Software

Gawat! Malware Mantax Otax Bisa Intip Chat WhatsApp dan Curi Kode OTP

67
×

Gawat! Malware Mantax Otax Bisa Intip Chat WhatsApp dan Curi Kode OTP

Sebarkan artikel ini
Gawat! Malware Mantax Otax Bisa Intip Chat WhatsApp dan Curi Kode OTP

Tabengan.com – Malware Mantax Otax menjadi ancaman serius bagi pengguna Android di Indonesia. Malware yang beredar dalam bentuk file APK tersebut memiliki kemampuan untuk mengintip percakapan WhatsApp, mencuri kode OTP dari SMS, merekam layar, mengakses kamera hingga mengunci file korban untuk meminta tebusan.

Temuan mengenai ancaman ini diungkap tim peneliti keamanan siber zLabs dari Zimperium. Peneliti menemukan dua varian Mantax Otax, yaitu V1 dan V2, yang didistribusikan di luar toko aplikasi resmi.

Malware tersebut diketahui menyebar melalui berbagai sumber pihak ketiga, termasuk layanan berbagi file, Telegram, forum dan kanal distribusi lainnya. Pelaku memanfaatkan teknik phishing serta rekayasa sosial atau social engineering untuk meyakinkan calon korban agar memasang APK berbahaya.

Setelah berhasil masuk ke perangkat, Mantax Otax dapat meminta sejumlah izin dengan tingkat akses sangat tinggi. Jika korban memberikan hak administrator perangkat dan Accessibility Service, malware dapat menjalankan berbagai fungsi pengawasan dan pencurian data.

Malware Mantax Otax Bisa Intip WhatsApp

Salah satu kemampuan paling mengkhawatirkan dari Mantax Otax adalah membaca informasi yang ditampilkan pada aplikasi seperti WhatsApp dan Telegram.

Kemampuan tersebut tidak berarti malware berhasil membobol sistem enkripsi WhatsApp. Mantax Otax bekerja dari sisi perangkat Android korban dengan memanfaatkan Accessibility Service.

Ketika sebuah percakapan WhatsApp terbuka dan tampil pada layar, layanan aksesibilitas dapat memberikan informasi mengenai elemen antarmuka yang sedang ditampilkan. Malware kemudian dapat menyalahgunakan akses tersebut untuk mengambil informasi dari layar perangkat.

Artinya, enkripsi end-to-end pada aplikasi pesan tidak otomatis melindungi pengguna apabila perangkatnya sendiri sudah dikuasai malware.

Selain percakapan, Mantax Otax juga dapat mengincar berbagai informasi lain yang tersimpan atau muncul di perangkat. Peneliti menemukan kemampuan untuk mengambil data kontak, log panggilan, riwayat browser, akun Google hingga informasi lokasi.

Kode OTP dari SMS Juga Bisa Dicuri

Ancaman menjadi semakin serius karena Mantax Otax dapat mengincar kode OTP yang dikirim melalui SMS.

Kode OTP atau One-Time Password sering digunakan sebagai lapisan verifikasi tambahan ketika pengguna masuk ke akun, melakukan transaksi atau mengonfirmasi aktivitas tertentu. Jika kode tersebut berhasil dicuri malware, pelaku berpotensi menggunakannya dalam rangkaian serangan terhadap akun korban.

Mantax Otax juga dilaporkan dapat mengincar PIN atau informasi terkait kunci layar perangkat. Kombinasi pencurian OTP dengan informasi lain dapat memperbesar risiko pengambilalihan akun.

Karena itu, pengguna tidak cukup hanya mengandalkan keamanan layanan yang digunakan. Keamanan perangkat Android yang menjadi tempat menerima OTP juga memiliki peran penting.

Bisa Rekam Layar dan Aktifkan Kamera

Kemampuan Mantax Otax tidak berhenti pada pencurian pesan dan OTP. Malware ini juga dilaporkan memiliki fungsi pengawasan perangkat secara langsung.

Peneliti menemukan kemampuan untuk merekam aktivitas layar dalam bentuk video dan mengirimkan hasilnya ke infrastruktur yang digunakan pelaku.

Dalam kondisi tertentu, kamera depan maupun kamera belakang perangkat juga dapat diakses untuk mengambil gambar tanpa sepengetahuan pengguna.

Kemampuan tersebut membuat malware dapat mengumpulkan informasi visual dari perangkat korban. Aktivitas yang berlangsung di layar, informasi yang dibuka melalui aplikasi, hingga lingkungan sekitar perangkat berpotensi menjadi sumber data bagi pelaku.

Zimperium mengategorikan Mantax Otax sebagai ancaman dengan berbagai karakteristik sekaligus. Malware ini memiliki kemampuan yang berkaitan dengan infostealer, Remote Access Trojan (RAT), backdoor dan ransomware.

Penggabungan banyak fungsi tersebut membuat Mantax Otax menjadi ancaman yang lebih kompleks dibandingkan malware yang hanya dirancang untuk mencuri satu jenis data.

File di HP Bisa Dikunci untuk Minta Tebusan

Setelah mencuri informasi, Mantax Otax juga dapat menjalankan fungsi ransomware.

Malware dapat mengenkripsi sejumlah file korban, termasuk foto, video, dokumen, database dan jenis file lainnya. Proses tersebut menggunakan algoritma AES dengan kunci unik pada setiap perangkat.

Ketika file telah dienkripsi, korban dapat kehilangan akses terhadap data yang sebelumnya tersimpan di perangkat. Pelaku kemudian dapat memberikan permintaan tebusan serta sarana komunikasi untuk melakukan negosiasi.

Kondisi ini berpotensi menghasilkan skenario pemerasan ganda.

Korban bukan hanya menghadapi risiko kehilangan akses terhadap file, tetapi juga dapat menghadapi ancaman bahwa informasi yang sebelumnya dicuri akan digunakan sebagai tekanan tambahan agar korban membayar tebusan.

Namun, kemampuan enkripsi ransomware Mantax Otax memiliki keterbatasan pada versi Android tertentu.

Menurut temuan peneliti, fungsi ransomware tersebut terutama efektif pada perangkat yang menjalankan Android 9 atau versi lebih lama. Sementara itu, Android 10 dan versi yang lebih baru telah menggunakan mekanisme Scoped Storage yang membatasi akses aplikasi terhadap file di luar ruang penyimpanannya sendiri.

Meski demikian, pengguna Android versi baru tetap tidak boleh menganggap perangkat sepenuhnya aman. Kemampuan Mantax Otax dalam mencuri informasi, merekam aktivitas dan menyalahgunakan izin perangkat tetap menjadi ancaman.

Menyasar Pengguna Android di Indonesia

Peneliti menemukan sejumlah indikasi yang mengarah pada keterkaitan kampanye Mantax Otax dengan Indonesia.

Petunjuk tersebut antara lain berasal dari penggunaan bahasa serta karakteristik file korban yang dianalisis oleh peneliti keamanan. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna Android di Indonesia dapat menjadi salah satu sasaran utama kampanye malware tersebut.

Varian terbaru Mantax Otax juga menggunakan protokol WebSocket untuk berkomunikasi dengan infrastruktur yang dikendalikan pelaku.

Penggunaan mekanisme komunikasi tersebut menunjukkan bahwa malware masih mengalami pengembangan. Kemampuan komunikasi dengan server pelaku dapat digunakan untuk menerima perintah, mengirim data yang dicuri maupun menjalankan fungsi tertentu pada perangkat korban.

Dengan kemampuan yang terus berkembang, ancaman Mantax Otax tidak hanya bergantung pada file APK awal yang dipasang korban. Setelah memperoleh izin yang diperlukan, malware dapat menjalankan berbagai aktivitas berbahaya sesuai kemampuan yang tersedia pada variannya.

APK dari Luar Play Store Jadi Risiko Besar

Salah satu jalur utama penyebaran Mantax Otax adalah file APK yang didistribusikan melalui sumber tidak resmi.

APK atau Android Package Kit sebenarnya merupakan format paket aplikasi yang sah digunakan Android. Masalah muncul ketika pengguna memasang APK dari sumber yang tidak dapat dipercaya.

Pelaku dapat menyamarkan malware sebagai aplikasi yang terlihat normal, kemudian membujuk pengguna untuk memasangnya. Teknik phishing dan social engineering dapat digunakan untuk membuat korban percaya bahwa aplikasi tersebut aman atau diperlukan untuk mengakses layanan tertentu.

Karena itu, pengguna sebaiknya tidak sembarangan memasang aplikasi dari tautan yang diterima melalui WhatsApp, Telegram, media sosial, forum atau situs yang tidak dapat diverifikasi.

Risiko juga meningkat ketika aplikasi meminta izin yang tidak sesuai dengan fungsi utamanya.

Aplikasi sederhana yang seharusnya tidak membutuhkan akses luas, misalnya aplikasi utilitas tertentu, patut dicurigai apabila meminta Accessibility Service, Device Administrator, SMS, kamera atau kemampuan merekam layar.

Cara Menghindari Malware Mantax Otax

Pencegahan menjadi langkah penting karena sebagian besar kemampuan Mantax Otax baru dapat digunakan setelah korban memasang APK dan memberikan izin tertentu.

Pengguna Android sebaiknya menghindari pemasangan APK dari sumber yang tidak dikenal. Aplikasi sebaiknya diperoleh melalui toko aplikasi resmi atau sumber resmi pengembang yang dapat diverifikasi.

Selain itu, jangan memberikan Accessibility Service kepada aplikasi yang tidak benar-benar membutuhkan fungsi tersebut. Izin ini memiliki kemampuan sangat luas dan dapat disalahgunakan oleh malware untuk mengamati interaksi pengguna dengan perangkat.

Pengguna juga perlu memperhatikan permintaan akses SMS, kamera, mikrofon, lokasi, kontak dan penyimpanan. Jika sebuah aplikasi meminta kombinasi izin yang tidak sesuai dengan fungsi utamanya, pemasangan sebaiknya dihentikan.

Pembaruan sistem operasi dan aplikasi juga perlu dilakukan secara berkala. Sistem Android yang lebih baru umumnya membawa peningkatan keamanan dan pembatasan akses aplikasi.

Pengguna juga sebaiknya tidak memasukkan informasi sensitif ketika mencurigai perangkat telah terinfeksi. Jika muncul aktivitas tidak biasa, seperti aplikasi asing, perubahan izin, pesan yang tidak dikenal atau aktivitas akun yang mencurigakan, perangkat perlu segera diperiksa.

Kasus malware Mantax Otax menunjukkan bahwa serangan terhadap WhatsApp dan kode OTP tidak selalu membutuhkan pembobolan langsung terhadap sistem WhatsApp atau layanan perbankan.

Pelaku dapat menyerang titik yang lebih dekat dengan pengguna, yaitu perangkat Android yang digunakan sehari-hari. Ketika korban memberikan izin berbahaya kepada aplikasi yang salah, ponsel dapat berubah menjadi alat bagi pelaku untuk membaca informasi, mencuri OTP, merekam layar, mengakses kamera hingga mengenkripsi file.

Karena itu, kehati-hatian sebelum memasang APK menjadi salah satu pertahanan paling penting bagi pengguna Android di Indonesia.

Langkah Pemulihan Setelah Terinfeksi Malware Mantax Otax

Jika pengguna sudah terlanjur memasang APK mencurigakan dan menduga perangkat terinfeksi malware Mantax Otax, jangan langsung menggunakan ponsel seperti biasa. Langkah pertama adalah memutus koneksi internet untuk membatasi komunikasi malware dengan server pelaku.

Aktifkan mode pesawat atau matikan Wi-Fi dan data seluler. Setelah itu, jangan membuka aplikasi perbankan, dompet digital, email utama maupun akun penting lainnya dari perangkat yang dicurigai.

Cabut Izin Berbahaya

Periksa aplikasi yang baru saja dipasang dan cari aplikasi yang tidak dikenal atau memiliki nama mencurigakan. Jika aplikasi tersebut memperoleh Accessibility Service, Device Administrator atau izin sensitif lainnya, cabut akses tersebut terlebih dahulu.

Pada perangkat Android, lokasi menu dapat berbeda berdasarkan merek dan versi sistem operasi. Umumnya, Accessibility Service dapat ditemukan melalui Pengaturan > Aksesibilitas, sedangkan izin administrator perangkat dapat berada pada bagian Keamanan atau pengaturan aplikasi khusus.

Jika sebuah aplikasi tidak dapat dihapus karena memiliki hak administrator perangkat, cabut hak tersebut terlebih dahulu sebelum mencoba menghapus aplikasinya.

Hapus APK yang Mencurigakan

Setelah seluruh izin berbahaya dicabut, hapus aplikasi yang diduga menjadi sumber infeksi. Jangan hanya menghapus file APK dari folder Download karena aplikasi yang sudah terpasang harus dihapus dari sistem.

Periksa juga daftar aplikasi yang terinstal untuk memastikan tidak ada aplikasi asing lain yang muncul bersamaan.

Jika malware tetap aktif, sulit dihapus atau kembali muncul setelah perangkat dinyalakan ulang, pengguna sebaiknya tidak terus mencoba berbagai cara secara sembarangan. Langkah yang lebih aman adalah melakukan pencadangan data penting yang benar-benar diperlukan, kemudian mempertimbangkan reset perangkat ke setelan pabrik.

Ubah Password dari Perangkat Lain

Karena Mantax Otax memiliki kemampuan mencuri informasi, pengguna sebaiknya mengganti password akun penting menggunakan perangkat lain yang dipastikan bersih.

Prioritaskan akun Google, email utama, media sosial, layanan cloud, marketplace, aplikasi perbankan dan layanan digital lainnya. Jangan mengganti seluruh password dari perangkat yang masih dicurigai terinfeksi karena informasi baru berpotensi kembali dicuri.

Gunakan password unik untuk setiap akun dan aktifkan autentikasi multifaktor jika layanan tersebut mendukungnya.

Amankan Rekening dan Dompet Digital

Jika perangkat yang terinfeksi digunakan untuk mobile banking atau dompet digital, segera hubungi bank atau penyedia layanan terkait apabila terdapat aktivitas transaksi yang tidak dikenali.

Periksa riwayat transaksi, perangkat yang terhubung, sesi login dan aktivitas keamanan akun. Jika terdapat transaksi mencurigakan, lakukan pemblokiran atau tindakan pengamanan sesuai prosedur penyedia layanan.

Pengguna juga perlu memberi tahu bank apabila kode OTP atau informasi autentikasi diduga telah dicuri.

Periksa WhatsApp dan Akun Google

Karena Mantax Otax dapat mengakses informasi yang tampil di layar, pengguna perlu memeriksa akun yang mungkin telah digunakan selama perangkat terinfeksi.

Pada WhatsApp, periksa menu Perangkat Tertaut dan keluarkan perangkat atau sesi yang tidak dikenali. Jangan mengabaikan sesi asing meskipun tidak terlihat ada percakapan yang hilang.

Untuk akun Google, periksa aktivitas keamanan dan daftar perangkat yang memiliki akses ke akun. Keluarkan perangkat yang tidak dikenal dan lakukan pemeriksaan terhadap aktivitas login terbaru.

Periksa File Sebelum Dipulihkan

Jika malware telah mengenkripsi file, jangan langsung menghapus seluruh data tanpa memastikan apakah terdapat cadangan yang aman.

Periksa Google Photos, Google Drive, komputer atau media penyimpanan lain yang digunakan untuk mencadangkan data sebelum infeksi terjadi. Cadangan yang tidak terhubung dengan perangkat terinfeksi dapat menjadi sumber pemulihan yang lebih aman.

Jangan menghubungkan kembali hard disk atau media penyimpanan cadangan ke perangkat yang masih terinfeksi. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko penyebaran atau kerusakan data.

Pertimbangkan Reset ke Setelan Pabrik

Jika infeksi tidak dapat dipastikan telah terhapus, reset ke setelan pabrik dapat menjadi langkah pemulihan yang lebih menyeluruh. Sebelum melakukan reset, pastikan data penting telah dicadangkan dengan aman.

Setelah reset, lakukan pembaruan sistem operasi dan aplikasi sebelum memasang kembali aplikasi lain. Hindari menginstal ulang APK yang menjadi sumber infeksi.

Aplikasi sebaiknya diunduh dari Google Play Store atau sumber resmi pengembang. Pengguna juga perlu meninjau kembali izin setiap aplikasi sebelum memberikannya.

Jika perangkat digunakan untuk aktivitas finansial atau menyimpan data yang sangat sensitif dan terdapat indikasi kuat bahwa malware telah memperoleh akses luas, pertimbangkan untuk meminta bantuan teknisi atau layanan keamanan profesional.

Yang paling penting, jangan menganggap masalah selesai hanya karena aplikasi berbahaya sudah dihapus. Password, OTP, sesi login, data pribadi dan informasi finansial yang mungkin telah diakses malware tetap perlu diamankan dari perangkat lain.