Aplikasi

Dompet Digital Jadi Gaya Hidup, Gen Z Dorong Persaingan ShopeePay hingga OVO

62
×

Dompet Digital Jadi Gaya Hidup, Gen Z Dorong Persaingan ShopeePay hingga OVO

Sebarkan artikel ini
Dompet Digital Jadi Gaya Hidup, Gen Z Dorong Persaingan ShopeePay hingga OVO

Tabengan.com – Dompet digital kini tidak lagi sekadar menjadi alternatif alat pembayaran. Berdasarkan riset Ipsos Indonesia bertajuk “Digital Wallet Research 2026: User Behavior & Competitive Landscape”, layanan dompet digital telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem gaya hidup finansial masyarakat, terutama di kalangan generasi Z atau Gen Z.

Perubahan tersebut terlihat dari semakin beragamnya aktivitas yang dilakukan menggunakan layanan pembayaran digital. Hasil riset menunjukkan, belanja online menjadi aktivitas paling banyak menggunakan dompet digital dengan persentase 86 persen.

Selain belanja online, penggunaan dompet digital juga cukup tinggi untuk membeli makanan dan minuman dengan persentase 77 persen. Pembayaran tagihan rutin seperti listrik dan internet mencapai 69 persen, sementara transaksi transfer ke rekening bank berada di angka 68 persen.

Perkembangan fungsi tersebut membuat persaingan antarpenyedia dompet digital semakin ketat. Sejumlah pemain utama yang bersaing di pasar Indonesia antara lain ShopeePay, GoPay, DANA, dan OVO.

Dalam aspek Top of Mind, ShopeePay berada di posisi teratas dengan persentase 41 persen. Posisi berikutnya ditempati DANA sebesar 26 persen, GoPay 23 persen, OVO 8 persen, dan layanan lainnya 2 persen.

Dari sisi penggunaan dalam tiga bulan terakhir, ShopeePay juga mencatat angka tertinggi, yakni 91 persen. GoPay dan DANA masing-masing berada di angka 67 persen, sedangkan OVO mencapai 44 persen.

Riset Ipsos juga memperlihatkan adanya perbedaan dalam frekuensi transaksi antarplatform. ShopeePay mencatat rata-rata 23 transaksi per bulan, menjadi yang tertinggi dibandingkan pemain lainnya. Setelah itu, posisi berikutnya ditempati OVO, GoPay, dan DANA.

Executive Director Ipsos Indonesia, Andi Sukma, mengatakan peta persaingan industri pada 2025 mengalami perkembangan. Persaingan tidak lagi hanya berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat terhadap sebuah merek, tetapi mulai bergeser pada kemampuan setiap penyedia dalam membangun ekosistem.

Menurutnya, aspek keamanan serta kedalaman integrasi layanan kini menjadi faktor penting dalam menentukan posisi sebuah platform di tengah persaingan dompet digital.

Perubahan tersebut semakin terlihat melalui perilaku Gen Z. Kelompok pengguna yang tumbuh bersama teknologi digital ini disebut menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan penggunaan layanan pembayaran digital.

Sebagai digital native, Gen Z cenderung menginginkan layanan pembayaran yang dapat terhubung langsung dengan berbagai aktivitas digital yang mereka lakukan. Karena itu, penggunaan dompet digital pada kelompok ini tidak hanya berkaitan dengan transaksi pembayaran, tetapi juga aktivitas hiburan dan kebutuhan digital lainnya.

Berdasarkan riset Ipsos, tingkat P3M atau penggunaan dalam tiga bulan terakhir pada Gen Z menunjukkan ShopeePay berada di angka 88 persen. DANA menyusul dengan 72 persen, GoPay 68 persen, dan OVO 47 persen.

Ada sejumlah faktor yang memengaruhi pilihan Gen Z terhadap layanan pembayaran digital. Faktor paling tinggi adalah kepraktisan dengan persentase 57 persen.

Selanjutnya, sebanyak 49 persen responden mempertimbangkan bebas biaya administrasi untuk aktivitas seperti transfer, top-up, dan tarik tunai. Fleksibilitas penggunaan di berbagai merchant juga menjadi pertimbangan penting dengan persentase 48 persen.

Pola penggunaan Gen Z juga menunjukkan bahwa layanan pembayaran digital semakin melekat dengan aktivitas sehari-hari. Selain belanja online serta makanan dan minuman, penggunaan banyak ditemukan pada kebutuhan gaming dan layanan digital seperti pembelian pulsa serta pembayaran tagihan.

Sektor gaming menjadi salah satu area yang memperlihatkan persaingan antarlayanan pembayaran digital. Untuk transaksi top-up game di kalangan Gen Z, ShopeePay mencatat penggunaan sebesar 46 persen. DANA berada di posisi kedua dengan 28 persen, disusul GoPay 19 persen dan OVO 4 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa integrasi dengan layanan digital menjadi salah satu strategi penting untuk mempertahankan pengguna. Platform yang hanya menawarkan fungsi pembayaran berpotensi menghadapi persaingan lebih ketat karena konsumen semakin terbiasa menggunakan satu layanan untuk berbagai kebutuhan.

Andi Sukma menilai Gen Z melihat dompet digital sebagai bagian dari gaya hidup. Karena itu, penyedia layanan yang mampu menggabungkan kebutuhan transaksi dengan hiburan dan aktivitas digital lainnya memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan persaingan.

Integrasi antara layanan pembayaran dan gaming menjadi salah satu contoh yang dinilai potensial. Kemudahan melakukan pembayaran hanya dengan satu kali klik dapat meningkatkan pengalaman pengguna sekaligus memperluas frekuensi penggunaan platform.

Tren tersebut memperlihatkan bahwa masa depan industri pembayaran digital di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengguna. Kemampuan menyediakan ekosistem yang praktis, aman, fleksibel, serta terintegrasi dengan berbagai kebutuhan pengguna menjadi faktor yang semakin penting.

Dengan Gen Z sebagai salah satu kelompok pengguna utama, persaingan ShopeePay, DANA, GoPay, dan OVO diperkirakan semakin bergeser ke pengembangan ekosistem. Layanan yang mampu hadir dalam berbagai aktivitas digital, mulai dari belanja hingga hiburan seperti gaming, memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan keterikatan pengguna.

Riset Ipsos tersebut sekaligus menggambarkan perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan layanan pembayaran digital. Dompet digital semakin bertransformasi dari sekadar alat transaksi menjadi bagian dari aktivitas finansial dan gaya hidup sehari-hari.