Berita

Huawei AI Campus Rilis Standar Jaringan AI 10 Gbps untuk Pendidikan dan Industri

43
×

Huawei AI Campus Rilis Standar Jaringan AI 10 Gbps untuk Pendidikan dan Industri

Sebarkan artikel ini
Huawei AI Campus Rilis Standar Jaringan AI 10 Gbps untuk Pendidikan dan Industri

Tabengan.com – Huawei AI Campus memperkenalkan standar baru untuk pengembangan jaringan kampus berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui peluncuran High-Quality 10 Gbps AI Campus Network Technical and Standard White Paper. Dokumen tersebut dirilis bersama sejumlah organisasi industri global dalam Forum Inovasi AI Campus yang menjadi bagian dari Huawei Network Summit (HNS) 2026 Asia Pacific di Bali, Indonesia, pada 31 Agustus 2026. White paper ini disiapkan sebagai acuan teknis bagi institusi pendidikan, pemerintah, dan berbagai sektor industri dalam membangun infrastruktur jaringan AI berkecepatan hingga 10 Gbps.

Peluncuran dokumen tersebut dihadiri sejumlah perwakilan industri dan akademisi, di antaranya President of the Campus Network Domain, Data Communication Product Line Huawei Shawn Zhao, Sekretaris Jenderal Network Innovation and Development Alliance (NIDA) Deng Yiou, Chairman IPv6 APAC Sureswaran Ramadass, Wakil Rektor Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia Juliana Johari, Anggota Komite Mastel Mohamad Rosidi, Technical Editor IEEE 802.11be atau Wi-Fi 7 Edward Au, serta Director Huawei Enterprise Business Indonesia Dylan Du.

Huawei menjelaskan bahwa white paper tersebut disusun untuk memberikan panduan teknis dalam membangun jaringan kampus generasi berikutnya yang mampu memenuhi kebutuhan era AI. Dokumen tersebut menitikberatkan pada enam kapabilitas utama, yaitu jaringan otonom, jaringan ultra-broadband 10 Gbps, konektivitas menyeluruh, pengalaman jaringan yang deterministik, efisiensi energi, dan keamanan menyeluruh.

President of the Campus Network Domain, Data Communication Product Line Huawei, Shawn Zhao, mengatakan perkembangan teknologi AI telah mengubah kebutuhan terhadap infrastruktur jaringan kampus. Menurutnya, peningkatan lalu lintas data, ancaman keamanan yang semakin kompleks, serta kebutuhan pengelolaan jaringan yang lebih efisien menuntut hadirnya arsitektur jaringan yang lebih cerdas.

Ia menjelaskan solusi Xinghe AI Campus dikembangkan untuk menjawab tantangan tersebut melalui kombinasi konektivitas nirkabel berkecepatan tinggi, sistem keamanan yang terintegrasi, serta kemampuan otomatisasi berbasis AI. Dengan pendekatan tersebut, jaringan tidak hanya berfungsi sebagai media konektivitas, tetapi juga mampu mendukung operasional digital secara lebih efisien.

Dalam white paper tersebut, Huawei AI Campus menguraikan enam kemampuan utama yang menjadi fondasi pengembangan jaringan kampus masa depan. Kapabilitas jaringan otonom memungkinkan sistem melakukan analisis, pengelolaan, hingga pengambilan keputusan secara otomatis menggunakan teknologi AI. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi beban operasional administrator jaringan.

Sementara itu, jaringan ultra-broadband 10 Gbps dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertukaran data berkapasitas besar di lingkungan kampus modern. Seiring meningkatnya penggunaan layanan digital, komputasi awan, perangkat Internet of Things (IoT), hingga aplikasi berbasis AI, kebutuhan bandwidth yang lebih tinggi menjadi semakin penting.

Huawei juga menempatkan konektivitas menyeluruh sebagai salah satu pilar utama. Jaringan dirancang agar mampu melayani berbagai jenis perangkat yang terhubung secara bersamaan tanpa mengurangi kualitas layanan. Di sisi lain, pengalaman deterministik ditujukan untuk memastikan kualitas koneksi tetap stabil sesuai kebutuhan aplikasi yang digunakan.

Aspek efisiensi energi dan keamanan menyeluruh juga menjadi bagian penting dalam standar yang diperkenalkan Huawei. Kedua aspek tersebut dipandang semakin relevan karena jumlah perangkat yang terkoneksi dan volume data yang diproses terus meningkat dari waktu ke waktu.

Dalam penyusunannya, white paper mengacu pada berbagai standar internasional, termasuk yang dikembangkan IPv6 Forum dan Network Innovation and Development Alliance (NIDA). Huawei mengombinasikan standar tersebut dengan inovasi di bidang AI, komputasi, serta jaringan untuk membangun konsep infrastruktur yang terintegrasi.

Sejumlah teknologi pendukung turut diperkenalkan dalam konsep Huawei AI Campus, seperti AI Agent, Wi-Fi Sensing, Smart Roaming, hingga sistem keamanan end-to-end. Teknologi tersebut dirancang agar jaringan mampu mengelola konektivitas sekaligus memberikan perlindungan terhadap aset digital organisasi.

Pada sisi konektivitas nirkabel, Huawei mengandalkan AirEngine Wi-Fi 7 Advanced Access Point. Perangkat ini memanfaatkan teknologi Intelligent Coordinated Scheduling and Spatial Reuse (iCSSR) serta koordinasi multi-AP guna meningkatkan kapasitas jaringan. Huawei juga menyatakan telah mulai mengintegrasikan sejumlah inovasi yang diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan Wi-Fi 8.

Perusahaan menyebut kombinasi teknologi tersebut mampu meningkatkan kecepatan akses dan kapasitas jaringan, terutama pada lingkungan dengan kepadatan pengguna yang tinggi seperti kampus, kawasan industri, maupun fasilitas pemerintahan.

Keamanan menjadi fokus lain dalam pengembangan Huawei AI Campus. Huawei menghadirkan teknologi identifikasi perangkat berbasis AI yang mampu mengenali berbagai terminal yang terhubung ke jaringan dengan tingkat akurasi hingga 95 persen untuk perangkat sederhana.

Selain itu, Huawei melengkapi sistemnya dengan Smart Anomaly Detection (SmartAD) yang dirancang untuk mendeteksi sekaligus memblokir aktivitas mencurigakan hanya dalam hitungan detik. Perlindungan jaringan juga diperkuat melalui Wi-Fi Shield serta teknologi Post-Quantum Cryptography (PQC) yang dikembangkan untuk menghadapi tantangan keamanan pada era komputasi kuantum.

Huawei turut memanfaatkan Channel State Information (CSI) berbasis Wi-Fi untuk mendukung penginderaan lingkungan di area sensitif. Perusahaan juga memperkenalkan AP iGuard yang difokuskan pada perlindungan privasi pengguna secara berkelanjutan.

Dalam aspek operasional jaringan, Huawei menggunakan teknologi iFlow untuk menganalisis pengalaman pengguna atau Quality of Experience (QoE). Platform tersebut membantu administrator mendeteksi penurunan kualitas layanan, menemukan sumber gangguan, hingga mempercepat proses pemulihan jaringan.

Huawei mengklaim pemanfaatan AI dalam sistem operasional memungkinkan hingga 80 persen gangguan jaringan nirkabel dapat ditangani secara otomatis. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengurangi waktu henti layanan.

Penerapan teknologi jaringan kampus juga dibagikan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Wakil Rektor UiTM Juliana Johari mengatakan kampusnya telah memanfaatkan Wi-Fi 7 dan platform iMaster NCE untuk mendukung aktivitas pendidikan, penelitian, serta operasional kampus.

Menurut Juliana, infrastruktur jaringan berkapasitas tinggi menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya pemanfaatan layanan digital, perangkat IoT, dan aplikasi berbasis cloud di lingkungan perguruan tinggi. Kehadiran jaringan yang stabil dinilai mampu mendukung proses belajar mengajar sekaligus meningkatkan efisiensi operasional kampus.

Melalui peluncuran High-Quality 10 Gbps AI Campus Network Technical and Standard White Paper, Huawei bersama para mitra industri mendorong terbentuknya standar pengembangan jaringan AI di kawasan Asia Pasifik. Perusahaan menyatakan akan terus bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk menerapkan konsep Huawei AI Campus pada sektor pendidikan, pemerintahan, maupun industri, guna menghadirkan jaringan yang lebih cepat, aman, otomatis, dan siap mendukung kebutuhan transformasi digital di era kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *