Berita

Telenor Keluar dari Thailand dan Pakistan, Tutup Babak 25 Tahun di Asia Tenggara

132
×

Telenor Keluar dari Thailand dan Pakistan, Tutup Babak 25 Tahun di Asia Tenggara

Sebarkan artikel ini
Telenor Keluar dari Thailand dan Pakistan, Tutup Babak 25 Tahun di Asia Tenggara

Tabengan.com – Keputusan Telenor keluar dari Thailand dan Pakistan menandai perubahan besar dalam peta industri telekomunikasi Asia. Raksasa telekomunikasi asal Norwegia itu resmi melepas seluruh kepemilikan sahamnya di Thailand, sekaligus mengonfirmasi strategi global baru yang lebih selektif dan berorientasi jangka panjang.

Langkah ini sekaligus menutup perjalanan 25 tahun Telenor di Thailand, sebuah pasar yang selama dua dekade lebih menjadi salah satu basis ekspansi penting perusahaan di Asia Tenggara. Kini, Telenor memilih mundur di tengah tekanan konsolidasi, persaingan tarif, dan kebutuhan investasi jaringan yang semakin besar.

Lepas Saham True Corp, Telenor Raup Puluhan Triliun Rupiah

Dalam pernyataan resminya, Telenor Group mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan mitranya di Thailand, True Corporation, untuk menjual seluruh saham dengan nilai mencapai NOK 39 miliar atau setara US$3,9 miliar.

Tahap awal transaksi dilakukan dengan menjual hampir 25 persen saham kepada Arise Digital Technology, perusahaan milik CEO True Corp Suphachai Chearavanont, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Charoen Pokphand Group.

Selain itu, kedua pihak menyepakati opsi penjualan sisa 5,35 persen saham dalam dua tahun setelah transaksi awal, dengan harga per saham yang telah disepakati lebih tinggi. Jika seluruh skema rampung, total nilai transaksi diperkirakan mencapai THB 100,9 miliar ditambah THB 21,9 miliar.

Dengan kesepakatan ini, Telenor keluar dari Thailand dan Pakistan bukan sekadar hengkang, tetapi keluar dengan valuasi tinggi.

Nilai Investasi Melonjak Tiga Kali Lipat

CEO Telenor Group Benedicte Schilbred Fasmer mengungkapkan bahwa nilai investasi perusahaan di Thailand melonjak signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Sebelum merger dengan dtac pada 2021, nilai kepemilikan kami sekitar NOK 12 miliar. Saat ini nilainya mencapai sekitar NOK 39 miliar, berdasarkan harga jual dan nilai tukar saat ini,” ujarnya.

Menurut Fasmer, keputusan Telenor keluar dari Thailand dan Pakistan merupakan bagian dari strategi penyederhanaan struktural yang telah dirancang jauh hari.

“Transaksi ini akan memberikan fokus dan sumber daya untuk prioritas strategis Telenor menuju tahun 2030,” tegasnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Telenor tidak mundur karena kalah bersaing, melainkan karena memilih fokus pada pasar dan model bisnis yang dianggap paling berkelanjutan.

True Corp Tetap Optimistis Pasca Exit Telenor

Di sisi lain, CEO True Corp Suphachai Chearavanont menegaskan bahwa keluarnya Telenor tidak akan mengganggu arah bisnis perusahaan ke depan.

Menurut Suphachai, True berkomitmen mempertahankan momentum pertumbuhan positif dan terus menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

Transaksi pelepasan saham ini masih menunggu persetujuan regulator serta pemenuhan persyaratan standar, dan ditargetkan selesai dalam beberapa bulan ke depan.

Pakistan dan Myanmar Lebih Dulu Ditinggalkan

Thailand bukan satu-satunya negara yang ditinggalkan. Sebelum keputusan Telenor keluar dari Thailand dan Pakistan menjadi sorotan, perusahaan ini telah lebih dulu menjual Telenor Pakistan pada Oktober 2025.

Sementara itu, pada 2021, Telenor juga resmi menarik diri dari Myanmar, menyusul dinamika politik dan tantangan regulasi yang kompleks di negara tersebut.

Serangkaian exit ini memperlihatkan pola yang konsisten: Telenor memilih meninggalkan pasar dengan risiko tinggi atau kebutuhan investasi besar, lalu mengalihkan fokus ke wilayah yang dianggap lebih stabil dan menguntungkan.

Jejak Telenor di Indonesia: Pernah Dekat, Tak Pernah Masuk Penuh

Meski Telenor keluar dari Thailand dan Pakistan, nama perusahaan ini bukan hal asing di Indonesia. Beberapa tahun lalu, Telenor sempat menjadi sorotan publik nasional karena wacana merger dengan XL Axiata.

Isu tersebut sempat memicu spekulasi besar di industri telekomunikasi Indonesia, mengingat potensi terbentuknya operator raksasa baru. Namun, rencana itu akhirnya batal.

Selain itu, Telenor juga pernah menjalin kemitraan strategis dengan Indosat Ooredoo, terutama di sektor distribusi dan layanan digital, meski tanpa kehadiran sebagai operator seluler langsung.

Malaysia Jadi Pengecualian Strategis

Di tengah tren exit dari sejumlah negara Asia, Malaysia justru menjadi pengecualian bagi Telenor.

Pada Desember 2022, Grup Axiata dan Grup Telenor merampungkan merger unit masing-masing di Malaysia dan membentuk CelcomDigi. Dalam struktur kepemilikan, kedua grup sama-sama menguasai 33,1 persen saham.

Operator hasil merger ini memiliki sekitar 20 juta pelanggan dengan pendapatan tahunan mencapai MYR 13 miliar atau setara US$2,9 miliar.

Keberhasilan CelcomDigi menunjukkan bahwa meski Telenor keluar dari Thailand dan Pakistan, perusahaan masih melihat peluang di pasar tertentu dengan struktur yang lebih efisien.

Konsolidasi Operator Jadi Tren Regional

Keputusan Telenor tidak bisa dilepaskan dari gelombang konsolidasi operator telekomunikasi yang melanda Asia dan global.

Tekanan investasi jaringan 5G, menurunnya margin layanan suara dan data, serta disrupsi layanan digital membuat operator harus mengejar skala dan efisiensi.

Indonesia menjadi contoh nyata. Pada awal 2022, Indosat Ooredoo dan Tri Hutchison resmi merger dan membentuk Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Konsolidasi ini memperkuat posisi IOH dalam menghadapi persaingan ketat dengan Telkomsel dan XL Axiata.

Sinyal Kuat dari Keputusan Telenor

Langkah Telenor keluar dari Thailand dan Pakistan mengirim pesan jelas ke industri: ekspansi agresif tanpa batas bukan lagi strategi utama. Operator global kini lebih selektif, fokus pada profitabilitas, dan berani melepas aset meski telah dibangun puluhan tahun.

Bagi industri telekomunikasi Asia, keputusan ini berpotensi:

  • Mempercepat konsolidasi operator lokal
  • Membuka ruang bagi pemain regional dan domestik
  • Mengubah peta persaingan jaringan dan layanan digital

Singkatnya, Telenor memilih menutup satu bab besar dalam sejarah ekspansinya di Asia, dan membuka bab baru dengan strategi yang lebih ramping, terfokus, dan disiplin secara finansial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *