Berita

Iran Acak Sinyal Starlink, Klaim Gunakan Jammer Militer Buatan Rusia

88
×

Iran Acak Sinyal Starlink, Klaim Gunakan Jammer Militer Buatan Rusia

Sebarkan artikel ini
Iran Acak Sinyal Starlink, Klaim Gunakan Jammer Militer Buatan Rusia

Tabengan.com – Iran acak sinyal Starlink milik Starlink dan mengklaim keberhasilan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan teknologi peperangan elektronik buatan Rusia. Langkah ini secara signifikan mengubah strategi konektivitas alternatif yang selama ini digunakan demonstran dan aktivis anti-rezim ketika akses internet konvensional dibatasi pemerintah.

Berdasarkan laporan Iran Wire, Selasa (13/1/2026), meskipun puluhan ribu terminal Starlink tercatat aktif di wilayah Iran, pemerintah setempat tetap mampu mengganggu koneksi satelit tersebut. Pada tahap awal, gangguan hanya memengaruhi sekitar 30 persen lalu lintas uplink dan downlink. Namun, dalam hitungan jam, tingkat gangguan melonjak hingga lebih dari 80 persen, menandai eskalasi serius ketika Iran acak sinyal Starlink secara masif.

Lembaga pemantau internet global NetBlocks turut mengonfirmasi penurunan kualitas layanan Starlink di Iran. NetBlocks menyebut jamming menyebabkan koneksi menjadi tidak stabil, meskipun di beberapa lokasi tertentu sinyal masih dapat diakses secara sporadis.

Hingga kini, mekanisme teknis pasti bagaimana Iran acak sinyal Starlink belum diungkap secara resmi. Namun, sejumlah pakar menilai metode yang digunakan kemungkinan besar berfokus pada jamming terminal pengguna, sehingga kemampuan perangkat Starlink dalam menerima sinyal satelit menjadi terganggu.

Diduga Gunakan Jammer Rusia Murmansk-BN

Sejumlah unggahan di media sosial dan analisis keamanan menuding sistem peperangan elektronik Rusia yang baru diimpor Iran sebagai faktor kunci. Salah satu perangkat yang disebut-sebut digunakan adalah Murmansk-BN, sistem jammer berbasis truk militer yang dikenal memiliki daya ganggu sangat kuat.

Murmansk-BN merupakan sistem electronic warfare canggih buatan Rusia yang dirancang untuk mengacaukan komunikasi pada rentang frekuensi tinggi (HF) 3–30 MHz. Sistem ini mampu mengganggu sinyal radio, satelit, GPS, hingga komunikasi militer lawan. Dengan jangkauan efektif 5.000–8.000 kilometer, Murmansk-BN dinilai cukup mumpuni untuk mendukung operasi ketika Iran acak sinyal Starlink di wilayahnya.

Laporan Forbes menyebut pendekatan “kill switch” terhadap Starlink bukan tanpa biaya besar. Upaya jamming berskala luas diperkirakan menelan biaya sekitar US$1,56 juta atau setara Rp24 miliar per jam, menjadikannya operasi mahal yang hanya bisa dilakukan dalam skala terbatas waktu.

Starlink Jadi Sasaran Banyak Negara

Kasus Iran acak sinyal Starlink memperkuat fakta bahwa jaringan internet satelit berbasis konstelasi kini menjadi perhatian serius banyak negara. Starlink, yang dikembangkan oleh Elon Musk, selama ini dipandang sebagai solusi konektivitas tangguh di wilayah konflik dan area tanpa infrastruktur jaringan.

Di China, para peneliti juga mulai mengkaji cara melumpuhkan jaringan satelit konstelasi dalam skenario konflik masa depan. Sebuah studi akademis yang diterbitkan dalam jurnal Systems Engineering and Electronics menyimpulkan bahwa jaringan seperti Starlink dapat diganggu, tetapi membutuhkan biaya dan sumber daya yang sangat besar.

Studi tersebut mensimulasikan bahwa untuk memutus sinyal Starlink di wilayah seluas Taiwan, militer harus mengerahkan sekitar 1.000 hingga 2.000 drone yang dilengkapi perangkat jammer dan dioperasikan secara bersamaan. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun Iran acak sinyal Starlink menjadi preseden penting, tantangan teknis dan biaya tetap menjadi penghambat utama bagi negara lain.

Perhatian global terhadap Starlink juga tidak lepas dari perannya dalam konflik Rusia–Ukraina. Jaringan satelit ini terbukti menjadi urat nadi komunikasi bagi Ukraina, memungkinkan konektivitas internet dan komunikasi militer tetap berjalan di tengah serangan intensif.

Dengan jumlah satelit Starlink yang dilaporkan telah melampaui 10.000 unit sejak Oktober 2025, konstelasi ini menjadi yang terbesar di dunia. Namun, keberhasilan Iran acak sinyal Starlink menunjukkan bahwa dominasi teknologi satelit tetap memiliki celah ketika berhadapan dengan sistem peperangan elektronik negara.

Kasus ini menegaskan bahwa pertarungan teknologi global kini tidak lagi sekadar soal kecepatan internet, tetapi telah masuk ke ranah geopolitik, keamanan nasional, dan kontrol informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *