah satu pemain AI terdepan, telah turun sekitar 14% sejak awal tahun. Penurunan tersebut dipicu laporan keuangan yang menunjukkan kinerja bisnis komputasi awan di bawah ekspektasi, serta meningkatnya pengawasan investor terhadap besarnya belanja AI yang dilakukan perusahaan.
“Keputusan Apple untuk tidak ikut serta secara agresif dalam perlombaan senjata AI terlihat jauh lebih cerdas hari ini dibandingkan enam bulan lalu,” ujar Eye. “Apple tetap akan mendapat manfaat dari AI, tetapi tidak dipaksa menumpuk utang atau belanja modal hingga ratusan miliar dolar untuk membiayai infrastruktur raksasa.”
Strategi ini membuat Apple dinilai lebih tahan terhadap perubahan siklus pasar. Ketika sentimen terhadap AI berubah dari euforia menjadi kehati-hatian, Apple justru tampil sebagai perusahaan teknologi dengan profil risiko yang lebih seimbang.
Hingga Kamis (5/2/2026) siang, berikut peringkat perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia berdasarkan data pasar global:
Nvidia: US$4,24 triliun
Apple: sekitar US$4,06 triliun
Alphabet (Google): US$4,02 triliun
Microsoft: US$3,07 triliun
Amazon: US$2,49 triliun
Meta Platforms: US$1,69 triliun
TSMC: US$1,68 triliun
Saudi Aramco: US$1,65 triliun
Tesla: US$1,52 triliun
Broadcom: US$1,46 triliun
Capaian ini menegaskan bahwa Apple kalahkan Alphabet Google bukan sekadar soal angka di papan peringkat, melainkan cerminan perubahan persepsi investor terhadap arah industri teknologi global. Di saat banyak perusahaan berlomba membakar dana demi dominasi AI, Apple memilih langkah lebih terukur—dan sejauh ini, pasar tampaknya memberi respons positif.





