Berita

Telkom Sisakan 22 Anak Usaha hingga 2027, Strategi Besar Pangkas 60 Perusahaan Non-Inti

82
×

Telkom Sisakan 22 Anak Usaha hingga 2027, Strategi Besar Pangkas 60 Perusahaan Non-Inti

Sebarkan artikel ini
Telkom Sisakan 22 Anak Usaha hingga 2027, Strategi Besar Pangkas 60 Perusahaan Non-Inti

Tabengan.com – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menegaskan langkah transformasi besar-besaran dengan memangkas jumlah anak dan cucu usaha secara signifikan. Dari sekitar 60 perusahaan yang saat ini berada di bawah grup, Telkom menargetkan hanya akan sisakan 22 anak usaha dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Kebijakan tersebut merupakan arahan dari BPI Danantara selaku pemegang saham. Telkom menargetkan proses perampingan ini rampung sepenuhnya pada akhir 2027.

“Dalam dua sampai tiga tahun ke depan jumlah anak usaha akan menjadi 22 anak usaha. Harapannya bisa selesai di akhir 2027,” ujar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, di Jakarta, Senin (11/8/2025).

Arthur menjelaskan, kebijakan Telkom sisakan 22 anak usaha merupakan bagian integral dari transformasi bisnis jangka panjang perusahaan. Saat ini, struktur grup Telkom dinilai terlalu gemuk, dengan sejumlah anak usaha yang memiliki lini bisnis serupa bahkan berada di luar bisnis inti telekomunikasi dan infrastruktur digital.

Sebagai contoh, Telkom tercatat memiliki kepemilikan sekitar 5% saham di PT Pefindo Biro Kredit, yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan core business perseroan. Kondisi ini menjadi salah satu alasan kuat mengapa restrukturisasi dilakukan secara agresif.

Selain memangkas anak usaha non-inti, Telkom juga mengubah fokus strategi bisnisnya. Perusahaan akan memperkuat lini usaha di luar bisnis seluler, seperti bisnis menara telekomunikasi, fiber optik, pusat data, satelit, hingga ekspansi bisnis internasional.

Telkom juga menegaskan hanya akan berinvestasi pada proyek-proyek berskala besar dengan tingkat pengembalian modal (yield) yang tinggi. Strategi ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pendapatan terhadap Telkomsel yang selama ini menjadi kontributor utama.

“Mindset kami ubah menjadi partnership, bukan lagi melakukan semuanya sendiri. Kami menggandeng pihak swasta yang punya teknologi dan kapabilitas,” tegas Arthur.

Langkah Telkom sisakan 22 anak usaha ini juga sejalan dengan visi transformasi “Telkom 30” yang menitikberatkan penguatan infrastruktur digital nasional serta efisiensi pengelolaan modal.

Penilaian Menyeluruh Anak Perusahaan

Sementara itu, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengungkapkan bahwa perseroan saat ini tengah melakukan penilaian menyeluruh terhadap seluruh anak usaha yang dimiliki.

Penilaian tersebut bertujuan memastikan setiap entitas benar-benar menciptakan nilai tambah dan berada dalam jalur strategis bisnis utama Telkom.

“Perampingan ini menyasar anak usaha yang tidak relevan atau berada di luar koridor telekomunikasi dan infrastruktur digital,” ujar Dian dalam program The Fundamentals IDX Channel, dikutip Selasa (13/1/2026).

Menurut Dian, anak usaha yang dinilai tidak sejalan akan ditertibkan melalui berbagai opsi, mulai dari divestasi, penjualan, penutupan, hingga penggabungan (merger), baik di internal Telkom maupun dengan entitas lain di bawah Danantara.

“Formulasinya nanti menentukan apakah akan di-divest, dijual, ditutup, digabungkan antar anak perusahaan Telkom, atau bahkan digabungkan dengan anak perusahaan lain di dalam Danantara,” jelasnya.

Dian menambahkan, peluang penggabungan dengan BUMN lain cukup terbuka, terutama bagi anak usaha Telkom yang bergerak di sektor serupa seperti perhotelan, kesehatan, dan asuransi.

“Jadi memang ada yang di-divest, ada yang dijual, ada yang ditutup, ada yang digabungkan, ada yang di-simplify, bahkan ada yang di-expand,” lanjut Dian.

Langkah Telkom sisakan 22 anak usaha ini diarahkan untuk mencapai target strategis pada 2030, yakni meningkatkan Total Shareholder Return (TSR) sekaligus mendorong efisiensi alokasi modal secara menyeluruh.

Dian menargetkan kapitalisasi pasar Telkom dapat berlipat ganda pada akhir dekade ini, seiring struktur grup yang lebih ramping dan fokus.

“Akan dilakukan perampingan agar anak perusahaan benar-benar bergerak di koridor telekomunikasi dan infrastruktur digital. Kami mengeliminasi hal-hal yang tidak perlu dan tidak menciptakan nilai bagi grup,” tegas Dian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *