Tabengan.com – Posisi Oppo di Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika pada periode 2019 hingga 2022 merek asal Shenzhen ini sempat menikmati status sebagai pemimpin pasar, kini realitasnya berbeda. Data terbaru menunjukkan Oppo tidak lagi berada di puncak, melainkan harus bersaing ketat di papan tengah lima besar.
Perjalanan posisi Oppo di Indonesia dimulai dari momentum besar pada 2019. Berdasarkan laporan Canalys, Oppo sukses meraih sekitar 26 persen pangsa pasar pada kuartal II 2019. Capaian tersebut bukan sekadar angka, tetapi simbol keberhasilan memutus dominasi Samsung yang sebelumnya lama memimpin sejak 2011.
Pertumbuhan Oppo kala itu mencapai 54 persen secara tahunan. Seri A dan F menjadi motor utama penjualan. Strategi menghadirkan fitur premium ke perangkat kelas menengah terbukti efektif menjawab karakter konsumen Indonesia yang sensitif harga namun tetap menginginkan spesifikasi tinggi.
Momentum berlanjut ke 2021. Data IDC menunjukkan Oppo kembali menjadi penguasa pasar dengan pangsa sekitar 20,8 persen dan total pengiriman mencapai 8,5 juta unit. Fokus pada segmen low-end memperluas penetrasi pasar dan memperkuat posisi Oppo di Indonesia.
Pada 2022, Oppo kembali mencatatkan performa impresif. IDC melaporkan pangsa pasar Oppo mencapai 22,4 persen. Meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih akibat dampak pandemi Covid-19, Oppo tetap mampu mempertahankan kepemimpinan berkat kekuatan seri A dan Reno di segmen menengah ke bawah.
Namun pasar smartphone Indonesia dikenal sangat kompetitif. Mempertahankan posisi Oppo di Indonesia ternyata lebih sulit dibanding merebutnya.
Memasuki 2023, Samsung bangkit dan mengambil alih posisi teratas dengan pangsa 20,0 persen. Oppo turun ke posisi kedua dengan 19,1 persen. Selisihnya memang tipis, tetapi secara psikologis menjadi sinyal perubahan arah kompetisi.
Tahun 2024 menghadirkan kejutan lebih besar. Transsion Holdings, melalui Infinix, Tecno, dan Itel, berhasil menjadi pemimpin pasar dengan pangsa 18,3 persen dan pertumbuhan YoY mencapai 61,7 persen. Dalam periode ini, posisi Oppo di Indonesia turun ke peringkat kedua dengan pangsa 17,8 persen, meski masih mencatat pertumbuhan 7,6 persen secara tahunan.
Perubahan belum berhenti. Sepanjang 2025, berdasarkan laporan Omdia yang dirilis Februari 2026, Xiaomi menjadi penguasa pasar dengan pangsa 19 persen. Komposisi lima besar menempatkan Transsion di posisi kedua (18 persen), Samsung (17 persen), Oppo (16 persen), dan Vivo (15 persen).
Artinya, posisi Oppo di Indonesia kini berada di peringkat keempat. Dari pernah menjadi raja pasar, Oppo kini harus berjuang mempertahankan tempat di papan atas.
Penurunan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Pasar Indonesia saat ini berada dalam fase hyper competition. Jumlah pemain semakin banyak, margin makin tipis, dan siklus pergantian perangkat semakin panjang.
Daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih. Konsumen cenderung menahan perangkat lebih lama sebelum melakukan upgrade. Kondisi ini membuat pertumbuhan volume semakin sulit dicapai.
Transsion sukses dengan strategi agresif di segmen harga terjangkau. Xiaomi konsisten menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga kompetitif. Samsung memperkuat ekosistem dan lini produk yang luas. Di tengah tekanan tersebut, posisi Oppo di Indonesia menghadapi tantangan dari berbagai arah.
Meski demikian, Oppo masih bertahan di lima besar. Dalam konteks sejarah pasar smartphone Indonesia, itu bukan pencapaian kecil. Banyak merek besar yang sebelumnya populer kini telah lenyap.
Nama-nama seperti Sony, Lenovo, Coolpad, Hisense, Meizu, Blackberry, Gionee, hingga LG sudah tidak lagi memiliki pengaruh signifikan di pasar domestik. Brand lokal seperti Nexian, Mito, IMO, Andromax, Evercoss, dan Polytron pun telah tumbang oleh perubahan zaman.
Fakta bahwa posisi Oppo di Indonesia masih berada di jajaran elite menunjukkan daya tahan merek ini belum habis. Namun menjadi peringkat empat tentu bukan target ideal bagi perusahaan yang pernah memimpin pasar beberapa tahun berturut-turut.
Ke depan, Oppo perlu menyesuaikan strategi. Diferensiasi produk menjadi krusial. Integrasi fitur berbasis kecerdasan buatan, peningkatan kualitas kamera, serta optimalisasi performa di segmen menengah akan menjadi penentu.
Distribusi luas yang selama ini menjadi kekuatan Oppo harus diimbangi dengan pendekatan pemasaran digital yang lebih presisi. Brand activation konvensional tetap penting, tetapi perilaku konsumen kini semakin bergeser ke platform online.
Posisi Oppo di Indonesia hari ini adalah refleksi dinamika pasar yang terus berubah. Dalam industri yang bergerak cepat, tidak ada jaminan dominasi bertahan lama.
Kompetisi ini lebih menyerupai maraton daripada sprint. Bukan hanya soal siapa yang memimpin di awal, tetapi siapa yang mampu menjaga stamina inovasi dan efisiensi hingga akhir.
Jika Oppo mampu membaca perubahan tren dan merespons dengan strategi yang tepat, peluang untuk kembali memperkuat posisi Oppo di Indonesia tetap terbuka. Namun jika adaptasi berjalan lambat, risiko tergeser lebih jauh bukan hal yang mustahil.
Pasar Indonesia selalu menjadi arena ujian bagi brand smartphone. Dan bagi Oppo, fase ini bisa menjadi momentum kebangkitan—atau peringatan keras bahwa dominasi masa lalu tidak menjamin masa depan.











