Tabengan.com – TokenKu.ai resmi diluncurkan Hypernet Technologies sebagai platform yang memungkinkan perusahaan mengakses lebih dari 120 model kecerdasan buatan (AI) global melalui satu portal. Menariknya, seluruh penggunaan layanan AI tersebut dapat dikonsolidasikan dalam satu tagihan dan dibayarkan menggunakan rupiah.
Platform yang berada di bawah naungan XLSMART ini diperkenalkan Hypernet Technologies di Jakarta pada Minggu (13/9/2026). TokenKu.ai membawa konsep “Satu Gateway untuk Semua Model AI” dengan sistem pengelolaan terpusat yang ditujukan bagi perusahaan.
Kehadiran platform ini menyasar persoalan yang semakin banyak dihadapi perusahaan ketika penggunaan AI berkembang di lingkungan kerja. Karyawan kini dapat menggunakan berbagai layanan AI untuk membantu pekerjaan, tetapi penggunaan yang tidak terkoordinasi dapat menciptakan masalah baru dari sisi biaya, keamanan dan tata kelola.
Hypernet melihat kebutuhan tersebut sebagai peluang untuk menyediakan satu pintu bagi perusahaan dalam mengakses berbagai model AI tanpa harus mengelola banyak akun dan sistem pembayaran secara terpisah.
TokenKu.ai Satukan Lebih dari 120 Model AI
Salah satu fitur utama TokenKu.ai adalah kemampuan menyediakan akses ke lebih dari 120 model AI dari berbagai perusahaan teknologi global dalam satu marketplace.
Model-model tersebut mencakup layanan dari perusahaan seperti OpenAI, Anthropic, Google dan Meta.
Dengan konsep tersebut, perusahaan tidak perlu membuat dan mengelola banyak akun secara terpisah untuk menggunakan berbagai layanan AI. Pengelolaan hubungan dengan penyedia AI juga dapat disederhanakan melalui satu platform.
Bagi perusahaan yang menggunakan beberapa model sekaligus, pendekatan tersebut dapat mengurangi kompleksitas administratif. Tim teknologi dan manajemen tidak harus memantau berbagai akun, kontrak dan mekanisme pembayaran secara terpisah.
Perusahaan juga dapat memilih model AI sesuai kebutuhan pekerjaan. Model tertentu mungkin digunakan untuk menghasilkan teks, sementara model lainnya dapat dimanfaatkan untuk analisis, pemrograman, pemrosesan data atau kebutuhan operasional lain.
Dengan demikian, TokenKu.ai tidak hanya menawarkan akses terhadap model AI, tetapi juga mencoba menyediakan lapisan pengelolaan di atas berbagai layanan tersebut.
Karyawan Pakai AI Sendiri Jadi Tantangan Baru
Pertumbuhan penggunaan AI di lingkungan kerja memunculkan fenomena yang dikenal sebagai Bring Your Own AI atau BYOAI.
Konsep ini menggambarkan kondisi ketika karyawan menggunakan layanan AI pilihannya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa melalui strategi, kebijakan dan tata kelola resmi perusahaan.
Dari sisi produktivitas, penggunaan AI secara mandiri dapat memberikan manfaat. Namun, dari sisi perusahaan, kondisi tersebut dapat membuat penggunaan teknologi menjadi sulit dipantau.
Perusahaan dapat kehilangan gambaran mengenai layanan AI apa saja yang digunakan karyawan, berapa banyak token yang dikonsumsi dan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan.
Persoalan juga dapat muncul pada aspek keamanan data. Karyawan mungkin memasukkan informasi perusahaan ke layanan AI yang belum disetujui oleh organisasi.
Semakin banyak layanan yang digunakan, semakin sulit pula bagi bagian TI dan keuangan untuk melakukan pengawasan secara terpusat.
“Banyak perusahaan masih kesulitan dalam merancang kerangka kerja AI. Maka dari itu, TokenKu.ai siap membantu organisasi mengatasi kompleksitas tersebut melalui filosofi ‘Satu Gateway untuk Semua Model AI’,” ujar Sudianto Oei, CEO Hypernet Technologies.
Menurutnya, perusahaan dapat mengontrol akses, tata kelola dan biaya operasional AI sehingga tim internal dapat lebih fokus memanfaatkan teknologi untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
Konsumsi Token Bisa Dipantau Real Time
TokenKu.ai menyediakan kemampuan pemantauan penggunaan AI secara terpusat.
Manajemen perusahaan dapat melihat konsumsi token secara real time berdasarkan individu, divisi maupun model AI yang digunakan.
Fitur tersebut menjadi semakin penting ketika AI tidak lagi sekadar digunakan untuk eksperimen oleh beberapa karyawan, tetapi mulai menjadi bagian dari aktivitas operasional sehari-hari.
Melalui pemantauan tersebut, perusahaan dapat mengetahui siapa yang menggunakan AI, model apa yang digunakan serta seberapa besar konsumsi sumber daya.
Data penggunaan tersebut juga dapat membantu perusahaan mengevaluasi efektivitas penggunaan AI. Model yang paling banyak digunakan dapat dianalisis berdasarkan kebutuhan dan biaya, sementara penggunaan yang dianggap tidak efisien dapat dievaluasi kembali.
Selain pemantauan konsumsi, perusahaan dapat membuat virtual API key untuk mengelola akses terhadap layanan AI.
Pengelolaan melalui API juga dapat membantu tim teknologi mengintegrasikan layanan AI dengan sistem internal perusahaan tanpa harus memberikan akses akun secara langsung kepada setiap pengguna.
Ada Budget Cap untuk Mengontrol Pengeluaran
Masalah biaya menjadi salah satu aspek yang coba diselesaikan TokenKu.ai.
Penggunaan model AI berbasis API umumnya dihitung berdasarkan konsumsi token. Ketika jumlah pengguna dan frekuensi penggunaan meningkat, biaya juga dapat bertambah dengan cepat.
Untuk mengantisipasi pengeluaran yang tidak terkendali, perusahaan dapat menetapkan budget cap atau batas pengeluaran bulanan.
Dengan mekanisme tersebut, organisasi dapat menentukan anggaran yang diperbolehkan untuk penggunaan AI selama periode tertentu.
Budget cap juga dapat diterapkan sebagai bagian dari kebijakan internal perusahaan. Misalnya, organisasi dapat menetapkan batas penggunaan berdasarkan divisi atau kelompok pengguna sesuai kebutuhan dan anggaran.
Langkah tersebut dapat mengurangi risiko tagihan yang tiba-tiba membengkak akibat penggunaan model AI secara berlebihan.
Tidak Perlu Mengelola Banyak Tagihan dalam Dolar
Selain akses terhadap model AI, TokenKu.ai menawarkan penyederhanaan dari sisi pembayaran.
Penggunaan berbagai layanan AI global biasanya membuat perusahaan harus berhadapan dengan beberapa penyedia, mata uang asing dan mekanisme penagihan berbeda.
TokenKu.ai mencoba menggabungkan penggunaan tersebut ke dalam satu invoice resmi.
Tagihan tersebut dilengkapi faktur pajak dan dapat dibayarkan dalam mata uang rupiah. Dengan demikian, perusahaan di Indonesia tidak harus melakukan banyak transaksi dengan penyedia layanan AI global menggunakan kartu kredit dalam mata uang asing.
Hypernet juga menyediakan pilihan pembayaran melalui top up wallet maupun bundling dengan paket managed service Hypernet Technologies.
Bagi bagian keuangan perusahaan, sistem tersebut berpotensi menyederhanakan proses rekonsiliasi biaya AI. Pengeluaran dapat dikumpulkan dalam satu sistem sehingga lebih mudah dipantau dan dicatat.
Menyasar Sektor dengan Kebutuhan Kepatuhan Tinggi
Pada tahap awal, TokenKu.ai akan menyasar industri yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap efisiensi operasional sekaligus tata kelola data.
Sektor yang menjadi fokus awal mencakup Telekomunikasi, Media & Teknologi atau TMT, jasa keuangan dan ritel.
Sektor-sektor tersebut memiliki karakteristik penggunaan data dalam jumlah besar. Di sisi lain, perusahaan di dalamnya juga perlu memperhatikan aspek keamanan dan kepatuhan ketika mengadopsi layanan teknologi baru.
Hypernet berencana memperluas jangkauan TokenKu.ai secara bertahap ke industri lainnya.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa platform ini tidak hanya diposisikan sebagai marketplace model AI, tetapi juga sebagai solusi pengelolaan penggunaan AI untuk kebutuhan korporasi.
Data Penggunaan AI Jadi Lebih Terkontrol
Ketika perusahaan menggunakan satu atau dua layanan AI, pengelolaan secara manual mungkin masih dapat dilakukan. Persoalannya menjadi berbeda ketika jumlah model yang digunakan mencapai puluhan bahkan lebih dari seratus.
Setiap model dapat memiliki karakteristik, kemampuan, harga dan kebutuhan integrasi berbeda.
Tanpa sistem pengelolaan terpusat, perusahaan berpotensi menghadapi apa yang disebut AI sprawl, yaitu kondisi ketika penggunaan berbagai layanan AI menyebar di banyak bagian organisasi tanpa koordinasi yang memadai.
TokenKu.ai mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan menyediakan satu lapisan pengelolaan.
Manajemen dapat mengetahui penggunaan model AI berdasarkan pengguna maupun divisi. Tim TI juga dapat mengatur akses dan virtual API key, sedangkan bagian keuangan mendapatkan mekanisme pembayaran yang lebih terpusat.
Pendekatan ini membuat persoalan penggunaan AI bergeser dari sekadar memilih model terbaik menjadi bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara aman, efisien dan terukur.
TokenKu.ai Jadi Bagian dari Arah Bisnis Hypernet
Peluncuran TokenKu.ai juga memperlihatkan arah perkembangan bisnis Hypernet Technologies setelah menjadi bagian dari XLSMART.
Perusahaan tidak hanya berfokus pada konektivitas dan infrastruktur teknologi informasi, tetapi mulai memperluas layanan ke ekosistem pengelolaan AI untuk korporasi.
Perubahan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap AI. Ketika semakin banyak organisasi menggunakan model generatif untuk pekerjaan sehari-hari, kebutuhan terhadap tata kelola dan kontrol penggunaan juga ikut meningkat.
Data yang disertakan Hypernet menunjukkan tingginya penggunaan AI di lingkungan bisnis Indonesia.
Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025 dari PwC yang dikutip perusahaan menyebut 96 persen pekerja Indonesia yang menggunakan AI generatif setiap hari merasa lebih produktif.
Sementara itu, studi Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026 dari Strand Partners untuk Amazon Web Services menyebut 75 persen bisnis Indonesia yang mengadopsi AI memperoleh peningkatan produktivitas terukur. Angka tersebut disebut mencapai 84 persen pada perusahaan yang menerapkan agentic AI.
Data tersebut menunjukkan bahwa manfaat AI semakin dipertimbangkan oleh perusahaan. Namun, semakin tinggi tingkat adopsi, semakin besar pula kebutuhan terhadap sistem pengawasan.
AI Mana yang Dipakai Mulai Bergeser Menjadi Bagaimana AI Dikelola
Dengan menyediakan akses lebih dari 120 model AI, TokenKu.ai ingin menyederhanakan proses adopsi kecerdasan buatan di lingkungan perusahaan.
Perusahaan tidak lagi harus menentukan satu layanan AI untuk seluruh kebutuhan. Sebaliknya, pengguna dapat memanfaatkan berbagai model sesuai karakteristik pekerjaan, sementara pengelolaan akses dan biaya dilakukan melalui satu platform.
Konsep tersebut juga dapat memberikan fleksibilitas bagi perusahaan ketika kebutuhan AI berubah. Jika sebuah model memiliki kemampuan lebih sesuai untuk pekerjaan tertentu, pengguna dapat mengaksesnya tanpa harus membangun seluruh proses administrasi dari awal.
Pada akhirnya, TokenKu.ai mencoba menjawab persoalan yang muncul setelah AI semakin mudah diakses oleh karyawan.
Tantangan perusahaan kini bukan hanya mencari model AI dengan kemampuan terbaik. Mereka juga harus memastikan penggunaan AI tetap berada dalam batas anggaran, data perusahaan terlindungi, akses dapat dikendalikan dan seluruh biaya dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan lebih dari 120 model AI global dalam satu portal serta dukungan pembayaran menggunakan rupiah, Hypernet Technologies memosisikan TokenKu.ai sebagai salah satu solusi untuk mengelola kompleksitas tersebut di pasar korporasi Indonesia.











