Tabengan.com – Dominasi Tesla di segmen sedan listrik premium China mulai goyah. Perang harga kendaraan listrik (EV) yang kian brutal membuka jalan bagi pemain baru, dan Xiaomi kini muncul sebagai penantang paling serius lewat sedan listrik perdananya, Xiaomi SU7.
Data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) menunjukkan, penjualan Xiaomi SU7 di pasar domestik mencapai 258.164 unit sepanjang 2025, atau hampir 30 persen lebih tinggi dibandingkan Tesla Model 3 yang mencatatkan pengiriman 200.361 unit. Angka ini menjadi tonggak penting: untuk pertama kalinya sejak debut Model 3 pada 2019, takhta sedan listrik premium China resmi tergeser.
Bagi industri otomotif China, momen ini lebih dari sekadar statistik penjualan. Ini adalah simbol keberhasilan produsen lokal menantang ikon global seperti Tesla—dan kali ini, bukan dengan imitasi, melainkan lewat kombinasi teknologi, harga agresif, dan ekosistem digital.
Xiaomi SU7, “Pembunuh Tesla” yang Datang Tepat Waktu
Xiaomi SU7 mulai dikirim ke konsumen pada Maret 2024. Meski berstatus pendatang baru di industri otomotif, Xiaomi bergerak cepat memanfaatkan reputasinya sebagai raksasa teknologi dan vendor smartphone global.
SU7 diposisikan langsung sebagai rival Tesla Model 3 di segmen sedan listrik sporty. Di atas kertas, spesifikasinya terlihat mengintimidasi:
– Akselerasi 0–100 km/jam hanya 2,78 detik untuk varian Max
– Jarak tempuh hingga 800 km lebih (CLTC)
– Integrasi mendalam dengan ekosistem smartphone dan perangkat pintar Xiaomi
Semua itu ditawarkan dengan harga lebih terjangkau. Varian dasar Tesla Model 3 dibanderol 235.500 yuan, sekitar 9 persen lebih mahal dibandingkan SU7 standar. Bagi konsumen China yang semakin sensitif terhadap harga namun tetap menuntut teknologi mutakhir, selisih ini terasa signifikan.
“Dominasi Tesla di segmen EV premium telah terkikis oleh para pesaing dari China yang mampu menghadirkan teknologi setara dengan harga lebih rendah,” kata Eric Han, manajer senior konsultan otomotif Shanghai, Suolei.
Menurutnya, keberhasilan Xiaomi memberi suntikan kepercayaan diri bagi produsen mobil China lain yang tengah berlomba menaikkan nilai tambah produk mereka.
Tesla Masih Kuat, Tapi Tak Lagi Sendirian
Meski terpukul di segmen sedan premium, Tesla belum sepenuhnya kehilangan taji. Pabriknya di Shanghai masih menjadi tulang punggung produksi Model Y, yang pada 2025 tercatat sebagai SUV terlaris di China, mengalahkan pesaing listrik maupun berbahan bakar bensin.
Namun secara keseluruhan, performa Tesla di China mulai melandai. Sepanjang 2025, pengiriman Tesla di daratan China turun 4,8 persen secara tahunan menjadi 625.698 unit. Pangsa pasarnya pun menyusut drastis—dari 16 persen pada 2020 menjadi hanya 6,9 persen pada 2024, seiring gempuran puluhan model EV lokal dengan fitur cerdas serupa.
“Masih terlalu dini menyimpulkan Tesla tidak bisa bangkit kembali, terutama karena Model Y tetap sangat kuat,” ujar Gao Shen, analis independen otomotif di Shanghai. Namun ia menegaskan, tekanan kompetitif kini jauh lebih berat dibanding lima tahun lalu.
Perang Harga Tekan Margin, Risiko Mengintai
Kebangkitan Xiaomi SU7 terjadi di tengah lanskap EV China yang penuh paradoks. Di satu sisi, penjualan melonjak, dipimpin raksasa seperti BYD, produsen EV terbesar di dunia. Di sisi lain, hanya segelintir dari sekitar 50 produsen EV di China yang benar-benar mencetak keuntungan.
Biaya riset dan pengembangan yang tinggi, ditambah perang harga tanpa ampun, terus menekan margin. Xiaomi, meski diuntungkan oleh ekosistem teknologi dan basis pengguna smartphone yang besar, tetap menghadapi tantangan berat dalam menjaga profitabilitas jangka panjang.
Isu keselamatan juga menjadi sorotan. Pada Maret lalu, kecelakaan fatal SU7 di Tongling, Anhui, menewaskan tiga orang saat sistem bantuan pengemudi aktif. Insiden ini mendorong otoritas China memperketat pengawasan terhadap teknologi pengemudian otonom tahap awal.
Kecelakaan lain pada Oktober 2024 di Chengdu, Sichuan—melibatkan SU7 Ultra—juga memicu kontroversi, terutama terkait akses darurat dan keselamatan penumpang.
Menanggapi hal tersebut, Lei Jun, pendiri sekaligus CEO Xiaomi, menegaskan bahwa keselamatan akan menjadi prioritas utama dalam pengembangan model-model berikutnya.
SU7 Versi Baru: Jarak Tempuh Tembus 900 Km
Untuk menjaga momentum, Xiaomi tak mengendurkan gas. Awal bulan ini, perusahaan meluncurkan versi terbaru Xiaomi SU7 dengan jarak tempuh lebih dari 900 km sekali pengisian daya.
Varian tertinggi menawarkan jangkauan 902 km, meningkat signifikan dibandingkan 830 km pada versi Pro. Harga awalnya dipatok 229.900 yuan, naik sekitar 6,5 persen dari versi sebelumnya—kenaikan yang dinilai wajar mengingat lonjakan spesifikasi.
Langkah ini menunjukkan ambisi Xiaomi untuk tidak sekadar menang sesaat, tetapi membangun posisi jangka panjang di industri otomotif listrik.
Babak Baru Persaingan EV China
Kisah Xiaomi SU7 melampaui narasi “pembunuh Tesla”. Ini adalah cerminan fase baru industri EV China: ketika perusahaan teknologi berani masuk ke otomotif, membawa logika ekosistem digital, skala produksi, dan strategi harga agresif.
Tesla masih punya basis loyal, infrastruktur pengisian daya kuat, dan reputasi global. Namun di China—pasar EV terbesar dunia—keunggulan itu kini harus dipertahankan dengan kerja ekstra.
Satu hal pasti: persaingan sedan listrik premium China tak lagi satu arah. Dan bagi konsumen, ini kabar baik—karena inovasi, harga kompetitif, dan teknologi canggih kini datang dalam satu paket yang semakin sulit ditolak.





