Tabengan.com – Platform video pendek Korea Selatan mulai menunjukkan ambisi serius untuk bersaing di industri hiburan Asia yang selama ini didominasi drama Cina dan raksasa global seperti TikTok serta YouTube. Korea Selatan baru-baru ini meluncurkan platform khusus konten video pendek bernama Sero, yang menayangkan film pendek, drama, hingga variety show dalam format vertikal.
Peluncuran Sero menandai langkah strategis Korea Selatan dalam merespons tren konsumsi konten berdurasi pendek yang kian masif, khususnya di kalangan penonton usia 20-an hingga 30-an. Berbeda dengan platform video pendek pada umumnya, Sero tidak sekadar menyajikan potongan adegan atau ringkasan, melainkan menghadirkan pengalaman menonton cerita yang utuh dalam format berbeda.
Sero dikelola oleh perusahaan produksi Serobonneung, yang mengemas ulang film panjang, serial drama, dan variety show menjadi episode vertikal berdurasi sekitar 30 menit. Setiap judul disusun ulang agar dapat berdiri sendiri, tanpa kehilangan alur dramatik utama.
Menurut Serobonneung, musik, tempo, dan narasi setiap konten dirancang ulang oleh produser veteran agar tetap menghadirkan pengalaman sinematik yang lengkap. Dengan pendekatan ini, platform video pendek Korea Selatan tersebut mencoba keluar dari stigma konten pendek yang dianggap dangkal atau sekadar hiburan selintas.
“Idenya bukan untuk memberikan ilusi bahwa seseorang telah menonton sesuatu. Ini untuk benar-benar mengalami cerita tersebut, hanya dalam format yang berbeda,” ujar manajemen Serobonneung dalam pernyataan resmi yang dikutip dari The Korea Herald, Minggu (8/2/2026).
Menyasar Penonton Global Sejak Awal
Sejak awal peluncurannya, Sero dirancang dengan orientasi internasional. Alih-alih hanya mengandalkan pasar domestik, Serobonneung menjalin kerja sama platform-in-platform dengan sejumlah pemain regional, seperti Dish TV di India, Catchplay di Taiwan, dan Ivi di Rusia.
Strategi ini dinilai berbeda dari pendekatan platform global besar yang bergantung pada satu layanan dominan. Menurut perusahaan, kemitraan simultan dengan platform lokal memungkinkan distribusi yang lebih cepat sekaligus mengurangi risiko ketergantungan.
Di Korea Selatan sendiri, Sero bekerja sama dengan KT Genie TV dan KT Studio Genie, sehingga kontennya dapat diakses di luar aplikasi utama perusahaan. Langkah ini memperluas jangkauan platform video pendek Korea Selatan tersebut di pasar domestik sekaligus memperkuat posisi awalnya.
Produksi Konten Orisinal dan Adaptasi Webtoon
Untuk mendukung keberlanjutan platform, Serobonneung membangun jalur produksi terintegrasi dari tahap pengembangan hingga distribusi. Enam serial drama orisinal dijadwalkan diproduksi sepanjang tahun ini, menandakan keseriusan investasi di sektor konten.
Ke depan, perusahaan juga berencana mengembangkan konten eksklusif berdurasi pendek, mengadaptasi webtoon populer, serta memformat ulang video musik K-pop dan pertunjukan langsung agar lebih sesuai dengan preferensi penonton global.
Langkah ini menempatkan platform video pendek Korea Selatan sebagai bagian dari strategi besar industri hiburan Korea untuk memperluas pengaruh budaya populer, sejalan dengan gelombang Korean Wave atau Hallyu.
Persaingan Ketat di Pasar Video Pendek
Saat ini, pasar konten video pendek sudah dipenuhi berbagai platform, termasuk Dramabox, FlickReels, ReelShort, dan GoodShort, yang sebagian besar dikenal sebagai penyedia drama pendek bergaya Cina. Kehadiran Sero memperlihatkan upaya Korea Selatan untuk tidak tertinggal dalam persaingan tersebut.
Berdasarkan laporan Research and Markets, pasar konten berdurasi pendek global diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 25,6%, dari sekitar ₩60 triliun (US$40 miliar) pada 2021 menjadi ₩187 triliun pada 2026. Angka ini menunjukkan peluang besar, tetapi juga persaingan yang semakin ketat.
Namun, analis menilai pertumbuhan pasar saja tidak cukup menjamin kesuksesan. Director Institute of Digital Industry and Policy yang berbasis di Seoul, Noh Chang-hee, mengingatkan bahwa tantangan utama berada pada diferensiasi.
“Permintaan konten pendek jelas kuat, tetapi diferensiasi adalah tantangan sebenarnya. Ruang ini sudah didominasi oleh YouTube, TikTok, Instagram, dan platform regional seperti Naver Chzzk. Banyak versi ringkasan atau suntingan film sudah tersedia secara gratis, terutama di YouTube,” ujarnya.
Kualitas dan Hak Eksklusif Jadi Penentu
Menurut Noh, keunggulan platform video pendek Korea Selatan seperti Sero akan sangat ditentukan oleh hak eksklusif serta kurasi konten yang legal dan berkualitas. Ia juga menilai kekhawatiran bahwa format ringkas dapat menurunkan nilai artistik tidak sepenuhnya tepat.
“Sebagian besar konten saat ini memang sudah diproduksi dengan mempertimbangkan sirkulasi format pendek. Klip sering kali justru mengarahkan penonton kembali ke karya aslinya. Saya tidak melihat format ini sebagai sesuatu yang merusak nilai artistik, melainkan sebagai perluasan cara audiens mengonsumsi media,” pungkas Noh.
Dengan strategi global sejak awal, fokus pada kualitas narasi, serta dukungan ekosistem produksi yang matang, langkah Korea Selatan menghadirkan platform video pendek sendiri menjadi sinyal bahwa persaingan industri hiburan Asia akan semakin dinamis dalam beberapa tahun ke depan.





