Berita

Tetangga Indonesia Gelontorkan Rp13 Triliun untuk Riset AI Publik, Singapura Gaspol Hingga 2030

281
×

Tetangga Indonesia Gelontorkan Rp13 Triliun untuk Riset AI Publik, Singapura Gaspol Hingga 2030

Sebarkan artikel ini
Tetangga Indonesia Gelontorkan Rp13 Triliun untuk Riset AI Publik, Singapura Gaspol Hingga 2030

Tabengan.com – Singapura kembali menunjukkan keseriusannya dalam membangun ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Negara tetangga Indonesia itu menyiapkan investasi besar untuk memastikan AI berkembang secara bertanggung jawab sekaligus memperkuat daya saing nasional di tingkat global.

Pemerintah Singapura mengumumkan investasi lebih dari S$1 miliar atau sekitar US$778,8 juta, setara Rp13,1 triliun, yang akan digelontorkan hingga 2030 khusus untuk riset publik mengenai AI. Kebijakan ini menegaskan posisi Singapura sebagai salah satu pusat pengembangan AI terdepan di Asia.

Mengutip laporan Reuters, investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapabilitas nasional di bidang AI, mulai dari riset dasar, pengembangan talenta, hingga penerapan teknologi di sektor industri.

Fokus AI Bertanggung Jawab dan Hemat Energi

Kementerian Pengembangan Digital dan Informasi Singapura menyatakan bahwa dana jumbo tersebut tidak semata-mata mengejar kecanggihan teknologi, tetapi juga menekankan prinsip AI yang bertanggung jawab, aman, dan efisien dalam penggunaan sumber daya.

Beberapa sektor prioritas yang menjadi sasaran pendanaan antara lain pengembangan AI yang hemat energi, penguatan tata kelola AI publik, serta riset yang mendukung transparansi dan akuntabilitas penggunaan kecerdasan buatan.

Pemerintah Singapura menilai, tanpa pendekatan yang tepat, adopsi AI justru berpotensi menimbulkan risiko sosial, ekonomi, hingga keamanan data.

Bangun Talenta Sejak Dini

Tak kalah penting, investasi AI Singapura juga difokuskan pada pengembangan sumber daya manusia. Program penguatan talenta AI dirancang menyeluruh, mulai dari tingkat pra-universitas, pendidikan tinggi, hingga pelatihan lanjutan bagi profesional.

Langkah ini mencerminkan kesadaran pemerintah Singapura bahwa keunggulan AI tidak hanya ditentukan oleh algoritma dan komputasi, tetapi juga oleh kualitas manusia di balik teknologi tersebut.

Selain pendidikan, sebagian anggaran juga dialokasikan untuk membangun kapabilitas yang mendorong adopsi AI di sektor industri, agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi berdampak langsung pada produktivitas ekonomi.

Kelanjutan Investasi AI Jangka Panjang

Investasi terbaru ini bukan langkah tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, Singapura secara konsisten menanamkan modal besar di sektor AI.

Pada 2024, pemerintah Singapura mengalokasikan S$500 juta untuk mengamankan sumber daya komputasi berkinerja tinggi, yang menjadi fondasi infrastruktur AI bagi sektor publik dan swasta.

Selain itu, lebih dari S$500 juta juga digelontorkan melalui program nasional AI Singapore untuk riset dan pengembangan kecerdasan buatan.

Bahkan pada 2023, AI Singapore meluncurkan model bahasa besar sumber terbuka bernama Southeast Asian Languages in One Network (Sea-Lion) dengan pendanaan S$70 juta.

Dampak ke Asia Tenggara, Indonesia Ikut Kecipratan

Menariknya, model Sea-Lion tidak hanya digunakan di Singapura. Sejumlah perusahaan di Asia Tenggara telah mengadopsinya, termasuk GoTo, perusahaan teknologi asal Indonesia.

Versi terbaru Sea-Lion dirilis pada Oktober 2025, dengan peningkatan signifikan dalam pemrosesan berbagai bahasa Asia Tenggara. Kehadiran model ini dinilai strategis karena mampu menjembatani kesenjangan bahasa yang selama ini menjadi tantangan utama pengembangan AI di kawasan.

Langkah agresif Singapura ini sekaligus menjadi sinyal kuat bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Di tengah persaingan global teknologi, investasi besar, konsisten, dan terarah menjadi kunci untuk tidak sekadar menjadi pasar AI, tetapi juga pemain utama.

Singapura sudah tancap gas. Pertanyaannya kini, apakah Indonesia siap menyusul, atau kembali puas menjadi penonton di era kecerdasan buatan?