Berita

Bisnis Infrastruktur Digital Telkom Digenjot, InfraNexia Disiapkan sebagai Neutral Carrier

134
×

Bisnis Infrastruktur Digital Telkom Digenjot, InfraNexia Disiapkan sebagai Neutral Carrier

Sebarkan artikel ini
Bisnis Infrastruktur Digital Telkom Digenjot, InfraNexia Disiapkan sebagai Neutral Carrier

Tabengan.com – Telkom Indonesia terus memperkuat bisnis infrastruktur digital Telkom sebagai salah satu sumber pertumbuhan dan penciptaan nilai jangka panjang. Strategi tersebut menjadi bagian dari transformasi TLKM 30 yang dijalankan perseroan untuk memperjelas fokus bisnis, meningkatkan efisiensi, serta mengoptimalkan kontribusi setiap segmen terhadap kinerja TelkomGroup.

Dalam Public Expose Live 2026 yang digelar secara online pada Senin (7/9/2026), Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan perkembangan transformasi TelkomGroup melalui empat pilar TLKM 30, yakni operational & service excellence, streamlining, unlocking value, dan modus-operandi shift.

Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun pada Semester I 2026, tumbuh 3,9% secara tahunan. EBITDA mencapai Rp37,5 triliun atau meningkat 3,8% YoY dengan margin 49,4%. Sementara itu, laba bersih tercatat Rp10,6 triliun, naik 1,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika dinormalisasi, laba bersih Telkom mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 6,2% YoY. Manajemen mengaitkan kinerja tersebut dengan membaiknya monetisasi bisnis seluler serta penerapan disiplin operasional di seluruh lingkungan TelkomGroup.

Dalam transformasi TLKM 30, Telkom juga melakukan penyederhanaan struktur bisnis melalui delayering ke dalam lima segmen utama. Kelima segmen tersebut terdiri atas B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, International, serta Others dan Ancillary.

Dian mengatakan penyederhanaan struktur tersebut diperlukan agar setiap unit bisnis memiliki fokus dan akuntabilitas yang lebih jelas, terutama dalam mengelola kinerja, arus kas, dan investasi.

“Sebagai bagian dari implementasi TLKM 30, delayering ini sangat penting karena kami ingin setiap bisnis di TelkomGroup memiliki akuntabilitas yang lebih jelas dan fokus pada bisnis inti, dengan visibilitas yang lebih baik terhadap kinerja, arus kas, dan investasi pada masing-masing bisnis,” ujar Dian.

InfraNexia Disiapkan sebagai Neutral Carrier

Salah satu bagian penting dari bisnis infrastruktur digital Telkom berada pada segmen B2B Infrastructure. Telkom menyiapkan InfraNexia untuk beroperasi sebagai neutral carrier yang dapat melayani kebutuhan konektivitas di dalam ekosistem TelkomGroup sekaligus mengembangkan bisnis dari pelanggan eksternal.

Telkom saat ini mempersiapkan spin-off tahap kedua yang ditargetkan rampung pada kuartal III 2026. Setelah proses tersebut selesai, InfraNexia diarahkan menjadi entitas utama yang menangani bisnis wholesale connectivity TelkomGroup.

Langkah tersebut merupakan bagian dari perubahan struktur bisnis Telkom menuju model Strategic Holding Company–Operating Company atau HoldCo–OpCo. Melalui model ini, perseroan berupaya memberikan fokus dan akuntabilitas yang lebih jelas kepada masing-masing entitas operasional.

Selain konektivitas, Telkom juga mengoptimalkan bisnis pusat data melalui NeutraDC. Pada Semester I 2026, NeutraDC membukukan pendapatan Rp867 miliar atau tumbuh 11% YoY. Total kapasitas efektif pusat data yang dikelola mencapai 49,9 MW.

Permintaan terhadap hyperscale data center (HDC) masih tercatat kuat. HDC Cikarang mencatat tingkat okupansi mencapai 96%, menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap fasilitas pusat data berskala besar untuk mendukung komputasi dan penyimpanan data.

Sementara itu, HDC Batam ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II 2026 dengan kapasitas awal sebesar 6 MW. NeutraDC juga akan meningkatkan kapasitas secara bertahap melalui pertumbuhan organik dan strategic partnership.

Lebih dari 94% CAPEX Telkom untuk Bisnis Inti

Penguatan bisnis infrastruktur digital Telkom juga berjalan seiring dengan kebijakan disiplin modal. Telkom mengalokasikan lebih dari 94% belanja modal atau CAPEX untuk bisnis inti pada segmen B2C dan B2B Infrastructure.

Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga produktivitas modal sekaligus memastikan investasi perusahaan tetap diarahkan ke area yang memiliki peran strategis terhadap pertumbuhan.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra mengatakan kinerja paruh pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan earnings yang tetap positif. Profitabilitas juga mengalami perbaikan, terutama pada kuartal kedua.

“Ke depan, kami akan terus menjaga disiplin biaya dan kualitas pertumbuhan untuk mendukung pencapaian target profitabilitas sepanjang tahun,” kata Angelo.

Penguatan B2B ICT dan Bisnis Enterprise

Selain infrastruktur konektivitas dan data center, Telkom memperkuat segmen B2B ICT untuk menangkap kebutuhan transformasi digital perusahaan. Pendapatan dari segmen usaha kecil dan menengah atau SME tumbuh 11,5%.

Jumlah pelanggan IndiBiz juga meningkat 11,7% menjadi 756 ribu pelanggan. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan layanan digital Telkom untuk segmen bisnis.

Pada sisi enterprise, Telkom menyiapkan pengambilalihan 100% saham Digiserve. Aksi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapabilitas B2B ICT dalam menyediakan solusi end-to-end bagi pelanggan korporasi dari berbagai sektor.

Integrasi kapabilitas tersebut diharapkan mendukung pengembangan bisnis ICT yang lebih terarah sekaligus memperkuat posisi Telkom dalam memenuhi kebutuhan transformasi digital pelanggan perusahaan.

Kinerja Telkomsel Ikut Menopang Pertumbuhan

Sementara itu, bisnis B2C yang dijalankan Telkomsel mencatat pertumbuhan lebih tinggi pada Semester I 2026. Pendapatan Telkomsel mencapai Rp28,0 triliun, meningkat 5,3% YoY.

EBITDA Telkomsel tumbuh 10,3%, sedangkan laba bersih meningkat 24,9%. Average Revenue per User atau ARPU mobile juga naik 11,6% menjadi Rp46 ribu.

Pertumbuhan ARPU tersebut terjadi di tengah basis pelanggan yang semakin terkonsolidasi. Telkomsel terus berfokus pada peningkatan kualitas pelanggan, pengalaman layanan, dan efisiensi operasional sambil mempertahankan kondisi keuangan yang sehat.

Tambahan Spektrum Perkuat Jaringan 5G

Telkomsel juga memperoleh tambahan 100 MHz spektrum pada pita 700 MHz dan 2.600 MHz. Dengan tambahan tersebut, total portofolio spektrum Telkomsel meningkat menjadi 265 MHz.

Spektrum tambahan akan dimanfaatkan untuk memperkuat cakupan dan kapasitas jaringan, termasuk mendukung pengembangan layanan 5G. Pemanfaatannya akan dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan pasar dengan mempertimbangkan produktivitas spektrum, disiplin investasi, serta potensi imbal hasil.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan mengatakan tambahan spektrum akan meningkatkan kapasitas dan kualitas jaringan sekaligus mendukung pengembangan layanan 5G.

“Kami akan memanfaatkan tambahan spektrum ini secara bertahap sesuai dengan kebutuhan pasar, dengan tetap menjaga disiplin investasi dan visibilitas terhadap imbal hasil untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Daru.

Target Pertumbuhan 2026 Dipertahankan

Memasuki Semester II 2026, Telkom masih mempertahankan guidance kinerja yang telah ditetapkan. Perseroan menargetkan pertumbuhan normalized revenue sebesar 1–3% dan margin EBITDA di atas 50% sepanjang 2026.

Pada kuartal II 2026, margin EBITDA Telkom telah kembali berada di atas 50%. Manajemen melihat pencapaian tersebut sebagai bagian dari perbaikan profitabilitas secara kuartalan.

Untuk menjaga kinerja hingga akhir tahun, Telkom akan mengandalkan monetisasi mobile data, peningkatan bisnis fixed broadband, pengendalian biaya, serta akselerasi transformasi TLKM 30.

Strategi tersebut berjalan bersamaan dengan optimalisasi aset dan bisnis infrastruktur digital Telkom, termasuk pengembangan InfraNexia, ekspansi kapasitas NeutraDC, dan penguatan bisnis B2B ICT.

Angelo menegaskan Telkom akan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, profitabilitas, dan disiplin modal hingga akhir 2026. Transformasi TLKM 30 juga akan terus menjadi kerangka utama untuk memperjelas fokus bisnis dan meningkatkan kontribusi setiap segmen terhadap kinerja TelkomGroup.