Berita

AI di Indonesia Tumbuh Pesat, Mastel Soroti Mayoritas Infrastruktur Masih Milik Asing

94
×

AI di Indonesia Tumbuh Pesat, Mastel Soroti Mayoritas Infrastruktur Masih Milik Asing

Sebarkan artikel ini
AI di Indonesia Tumbuh Pesat, Mastel Soroti Mayoritas Infrastruktur Masih Milik Asing

Tabengan.com – Pertumbuhan kecerdasan buatan atau AI di Indonesia dinilai berlangsung sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik masifnya adopsi teknologi tersebut, kepemilikan infrastruktur AI di Tanah Air masih didominasi oleh pihak asing.

Sorotan tersebut disampaikan Ketua Bidang Industri IoT, AI & Big Data Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Teguh Prasetyo dalam acara Indonesia Digital Festival 2026 bertajuk From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Sustainable Digital Future yang digelar di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Menurut Teguh, kondisi tersebut masih tergolong wajar mengingat pembangunan ekosistem AI nasional masih berada pada tahap awal, terutama dari sisi infrastruktur dasar.

“Yang paling dasar itu infrastrukturnya dulu. Infrastruktur AI di Indonesia rasanya tumbuh pesat sekali, baik GPU maupun AI data center,” ujar Teguh.

Infrastruktur AI Tumbuh, Pasar Masih Global

Teguh menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir Indonesia mengalami lonjakan investasi pada infrastruktur pendukung AI, mulai dari pembangunan pusat data berbasis AI hingga penyediaan komputasi berperforma tinggi berbasis GPU. Nilai investasi yang masuk pun tidak kecil dan menunjukkan minat global yang kuat terhadap pasar Indonesia.

Namun demikian, ia mengakui bahwa sebagian besar pemanfaatan infrastruktur AI tersebut masih berasal dari pasar global, bukan dari kebutuhan domestik.

“Penggunanya masih banyak dari luar. Jadi memang Indonesia masih perlu memperkuat ekosistem pendukung agar pemanfaatannya lebih banyak dari dalam negeri,” katanya.

Karena itu, Mastel menilai penguatan AI di Indonesia tidak cukup hanya dengan membangun pusat data, tetapi juga membutuhkan dukungan jaringan, komputasi terdistribusi, serta integrasi dengan ekosistem digital nasional.

Startup AI Lokal Mulai Bertumbuh

Di lapisan aplikasi, Teguh melihat sinyal positif. Ia menyebut jumlah startup AI lokal di Indonesia kini telah menembus ratusan perusahaan. Bidang yang digarap pun semakin beragam, mulai dari AI visual, pemrosesan suara, analisis ruang-waktu, hingga pengembangan large language model (LLM) lokal.

Menurut Teguh, pertumbuhan ini menjadi fondasi penting agar AI tidak hanya menjadi teknologi impor, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.

Ia juga menilai AI berpotensi menjadi killer application bagi jaringan 5G, sebagaimana e-commerce menjadi pendorong utama adopsi 4G di masa lalu.

“Kalau ditanya killer application 4G apa, jawabannya e-commerce. Kalau 5G, kami di Mastel melihat AI akan menjadi killer application-nya,” ujarnya.

Hampir seluruh sektor, lanjut Teguh, kini mulai bergantung pada AI, termasuk Internet of Things (IoT). Bahkan penggunaan sederhana seperti kamera pengawas rumah sudah memanfaatkan AI untuk mendeteksi objek dan aktivitas manusia.

AI Tak Hanya di Data Center Besar

Teguh juga menilai pengembangan AI di Indonesia ke depan tidak akan terpusat sepenuhnya di hyperscale data center. Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan tersebar, pendekatan AI on edge dinilai lebih relevan dibandingkan model terpusat seperti di negara satu pulau.

“Indonesia berbeda dengan Singapura. Ke depan AI akan bergerak ke edge, bukan hanya di data center besar,” jelasnya.

Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan AI dapat dimanfaatkan secara merata, termasuk di wilayah dengan keterbatasan konektivitas dan latensi jaringan.

Risiko Gelembung Investasi AI

Dari sisi pemerintah, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Sonny Hendra Sudaryana mengingatkan bahwa masifnya investasi teknologi, termasuk AI, juga membawa risiko global.

Ia merujuk pada World Economic Forum (WEF) 2025 di Davos, Swiss, yang mengidentifikasi tiga potensi gelembung ekonomi global, yakni AI bubble, crypto bubble, dan debt bubble.

“AI bubble terjadi ketika investasi yang dikeluarkan belum menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan,” kata Sonny.

Menurutnya, kondisi global saat ini menunjukkan banyak perusahaan agresif berinvestasi di AI, namun belum semuanya mampu mengonversi teknologi tersebut menjadi pendapatan nyata. Karena itu, kewaspadaan terhadap risiko perlu diimbangi dengan kebijakan yang mendorong pemanfaatan AI secara produktif.

AI Bukan Hanya Urusan Operator

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys menegaskan bahwa AI di Indonesia bukan semata isu sektor telekomunikasi, melainkan bagian dari industri digital secara menyeluruh.

“AI ini dimainkan oleh hampir semua industri, bukan hanya operator,” ujarnya.

Merza menjelaskan, di internal perusahaan telekomunikasi, AI saat ini masih difokuskan untuk meningkatkan efisiensi operasional, seperti pengelolaan jaringan, peningkatan kualitas layanan pelanggan, serta optimalisasi proses internal. Selain itu, operator juga menyediakan solusi AI untuk segmen enterprise.

Namun, AI belum menjadi produk ritel yang dimonetisasi langsung ke konsumen. “AI yang kami bangun kebanyakan untuk enterprise solution, bukan untuk monetisasi langsung ke retail,” kata Merza.

Profitabilitas Masih Terbatas, Potensi Tetap Besar

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Dyah Ayu menilai meski profitabilitas AI masih terbatas, investasi AI di Indonesia akan terus tumbuh. Salah satu pendorongnya adalah masuknya fase baru pengembangan teknologi, seperti agentic AI.

“Ini bukan cuma AI yang menjawab pertanyaan, tapi AI yang terus update, menganalisis lintas sumber, dan menyusun strategi,” ujar Dyah.

Ia menilai potensi pasar domestik masih sangat besar, mengingat penetrasi internet Indonesia telah melampaui 80% populasi. Kondisi ini membuat Indonesia tetap menarik bagi investor global.

Namun, Dyah mengingatkan masih adanya celah regulasi, khususnya terkait pajak digital. Menurutnya, belum adanya aturan spesifik membuat perusahaan teknologi global memperoleh keuntungan besar dari pasar Indonesia, sementara kontribusi fiskalnya masih terbatas.

“Pajak digital berbasis jumlah pengguna dan valuasi pasar bisa menjadi solusi agar investasi AI berkelanjutan dan negara juga mendapatkan manfaat,” ujarnya.

Dengan pertumbuhan yang semakin masif, tantangan AI di Indonesia ke depan bukan hanya soal adopsi teknologi, tetapi juga bagaimana memastikan kedaulatan ekosistem, nilai tambah ekonomi, serta manfaat jangka panjang bagi pembangunan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *