Contoh Iklan
Berita

Starlink di Iran Mati Kutu, Rezim Teheran Gelapkan Langit Digital di Tengah Gelombang Protes

129
×

Starlink di Iran Mati Kutu, Rezim Teheran Gelapkan Langit Digital di Tengah Gelombang Protes

Sebarkan artikel ini
Starlink di Iran Mati Kutu, Rezim Teheran Gelapkan Langit Digital di Tengah Gelombang Protes
Contoh Iklan

Tabengan.com – Langit digital Iran mendadak gelap. Tepat setelah pukul 20.00 waktu setempat, Kamis (8/1), pemerintah Iran mematikan akses internet secara total di seluruh negeri. Dalam hitungan menit, sekitar 85 juta penduduk Iran terputus dari dunia luar—tanpa media sosial, tanpa panggilan internasional, bahkan tanpa layanan perbankan digital.

Langkah ekstrem ini bukan hal baru, namun skalanya kali ini jauh lebih agresif. Pemerintah Teheran kembali mengandalkan taktik klasik yang biasa digunakan saat demonstrasi besar atau konflik bersenjata: memutus total komunikasi rakyatnya dengan dunia internasional dan diaspora Iran yang tersebar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Timur Tengah.

Tujuannya satu: membungkam narasi.

Protes Membesar, Internet Menghilang

Pemadaman ini terjadi di tengah gelombang demonstrasi nasional yang dipicu kondisi ekonomi Iran yang kian memburuk. Inflasi tinggi, mata uang melemah, dan tekanan hidup yang makin berat mendorong warga turun ke jalan di berbagai kota besar.

Sebelum Kamis malam itu, warga Iran masih mampu “bernapas” di dunia digital. Aplikasi yang diblokir pemerintah tetap bisa diakses lewat VPN, sebuah praktik yang sudah menjadi keseharian. Namun kali ini, celah itu ditutup rapat.

Akibatnya, publik tidak lagi bisa membagikan foto, video, maupun kesaksian lapangan terkait aksi protes. Iran praktis berubah menjadi ruang hampa informasi.

Situasi ini juga memberi ruang aman bagi tindakan represif aparat. Apalagi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka memperingatkan pemerintah Iran terkait konsekuensi jika jatuh korban jiwa tambahan di kalangan demonstran.

Diaspora Iran Diliputi Kecemasan

Bagi warga Iran di luar negeri, pemadaman internet ini memicu kecemasan luar biasa. Jaksa Agung Iran bahkan memperingatkan bahwa siapa pun yang terlibat dalam protes akan dicap sebagai “musuh Tuhan”, tuduhan berat yang dapat berujung hukuman mati.

“Anda tidak bisa membayangkan kecemasan diaspora Iran,” ujar Azam Jangravi, pakar keamanan siber asal Toronto yang dikenal vokal mengkritik rezim Teheran.

“Saya menunda rapat kerja karena tidak bisa fokus. Pikiran saya hanya pada keluarga dan teman-teman yang turun ke jalan.”

Bukan Kali Pertama Iran Memadamkan Internet

Pemutusan internet ini menandai kali ketiga Iran melakukan blackout nasional.

Peristiwa serupa terjadi pada 2019, saat protes kenaikan harga bensin bersubsidi meledak. Lebih dari 300 orang dilaporkan tewas.
Kemudian pada 2022, pemadaman kembali dilakukan saat gelombang demonstrasi menyusul kematian Mahsa Amini, perempuan muda yang ditangkap polisi moral karena dugaan pelanggaran aturan hijab. Lebih dari 500 orang tewas dalam penindakan selama sebulan.

Namun, kali ini ada satu variabel baru yang membuat pemerintah Iran terlihat jauh lebih gelisah: Starlink di Iran.

Starlink di Iran: Ilegal tapi Menyala

Meski tidak pernah mendapat izin resmi, layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk diam-diam telah menyebar luas di Iran. Kepemilikan dan penggunaannya ilegal, tetapi justru itulah yang membuatnya efektif.

Setahun lalu, seorang pejabat Iran memperkirakan terdapat puluhan ribu perangkat Starlink di Iran. Angka tersebut dinilai masuk akal oleh Mehdi Yahyanejad, aktivis kebebasan internet yang berbasis di Los Angeles.

Sebagian besar perangkat memang digunakan pebisnis untuk bertahan hidup secara ekonomi. Namun dalam situasi krisis, Starlink di Iran berubah fungsi menjadi senjata informasi.

“Starlink memainkan peran kunci dalam menyebarkan video dan laporan protes,” kata Yahyanejad.

Rezim Iran Balas dengan Teknologi Militer

Namun Starlink di Iran tak dibiarkan bekerja bebas. Sejak konflik 12 hari dengan Israel pada Juni lalu, Iran mulai mengganggu sinyal GPS—komponen vital bagi perangkat Starlink untuk menentukan posisi dan terkoneksi ke satelit orbit rendah.

Amir Rashidi, Direktur Hak dan Keamanan Digital di Miaan Group, mencatat gangguan serius sejak Kamis lalu. Sekitar 30 persen paket data Starlink hilang, bahkan di beberapa wilayah mencapai 80 persen.

Lebih mencemaskan, Rashidi mendeteksi penggunaan pengacau sinyal berstandar militer yang secara spesifik menargetkan satelit Starlink.

“Ini belum pernah saya lihat dalam 20 tahun penelitian,” ujarnya.

Menurut Rashidi, teknologi tersebut kemungkinan dipasok oleh Rusia atau China—atau dikembangkan sendiri oleh Iran dengan standar militer tinggi.

Mati Kutu di Langit, Lumpuh di Darat

Akibat gangguan masif ini, kualitas Starlink di Iran menjadi tidak merata. Ada wilayah yang masih bisa terhubung, ada pula yang benar-benar gelap total.

Perkiraan terbaru menyebutkan jumlah pengguna Starlink di Iran mencapai 40.000–50.000 orang. Bahkan saat pemadaman internet 12 hari selama perang Iran–Israel musim panas 2025, sebagian pengguna masih berhasil menembus sensor.

Namun kali ini, bahkan koneksi satelit pun ikut tersendat.

Di darat, dampaknya langsung terasa. Sistem perbankan lumpuh. Aplikasi transportasi daring seperti Snapp dan Tapsi mati. Platform belanja daring dan media sosial domestik ikut offline. Panggilan internasional diblokir total.

Aplikasi panggilan seperti Yolla mengonfirmasi adanya pembatasan aktif.

Iran Menuju Internet Versi Tertutup

Menurut Rashidi, Iran dalam beberapa tahun terakhir memang tengah membangun sistem internet tertutup. Konsepnya mirip China: warga tetap bisa berkomunikasi di dalam negeri, tetapi akses ke dunia luar dikunci.

Model serupa juga tengah dikembangkan India dan Rusia. Negeri Beruang Merah bahkan menggarap “super app” ala WeChat untuk menggantikan layanan global.

Bedanya, Iran sedang mengujinya dalam kondisi krisis.

Dan hasilnya jelas: ketika langit digital digelapkan dan Starlink di Iran dibuat mati kutu, yang tersisa hanyalah rakyat yang terisolasi—dan rezim yang makin paranoid terhadap sinyal dari luar angkasa.

Jika internet adalah medan perang baru, Iran baru saja menyalakan jammer dan mematikan bintang.

Contoh Iklan
Contoh Iklan
Contoh Iklan