Tabengan.com – Krisis industri teknologi global kian menunjukkan dampaknya. Tekanan pasokan memori yang mulai terasa sejak akhir tahun lalu kini disebut memasuki fase yang lebih serius dan berpotensi mengguncang ekosistem elektronik dunia.
Peringatan keras itu datang dari CEO Phison, perusahaan spesialis solusi memori, Pua Kheing Sen. Dalam wawancara terbarunya, ia menilai tahun ini hingga beberapa tahun ke depan akan menjadi periode berat bagi banyak perusahaan teknologi.
Menurutnya, krisis industri teknologi global tidak hanya menyasar satu segmen, tetapi hampir seluruh lini produk elektronik, mulai dari smartphone, PC, televisi, hingga perangkat komputasi lainnya.
“Industri elektronik konsumen mengalami banyak kegagalan. Mulai akhir tahun ini hingga 2026, banyak vendor akan bangkrut atau menghentikan lini produk karena kekurangan memori,” ujar Pua seperti dikutip dari PC Gamer, Minggu (22/2/2026).
Produksi Smartphone Terancam Turun 250 Juta Unit
Dampak paling nyata dari krisis industri teknologi global diproyeksi terjadi di pasar ponsel pintar. Produksi smartphone disebut bisa berkurang hingga 200–250 juta unit.
Angka tersebut bukan penurunan kecil. Jika benar terjadi, ini bisa menjadi salah satu kontraksi produksi terbesar dalam satu dekade terakhir.
Selain smartphone, produksi PC dan TV juga diperkirakan mengalami penyusutan signifikan. Dalam konteks rantai pasok global, penurunan produksi sebesar itu dapat memicu efek domino, mulai dari distributor, vendor komponen, hingga ritel.
Krisis industri teknologi global ini juga dapat memperlambat siklus inovasi, karena produsen harus menyesuaikan kapasitas produksi dengan ketersediaan memori.
Krisis Diprediksi Berlangsung Panjang
Yang lebih mengkhawatirkan, krisis industri teknologi global disebut tidak akan selesai dalam waktu singkat. Pua menyebut banyak produsen memperkirakan gangguan pasokan memori dapat berlangsung hingga 2030.
Bahkan dalam skenario terburuk, ketidakseimbangan pasokan dan permintaan bisa berlangsung hingga satu dekade.
Prediksi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar bagi pelaku industri: apakah dunia sedang menuju fase konsolidasi besar-besaran di sektor teknologi?
Jika krisis industri teknologi global benar berlarut-larut, perusahaan dengan struktur keuangan lemah akan menjadi pihak pertama yang terdampak. Vendor kecil dan menengah berpotensi gulung tikar atau menghentikan lini produk tertentu.
Skema Pembayaran di Muka Jadi Sorotan
Salah satu indikator seriusnya krisis industri teknologi global adalah perubahan perilaku produsen memori. Mereka kini disebut meminta pembayaran di muka hingga tiga tahun.
Praktik ini dinilai belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala sebesar sekarang.
Permintaan pembayaran awal tersebut menunjukkan kuatnya posisi tawar produsen memori di tengah keterbatasan suplai. Di sisi lain, kebijakan ini membebani arus kas perusahaan elektronik yang bergantung pada pasokan chip memori.
Bagi perusahaan besar, skema tersebut mungkin masih bisa diantisipasi. Namun bagi vendor dengan margin tipis, tekanan likuiditas bisa menjadi pemicu kegagalan operasional.
Investasi Raksasa Tak Instan Menyelesaikan Masalah
Sejumlah perusahaan besar seperti Samsung, Micron, dan SK Hynix telah mengumumkan investasi besar untuk meningkatkan kapasitas produksi memori.
Namun dalam industri semikonduktor, peningkatan kapasitas bukan perkara instan. Dibutuhkan waktu sekitar dua tahun sejak investasi hingga fasilitas produksi benar-benar beroperasi penuh.
Dengan kata lain, meskipun ekspansi sudah direncanakan, krisis industri teknologi global tetap akan terasa dalam jangka menengah.
Selain itu, tambahan kapasitas baru diperkirakan hanya menyumbang sekitar 10–20 persen dari kebutuhan global. Bahkan untuk China, kapasitas awal hanya akan menyumbang 3–5 persen dari total produksi dunia.
Angka tersebut dinilai tidak cukup untuk menutup kesenjangan pasokan yang sudah terlanjur melebar.
Faktor China dan Permintaan Domestik
Pua juga menyoroti kondisi China dalam krisis industri teknologi global. Permintaan domestik yang sangat besar membuat pasokan baru cenderung diserap di dalam negeri.
Artinya, harapan akan membanjirnya chip memori murah dari China ke pasar global dalam waktu dekat tampaknya kecil.
Situasi ini menambah kompleksitas krisis industri teknologi global. Negara-negara dengan industri elektronik besar akan bersaing mendapatkan pasokan memori, sementara kapasitas produksi belum sepenuhnya pulih.
Potensi Gelombang Kebangkrutan
Jika tekanan pasokan terus berlanjut hingga 2026 atau lebih lama, konsolidasi industri hampir tak terhindarkan.
Krisis industri teknologi global berpotensi memicu gelombang kebangkrutan vendor kecil, terutama di segmen smartphone kelas menengah dan bawah yang margin keuntungannya tipis.
Produsen mungkin akan memangkas model, mengurangi varian produk, atau fokus pada lini premium yang lebih menguntungkan.
Bagi konsumen, dampaknya bisa berupa kenaikan harga perangkat, ketersediaan stok yang terbatas, serta peluncuran produk yang tertunda.
Dampak ke Indonesia dan Pasar Berkembang
Indonesia sebagai pasar besar smartphone dan elektronik juga tidak akan luput dari dampak krisis industri teknologi global.
Jika produksi global turun ratusan juta unit, suplai ke pasar berkembang bisa ikut tertekan. Harga perangkat berpotensi naik, terutama untuk model dengan spesifikasi memori tinggi.
Selain itu, pelaku industri perakitan lokal yang bergantung pada komponen impor mungkin menghadapi tantangan tambahan.
Kondisi ini menuntut strategi adaptif, baik dari sisi distributor, peritel, maupun konsumen.
Menuju Era Seleksi Alam Industri
Krisis industri teknologi global dapat menjadi momen seleksi alam di sektor elektronik. Perusahaan dengan manajemen rantai pasok kuat, cadangan kas besar, dan diversifikasi pemasok kemungkinan mampu bertahan.
Sebaliknya, pemain yang terlalu bergantung pada satu sumber atau memiliki struktur biaya tinggi akan lebih rentan.
Dalam jangka panjang, krisis ini juga bisa mempercepat inovasi efisiensi, termasuk desain perangkat yang lebih hemat memori atau optimalisasi perangkat lunak agar tidak terlalu bergantung pada kapasitas tinggi.
Namun dalam jangka pendek, tekanan tetap terasa.
Jika proyeksi produksi smartphone benar-benar turun hingga 250 juta unit, dampaknya tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga ekosistem global dari hulu ke hilir.
Satu hal yang jelas, krisis industri teknologi global bukan lagi sekadar isu pasokan chip sesaat. Ia telah berkembang menjadi tantangan struktural yang berpotensi membentuk ulang peta persaingan teknologi dunia dalam beberapa tahun ke depan.





