Tabengan.com – Pergantian CEO Apple resmi dimulai setelah John Ternus mengambil alih posisi Chief Executive Officer (CEO) dari Tim Cook pada Selasa, 1 September 2026. Peralihan kepemimpinan ini menandai berakhirnya hampir 15 tahun era Cook sekaligus membuka babak baru bagi Apple di tengah persaingan teknologi yang semakin ketat.
Tim Cook mulai memimpin Apple setelah menggantikan Steve Jobs pada Agustus 2011. Selama masa kepemimpinannya, Cook membawa Apple melewati periode transformasi besar, terutama dengan memperluas bisnis perusahaan di luar iPhone dan Mac.
Salah satu indikator paling mencolok dari keberhasilan tersebut terlihat pada kinerja saham Apple. Sejak Cook mengambil alih hingga masa jabatannya berakhir, saham Apple tercatat melonjak sekitar 2.258%. Jika menghitung total return termasuk dividen, kenaikannya bahkan mencapai sekitar 2.716%.
Kapitalisasi pasar Apple juga berkembang sangat pesat. Ketika Cook mulai menjabat, nilai perusahaan masih berada di bawah US$350 miliar. Kini, kapitalisasi pasar Apple telah mencapai sekitar US$4,6 triliun.
Chris Brigati dari SWBC menilai Cook meninggalkan warisan besar bagi Apple, meskipun gaya kepemimpinannya berbeda dari Steve Jobs. Jika Jobs dikenal sebagai sosok visioner yang sangat kuat dalam inovasi produk, Cook lebih menonjol dalam stabilitas operasional, efisiensi rantai pasok, ekspansi bisnis, dan penguatan ekosistem Apple.
“Pergantian CEO Apple” kali ini karena itu bukan sekadar perubahan jabatan. John Ternus menerima perusahaan yang berada pada posisi sangat kuat, tetapi sekaligus menghadapi ekspektasi tinggi dari investor dan konsumen.
Pada perdagangan Selasa, saham Apple sempat turun sekitar 0,6% di tengah tekanan yang melanda saham-saham teknologi secara luas. Perhatian investor kemudian tertuju pada langkah awal Ternus sebagai CEO, termasuk acara Apple yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Ternus diperkirakan akan memperkenalkan sejumlah produk baru, termasuk iPhone lipat yang telah lama menjadi bahan spekulasi. Produk dan strategi tersebut dapat menjadi salah satu ujian awal bagi kepemimpinan barunya.
Brigati menilai sosok ideal untuk memimpin Apple setelah Cook adalah pemimpin yang mampu menggabungkan kemampuan inovasi ala Jobs dengan stabilitas bisnis yang dibangun Cook. Tantangan tersebut kini berada di tangan Ternus yang memiliki latar belakang kuat di bidang teknik dan pengembangan produk.
Kinerja Apple Melampaui Pasar
Selama era Cook, performa Apple juga jauh mengungguli sejumlah indeks utama Wall Street. Total return saham Apple mencapai sekitar 2.716%, sementara S&P 500 naik sekitar 757% dan Nasdaq 100 meningkat sekitar 1.499%.
Apple bahkan masuk jajaran 30 perusahaan dengan performa terbaik di indeks S&P 500 selama periode tersebut. Namun, Apple masih tertinggal jauh dari Nvidia yang sahamnya melonjak sekitar 73.000%. Tesla dan Broadcom juga menjadi beberapa perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi.
Allen Bond dari Jensen Investment Management mengatakan Cook berhasil memimpin Apple dalam periode perubahan besar di industri teknologi. Selama hampir 15 tahun, Apple menghadapi perubahan pola konsumsi perangkat, munculnya layanan digital, pergeseran rantai pasok global, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Pendapatan Apple juga meningkat tajam. Pada tahun fiskal 2012, perusahaan membukukan pendapatan sekitar US$157 miliar. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar US$416 miliar pada periode terbaru, sementara pendapatan tahun fiskal 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$477 miliar.
Services Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Salah satu strategi terbesar Cook adalah memperluas Apple ke sektor layanan. Bisnis Services yang mencakup App Store, iCloud, Apple Music, Apple TV+, pembayaran, dan berbagai layanan lainnya berkembang menjadi salah satu sumber pendapatan terpenting perusahaan.
Pada tahun fiskal 2013, pendapatan Services hanya sekitar US$16 miliar atau sekitar 9,4% dari total pendapatan Apple. Pada tahun fiskal 2025, pendapatan Services telah mencapai sekitar US$109 miliar.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bagaimana Apple secara bertahap mengurangi ketergantungannya terhadap penjualan perangkat keras. Ekosistem perangkat Apple menjadi fondasi untuk menghasilkan pendapatan berulang melalui berbagai layanan digital.
Cook juga memimpin peluncuran sejumlah produk yang kemudian menjadi bisnis penting Apple, termasuk Apple Watch dan AirPods. Keduanya memperluas ekosistem perusahaan sekaligus menciptakan kategori produk baru.
Namun, tidak semua langkah Apple berhasil. Vision Pro belum mampu mencapai dampak pasar seperti produk-produk Apple sebelumnya. Upaya perusahaan mengembangkan kendaraan otonom juga akhirnya dihentikan.
Kondisi tersebut memunculkan kritik bahwa Apple kehilangan sebagian keunggulan inovasinya dibandingkan era Jobs. Kritik semakin kuat ketika perusahaan dinilai bergerak lebih lambat dalam perkembangan AI.
AI Menjadi Tantangan Besar John Ternus
AI kemungkinan menjadi salah satu persoalan terbesar dalam fase baru setelah pergantian CEO Apple. Ketika Microsoft, Nvidia, Google, Amazon, dan perusahaan teknologi lainnya berlomba mengembangkan infrastruktur serta model AI, Apple dinilai belum menunjukkan terobosan yang setara.
Sejumlah investor bahkan melihat kemampuan AI Apple sebagai peluang yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Bond menilai ekspansi Services merupakan salah satu pencapaian terbesar Cook, sedangkan AI berpotensi menjadi area terlemah yang harus segera diperbaiki.
Latar belakang Ternus sebagai insinyur dan pemimpin pengembangan produk membuat perannya menarik untuk diperhatikan. Investor akan melihat apakah ia mampu mendorong Apple mengambil risiko lebih besar dalam inovasi.
Perubahan strategi juga dapat terjadi dalam pengelolaan keuangan perusahaan. Apple telah menghabiskan lebih dari US$840 miliar untuk pembelian kembali saham sejak tahun fiskal 2012 hingga kuartal pertama 2026.
Program buyback tersebut membantu mengurangi jumlah saham beredar hampir 45% dari puncaknya pada 2012. Jumlah saham Apple kini berada pada level terendah sejak 1998.
Di bawah Ternus, strategi tersebut berpotensi berubah. Wamsi Mohan dari Bank of America menilai keputusan untuk menjauh dari target posisi net-cash-neutral dapat memberikan ruang bagi Apple untuk meningkatkan investasi penelitian dan pengembangan, belanja modal, maupun melakukan akuisisi besar.
Investor Mulai Mempertanyakan Valuasi Apple
Meski warisan Cook sangat kuat, Wall Street kini tidak sepenuhnya optimistis terhadap masa depan Apple. Dari 58 analis yang dipantau Bloomberg, hanya 34 yang memberikan rekomendasi Buy.
Persentase tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan teknologi raksasa lainnya seperti Microsoft, Nvidia, dan Amazon, yang mendapatkan rekomendasi bullish dari sekitar 95% analis yang mengikuti saham mereka.
Salah satu persoalannya adalah valuasi. Saham Apple saat ini diperdagangkan sekitar 33 kali proyeksi laba 12 bulan ke depan. Angka tersebut jauh di atas rata-rata 10 tahun yang berada di sekitar 23 kali.
Sebagai perbandingan, ketika Cook mengambil alih Apple pada 2011, saham perusahaan diperdagangkan dengan valuasi sekitar 12 kali proyeksi laba.
Valuasi tinggi berarti investor telah memasukkan ekspektasi pertumbuhan besar ke dalam harga saham Apple. Karena itu, Ternus tidak hanya harus mempertahankan bisnis yang sudah kuat, tetapi juga membuktikan bahwa Apple masih mampu menciptakan sumber pertumbuhan baru.
Era Baru Apple Dimulai
Pergantian CEO Apple menempatkan John Ternus dalam situasi yang tidak mudah. Ia mewarisi perusahaan dengan kapitalisasi sekitar US$4,6 triliun, ekosistem produk dan layanan yang sangat kuat, serta sejarah pertumbuhan saham yang luar biasa.
Namun, ukuran kesuksesan Ternus nantinya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan pencapaian Cook. Apple juga membutuhkan inovasi baru untuk menghadapi era AI, perangkat lipat, layanan digital, dan perubahan besar dalam industri teknologi.
Cook mungkin tidak memiliki citra sebagai visioner seperti Jobs. Namun, ia berhasil memperkuat ekosistem Apple, memperluas bisnis Services, mengoptimalkan operasi perusahaan, serta memberikan keuntungan besar bagi pemegang saham.
Kini, John Ternus harus menentukan seperti apa Apple setelah era Cook. Produk baru, strategi AI, investasi teknologi, dan kebijakan keuangan perusahaan akan menjadi indikator awal untuk menilai arah kepemimpinan barunya.
Bagi Apple, transisi ini bukan sekadar pergantian nama di kursi CEO. Ini merupakan ujian apakah perusahaan paling berharga di dunia tersebut masih mampu menciptakan babak pertumbuhan baru setelah kesuksesan panjang di bawah Tim Cook.










