Tabengan.com – Perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan asal Bangkok, SiamAI Thailand, akhirnya buka suara terkait dugaan penyelundupan server AI Nvidia ke China yang tengah diselidiki pemerintah Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya, SiamAI Thailand membantah terlibat dalam ekspor server AI maupun distribusi chip AI Nvidia ke Negeri Tirai Bambu.
Nama SiamAI Thailand menjadi perhatian internasional setelah laporan Bloomberg News mengungkap adanya penyelidikan AS terhadap dugaan pengiriman teknologi AI Amerika Serikat senilai sekitar 2,5 miliar dolar AS ke China melalui Thailand. Kasus tersebut menambah panjang daftar ketegangan geopolitik teknologi antara Washington dan Beijing di tengah persaingan industri artificial intelligence global.
SiamAI Thailand menegaskan bahwa perusahaan mematuhi seluruh aturan kontrol ekspor dan re-ekspor Amerika Serikat. Perusahaan juga menyatakan siap bekerja sama jika sewaktu-waktu diminta memberikan klarifikasi dalam investigasi yang sedang berlangsung.
Kasus ini langsung menarik perhatian pelaku industri teknologi karena melibatkan server AI Nvidia, komponen penting dalam pengembangan model artificial intelligence modern, pusat data hyperscale, hingga superkomputer.
SiamAI Thailand Bantah Ekspor Server AI Nvidia
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui situs perusahaan, SiamAI Thailand menegaskan tidak memiliki hubungan dengan aktivitas ekspor server AI ke China.
“SiamAI tidak terlibat dalam ekspor server AI ke China. SiamAI bersedia bekerja sama dengan itikad baik dengan setiap pertanyaan atau investigasi yang dilakukan oleh pemerintah AS,” tulis perusahaan tersebut.
Selain itu, SiamAI Thailand juga memastikan seluruh operasional bisnis perusahaan tetap mengikuti regulasi internasional terkait teknologi AI dan perangkat komputasi canggih.
“Selanjutnya, SiamAI berkomitmen untuk sepenuhnya mematuhi semua hukum dan peraturan pengendalian ekspor dan re-ekspor AS yang berlaku,” lanjut pernyataan perusahaan.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah nama SiamAI Thailand ikut dikaitkan dengan OBON Corporation, vendor layanan IT dan cloud asal Bangkok yang disebut sebagai pembeli perantara server AI Nvidia.
Investigasi AS Soroti Pengiriman Chip AI Nvidia
Pemerintah Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir memang memperketat pengawasan terhadap distribusi chip AI Nvidia ke China. Washington menilai teknologi artificial intelligence memiliki nilai strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional.
Dalam dakwaan yang dirilis jaksa AS pada Maret lalu, salah satu pendiri Super Micro Computer Inc, Yih-Shyan Liaw, dituduh bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk menghindari aturan kontrol ekspor AS.
Jaksa menyebut teknologi AI asal Amerika Serikat senilai sedikitnya 2,5 miliar dolar AS diduga dikirim ke China melalui jaringan perusahaan perantara. Dari jumlah tersebut, lebih dari 500 juta dolar AS disebut dikirim hanya dalam periode April hingga pertengahan Mei 2025.
Kasus ini membuat pengawasan terhadap server AI Nvidia semakin ketat, terutama di kawasan Asia Tenggara yang kini berkembang menjadi pusat infrastruktur digital dan data center regional.
Chip AI Nvidia sendiri saat ini menjadi komponen utama dalam pengembangan large language model (LLM), cloud computing, machine learning, hingga sistem AI generatif yang digunakan perusahaan teknologi global.
Hubungan SiamAI Thailand dengan OBON Corporation
Bloomberg News sebelumnya mengidentifikasi OBON Corporation sebagai salah satu vendor yang diduga terlibat dalam pembelian server AI Nvidia untuk kemudian dikirim ke China.
CEO SiamAI Thailand saat ini, Ratanaphon Wongnapachant, diketahui pernah menjabat sebagai kepala eksekutif OBON Corporation. Namun ia menegaskan telah meninggalkan perusahaan tersebut sebelum dugaan pelanggaran ekspor terjadi.
SiamAI Thailand juga membantah laporan yang menyebut perusahaan berbagi kantor pusat dengan OBON Corporation.
“SiamAI mempertahankan kantor pusat independen dan tidak berbagi kantor dengan OBON,” tulis perusahaan dalam klarifikasinya.
Pernyataan tersebut bertujuan meluruskan spekulasi mengenai hubungan operasional kedua perusahaan di tengah investigasi server AI Nvidia yang sedang berlangsung.
SiamAI Thailand Jadi Mitra Cloud Nvidia
Di industri artificial intelligence Asia Tenggara, SiamAI Thailand dikenal sebagai salah satu pemain penting dalam pengembangan ekosistem AI lokal.
Perusahaan tersebut merupakan mitra cloud resmi Nvidia pertama di Thailand. Status itu menjadikan SiamAI Thailand memiliki akses terhadap teknologi komputasi AI canggih yang digunakan untuk pengembangan model bahasa besar atau large language model.
Salah satu proyek utama SiamAI Thailand adalah pengembangan LLM lokal yang dirancang khusus memahami bahasa Thailand, konteks budaya, sistem hukum, serta nuansa sosial masyarakat setempat.
Strategi pengembangan AI lokal kini menjadi tren di banyak negara karena model global sering dianggap kurang memahami konteks bahasa dan budaya regional.
Nama SiamAI Thailand semakin dikenal setelah CEO Nvidia Jensen Huang menghadiri acara gala perusahaan pada Desember 2024.
Acara tersebut turut dihadiri mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra yang diketahui merupakan paman dari CEO SiamAI Thailand, Ratanaphon Wongnapachant.
Kehadiran Jensen Huang saat itu memperlihatkan posisi Thailand yang semakin penting dalam peta perkembangan artificial intelligence dan cloud infrastructure Asia Tenggara.
Thailand Jadi Pusat Baru Infrastruktur AI
Dalam beberapa tahun terakhir, Thailand berhasil menarik investasi besar di sektor data center dan teknologi artificial intelligence.
Perusahaan global seperti Microsoft, Google milik Alphabet Inc, dan TikTok milik ByteDance telah mengumumkan pembangunan infrastruktur cloud dan pusat data di Thailand.
Perkembangan tersebut membuat kebutuhan server AI Nvidia meningkat tajam di negara tersebut. Thailand kini dipandang sebagai salah satu pusat pertumbuhan infrastruktur digital baru di Asia Tenggara.
Namun meningkatnya investasi AI juga membuat negara-negara regional mendapat perhatian khusus dari regulator Amerika Serikat terkait distribusi chip AI Nvidia.
Washington khawatir teknologi AI canggih dapat dialihkan ke China melalui negara ketiga untuk menghindari pembatasan ekspor.
Karena itu, investigasi terhadap pengiriman server AI Nvidia melalui Thailand menjadi salah satu kasus yang sangat diperhatikan pemerintah AS.
Persaingan AI Global Semakin Panas
Kasus yang menyeret nama SiamAI Thailand menunjukkan bagaimana industri artificial intelligence kini tidak hanya menjadi arena bisnis teknologi, tetapi juga bagian dari persaingan geopolitik global.
Amerika Serikat dan China saat ini berlomba menguasai teknologi AI, terutama dalam pengembangan large language model, cloud infrastructure, dan superkomputer.
Nvidia menjadi salah satu perusahaan paling strategis dalam persaingan tersebut karena chip AI buatannya mendominasi pasar global.
Permintaan terhadap server AI Nvidia terus melonjak sejak ledakan penggunaan AI generatif seperti ChatGPT dan berbagai platform kecerdasan buatan lainnya.
Teknologi chip AI Nvidia kini digunakan untuk melatih model AI skala besar, menjalankan data center hyperscale, hingga mendukung riset teknologi militer.
Karena itu, pemerintah AS terus memperketat aturan kontrol ekspor untuk mencegah teknologi tersebut jatuh ke pihak yang dianggap berpotensi mengancam kepentingan nasional Amerika.
Di tengah situasi tersebut, SiamAI Thailand menegaskan fokus perusahaan tetap berada pada pengembangan teknologi AI lokal dan infrastruktur cloud yang sesuai regulasi internasional.
Bagi Thailand, perkembangan industri artificial intelligence menjadi peluang besar untuk memperkuat posisi negara sebagai pusat ekonomi digital Asia Tenggara. Namun di sisi lain, meningkatnya pengawasan global terhadap distribusi chip AI Nvidia juga membuat perusahaan teknologi di kawasan harus lebih berhati-hati dalam menjalankan bisnis lintas negara.











