Berita

Sari Baldauf Mundur dari Nokia, Sosok di Balik Masa Kejayaan Bisnis Ponsel

124
×

Sari Baldauf Mundur dari Nokia, Sosok di Balik Masa Kejayaan Bisnis Ponsel

Sebarkan artikel ini
Sari Baldauf Mundur dari Nokia, Sosok di Balik Masa Kejayaan Bisnis Ponsel

Tabengan.com – Sari Baldauf mundur dari Nokia setelah perusahaan jaringan telekomunikasi asal Finlandia itu mengumumkan rencana pergantian kepemimpinan di tingkat dewan direksi. Pada Kamis (29/1), Nokia menyatakan bahwa Baldauf akan melepas jabatannya sebagai Ketua Dewan Direksi dan posisinya akan digantikan oleh Timo Ihamuotila, sosok yang juga memiliki rekam jejak panjang di internal perusahaan.

Pengunduran diri Sari Baldauf terjadi di tengah fase transformasi besar Nokia, ketika perusahaan tengah mengarahkan ulang strategi bisnisnya ke kecerdasan buatan (AI) dan pusat data, menyusul tekanan kinerja keuangan dan melemahnya bisnis jaringan seluler global. Langkah ini sekaligus menandai berakhirnya peran salah satu figur kunci yang pernah berada di lingkaran kepemimpinan Nokia pada masa kejayaan bisnis ponsel.

Secara kinerja, Nokia saat ini belum sepenuhnya pulih. Pada kuartal keempat, laba operasional yang sebanding tercatat turun sekitar 3 persen menjadi 1,05 miliar euro, relatif sejalan dengan estimasi analis sebesar 1,01 miliar euro menurut survei LSEG. Pasar merespons negatif perkembangan tersebut, dengan saham Nokia sempat turun sekitar 6 persen di perdagangan awal Helsinki, menjadikannya salah satu saham berkinerja terburuk di indeks Stoxx 600 Eropa.

Nokia yang berbasis di Espoo, Finlandia, kini berada di tengah salah satu restrukturisasi terbesar sejak melepas bisnis ponsel ikoniknya lebih dari satu dekade lalu. Perusahaan berupaya mengimbangi pelemahan belanja operator dan kehilangan kontrak 5G dengan mengandalkan pertumbuhan dari sektor AI serta meningkatnya permintaan infrastruktur pusat data.

Bagi Nokia, Sari Baldauf mundur dari Nokia bukan sekadar pergantian nama di jajaran dewan, melainkan simbol peralihan generasi kepemimpinan. Baldauf merupakan salah satu eksekutif paling berpengalaman di perusahaan tersebut. Ia memimpin dewan direksi sejak 2020, setelah kembali bergabung dengan Nokia pada 2018. Periode jabatan sebelumnya, dari 1994 hingga 2005, bertepatan dengan era keemasan Nokia sebagai pemimpin global pasar ponsel.

Dalam rentang kariernya, Baldauf pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Eksekutif dan General Manager Network Business Group Nokia pada periode 1998–2005. Ia juga memegang berbagai posisi eksekutif di Finlandia dan Amerika Serikat antara 1983 hingga 1998. Pengalaman panjang inilah yang membuat namanya lekat dengan fase ekspansi dan dominasi Nokia di industri telepon seluler dunia.

Selain perannya di dewan, Baldauf juga aktif dalam berbagai komite strategis perusahaan, termasuk Komite Tata Kelola dan Nominasi, Komite Personalia, serta Komite Strategi. Latar belakang akademiknya mencakup gelar Master Administrasi Bisnis dan Sarjana Sains dari Helsinki School of Economics, serta gelar doktor kehormatan di bidang teknologi dan administrasi bisnis.

Pengganti Baldauf, Timo Ihamuotila, saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Nokia. Ia dikenal luas sebagai mantan Chief Financial Officer Nokia pada periode 2009–2016, masa krusial ketika perusahaan menghadapi tekanan berat akibat pergeseran pasar smartphone. Ihamuotila juga tercatat sebagai eksekutif di grup Swiss ABB, dan diperkirakan akan meninggalkan posisinya di perusahaan tersebut pada akhir 2026.

Pergantian ini terjadi saat Nokia berusaha mempercepat transformasi. Tahun lalu, perusahaan menunjuk Justin Hotard, mantan eksekutif Intel, sebagai CEO untuk memimpin transisi menuju bisnis bernilai tambah tinggi. Namun, tekanan eksternal seperti tarif impor Amerika Serikat dan pelemahan nilai tukar dolar turut menekan margin dan memaksa Nokia mempertimbangkan pemangkasan biaya lebih dalam.

Pada November tahun lalu, Nokia mengumumkan strategi baru yang berfokus pada AI, dengan target meningkatkan laba tahunan hingga 60 persen dalam tiga tahun ke depan. Mulai 2026, perusahaan berencana merombak struktur bisnis menjadi dua pilar utama: infrastruktur jaringan untuk AI dan data center, serta infrastruktur seluler yang tetap berfokus pada layanan telekomunikasi inti.

Melalui model bisnis baru tersebut, Nokia menargetkan laba operasional tahunan sebesar 2,7 hingga 3,2 miliar euro pada 2028, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 2 miliar euro pada tahun sebelumnya. Target ambisius ini menempatkan transformasi organisasi dan kepemimpinan sebagai faktor kunci keberhasilan.

Dengan Sari Baldauf mundur dari Nokia, perusahaan kini memasuki babak baru yang penuh tantangan. Pergeseran dari warisan kejayaan ponsel menuju fokus AI dan infrastruktur digital menjadi taruhan besar bagi Nokia untuk kembali relevan dan kompetitif di industri teknologi global yang kian ketat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *