Tabengan.com – Smartwatch kini menjadi bagian dari gaya hidup modern. Perangkat wearable pintar buatan Apple, Google, dan produsen besar lainnya dipakai untuk melacak aktivitas fisik, pola tidur, detak jantung, hingga kondisi kesehatan harian. Namun di balik manfaat tersebut, tersimpan risiko serius terkait data kesehatan smartwatch yang jarang disadari pengguna.
Smartwatch tidak hanya merekam langkah kaki atau jumlah kalori. Perangkat ini juga menyimpan informasi sensitif seperti lokasi, rutinitas olahraga, jam tidur, hingga pola biologis tubuh. Ketika data ini terhubung dengan akun digital, potensi penyalahgunaan pun terbuka lebar.
Manfaat Besar, Risiko Tak Kecil
Tak bisa dipungkiri, data kesehatan dari smartwatch sangat berguna. Informasi ini dapat membantu:
- mendeteksi masalah medis sejak dini,
- memantau respons tubuh terhadap pengobatan,
- memberikan data objektif bagi dokter,
- hingga memantau kondisi harian pengguna.
Namun, teknologi ini masih relatif baru dan berada di bawah kendali perusahaan teknologi raksasa. Di sinilah masalah muncul. Meski perusahaan mengklaim melindungi privasi, praktik pengelolaan data kesehatan smartwatch kerap menimbulkan tanda tanya.
Apakah Data Kesehatan Benar-Benar Aman?
Berbeda dengan data pencarian internet biasa, data kesehatan sebenarnya dilindungi oleh berbagai regulasi. Namun, perlindungan ini tidak selalu berarti data sepenuhnya aman dari pembagian ke pihak ketiga.
Dalam kebijakan privasi Fitbit (Google), disebutkan bahwa pengguna memiliki kontrol atas data yang dibagikan dan dapat menghapus data kapan saja. Fitbit juga menyatakan tidak menjual data kesehatan untuk iklan.
Namun, terdapat klausul penting: data kesehatan dapat dibagikan dengan persetujuan pengguna atau untuk alasan hukum. Artinya, dalam kondisi tertentu, data kesehatan smartwatch bisa diminta oleh otoritas hukum.
Kekhawatiran Data Dipanggil Pengadilan
Isu ini bukan sekadar teori. Benjamin Smarr, profesor madya Universitas California San Diego, meneliti penggunaan smartwatch untuk melacak kehamilan dan keguguran melalui perubahan suhu tubuh.
Masalahnya, data yang sama berpotensi dipanggil pengadilan, terutama di wilayah dengan regulasi ketat terkait aborsi. Dalam konteks ini, data kesehatan smartwatch bisa berubah dari alat bantu medis menjadi bukti hukum.
Apple Juga Tidak Sepenuhnya Tertutup
Apple dikenal vokal soal privasi. Perusahaan ini menegaskan tidak menjual data kesehatan pribadi. Namun dalam kebijakan privasinya, Apple menyebut dapat mengungkapkan data—termasuk data kesehatan—kepada:
- perusahaan afiliasi,
- penyedia layanan,
- atau pihak lain yang dianggap “diperlukan secara wajar”.
Dengan kata lain, pihak ketiga tetap berpotensi menerima data kesehatan pengguna, meski bukan untuk iklan secara langsung.
Kasus Nyata: Data Bocor dan Lokasi Terungkap
Sejumlah kasus nyata menunjukkan bahwa risiko data kesehatan smartwatch bukan isapan jempol.
Pada 2022, Google harus membayar hampir US$400 juta setelah terbukti melacak lokasi pengguna Fitbit meski pengaturan lokasi telah dimatikan.
Kasus lain yang lebih serius terjadi pada 2018, ketika data latihan militer AS yang direkam smartwatch dan dibagikan ke platform Strava tanpa disadari mengungkap lokasi dan rute patroli pasukan di luar negeri. Informasi ini berpotensi membahayakan keamanan nasional.
Pada 2025, sebuah studi di jurnal Nature menemukan bahwa perusahaan teknologi besar, termasuk Apple dan Google, sering tidak transparan dalam menjelaskan:
- data apa yang dibagikan,
- kepada siapa,
- dan untuk tujuan apa.
Lokasi Jadi Data Paling Sensitif
Ironisnya, data lokasi seharusnya menjadi yang paling mudah dilindungi. Namun justru data inilah yang paling sering bermasalah dalam ekosistem smartwatch.
Ketika digabungkan dengan waktu, rutinitas, dan aktivitas fisik, data lokasi dapat membentuk profil perilaku pengguna yang sangat detail—jauh lebih sensitif daripada sekadar riwayat pencarian internet.
Apa yang Bisa Dilakukan Pengguna?
Meski belum sepenuhnya aman, pengguna tetap bisa mengurangi risiko dengan langkah sederhana:
- meninjau pengaturan privasi smartwatch secara berkala,
- mematikan pelacakan lokasi yang tidak diperlukan,
- membatasi integrasi aplikasi pihak ketiga,
- menghapus data lama secara rutin,
- dan membaca kebijakan privasi sebelum menyetujui pembaruan.
Kesadaran pengguna menjadi benteng pertama dalam melindungi data kesehatan smartwatch.
Kesimpulan
Smartwatch menawarkan manfaat besar bagi kesehatan, tetapi juga membawa risiko privasi yang tidak bisa diabaikan. Dari potensi pembagian data ke pihak ketiga hingga kemungkinan digunakan dalam proses hukum, data kesehatan smartwatch masih berada di wilayah abu-abu.
Teknologi ini belum sepenuhnya matang dari sisi perlindungan data. Selama transparansi dan regulasi belum benar-benar kuat, pengguna perlu lebih waspada.
Memantau kesehatan memang penting, tetapi menjaga privasi kesehatan pribadi tidak kalah krusial.




