Berita

Internet 4G Nyaris Tuntas, Jaringan 5G Indonesia Baru Menyentuh 4% Wilayah

74
×

Internet 4G Nyaris Tuntas, Jaringan 5G Indonesia Baru Menyentuh 4% Wilayah

Sebarkan artikel ini
Internet 4G Nyaris Tuntas, Jaringan 5G Indonesia Baru Menyentuh 4% Wilayah

Tabengan.com – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan layanan mobile broadband minimal 4G/LTE mencapai 97,50 persen dari total wilayah permukiman pada 2026. Target tersebut tertuang dalam dokumen Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025–2029 dan meningkat dibandingkan target 2025 sebesar 97,30 persen.

Namun di balik capaian hampir merata untuk jaringan 4G, jaringan 5G Indonesia masih menunjukkan progres yang sangat terbatas. Berdasarkan data Renstra Komdigi, cakupan layanan 5G baru mencapai 4,44 persen wilayah permukiman, menandakan kesenjangan signifikan antara penguatan jaringan eksisting dan adopsi teknologi generasi terbaru.

Dalam dokumen Renstra tersebut, indikator jangkauan mobile broadband per populasi ditargetkan meningkat bertahap hingga 98 persen pada 2029. Secara rinci, cakupan ditargetkan mencapai 97,50 persen pada 2026, meningkat menjadi 97,75 persen pada 2027, kemudian 97,90 persen pada 2028, dan 98 persen pada 2029. Adapun capaian tahun 2024 tercatat sebesar 97,16 persen.

Meski cakupan jaringan 4G LTE sudah mendekati tuntas, data Renstra Komdigi memperlihatkan tantangan lain pada sisi akses dan kualitas layanan. Jangkauan fixed broadband Indonesia tercatat masih berada di level 70,88 persen wilayah permukiman pada 2024, sementara adopsinya di masyarakat belum optimal.

Pemanfaatan Internet Masih Rendah

Dari sisi pemanfaatan, Renstra Komdigi mencatat sebanyak 24,5 juta rumah tangga belum menggunakan layanan fixed broadband. Akses internet di fasilitas publik juga masih terbatas, dengan tingkat ketersediaan akses internet di sekolah sebesar 42,38 persen, puskesmas 40,80 persen, dan kantor pemerintahan 44,32 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan jaringan 5G Indonesia bukan hanya soal ketersediaan teknologi, tetapi juga kesiapan ekosistem dan pemerataan infrastruktur digital secara menyeluruh.

Renstra juga mencatat kepemilikan perangkat digital yang belum merata. Kepemilikan smartphone baru mencapai 67,88 persen dari total penduduk, sementara kepemilikan laptop berada di level 18,04 persen rumah tangga. Kesenjangan perangkat ini turut memengaruhi pemanfaatan layanan broadband berkecepatan tinggi, termasuk 5G.

Kualitas Jaringan Masih Variatif

Dari sisi kualitas, rata-rata kecepatan mobile broadband Indonesia tercatat sebesar 25,83 Mbps, sementara rata-rata kecepatan fixed broadband mencapai 28,37 Mbps. Untuk latensi, mobile broadband berada di angka 26 milidetik, sedangkan fixed broadband lebih rendah di level 7 milidetik.

Data ini memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas jaringan masih menjadi pekerjaan rumah, seiring dengan lambatnya ekspansi jaringan 5G Indonesia yang seharusnya menawarkan latensi lebih rendah dan kecepatan lebih tinggi.

Dari sisi keterjangkauan, harga layanan mobile broadband tercatat sebesar 0,24 persen dari GNI per kapita. Sementara harga layanan fixed broadband mencapai 4,86 persen dari GNI per kapita, menunjukkan adanya kesenjangan biaya antara layanan bergerak dan layanan tetap.

Komdigi Minta Harga Internet Turun

Dalam konteks tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meminta operator seluler untuk menurunkan harga internet sekaligus meningkatkan kualitas jaringan. Permintaan ini disampaikan saat peresmian Permen Komdigi Nomor 7 Tahun 2026 terkait tata kelola kartu SIM berbasis biometrik, Selasa (27/1/2026).

Meutya menegaskan bahwa percepatan dan peningkatan kualitas jaringan internet merupakan bagian dari tata kelola telekomunikasi yang lebih baik. Operator seluler diimbau untuk terus meningkatkan kecepatan internet nasional.

“Tata kelola yang lebih baik lainnya yang kita sudah lihat dan kita minta kepada operator seluler terus melakukan lebih banyak lagi adalah kecepatan internet,” ujar Meutya.

Selain kualitas, Komdigi juga menekankan pentingnya menjaga harga internet Indonesia tetap terjangkau dan kompetitif agar tidak membebani masyarakat di tengah upaya penguatan infrastruktur digital.

“Dan yang terakhir, harganya juga tolong tidak mahal-mahal ya. Jadi, pertama aman, kedua kecepatannya ditambah dan juga satu lagi harganya harus bersaing,” tambahnya.

Operator: Internet Seluler Sudah Murah

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys menyatakan bahwa harga internet seluler di Indonesia saat ini sudah sangat terjangkau jika dibandingkan negara lain.

“Kalau bicara seluler, saya yakin harganya sudah sangat murah. Coba bandingkan dengan negara-negara tetangga, per gigabyte berapa?” ujar Merza usai forum Indonesia Digital Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (29/1).

Menurutnya, perlu dibedakan antara layanan internet seluler dan internet rumah. Ia menilai harga internet fixed broadband masih memiliki ruang untuk ditinjau, sementara internet seluler sudah kompetitif.

Terkait peningkatan kualitas jaringan, Merza menyebut operator telah mulai melakukan perbaikan, namun kondisi geografis Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, pendekatan yang diusulkan adalah memperkuat 4G di wilayah rural dan mendorong jaringan 5G Indonesia di kawasan perkotaan.

“Tidak semuanya harus 5G. Di daerah rural 4G-nya kita perbaiki, di dalam kota kita perbaiki dengan 5G,” ujarnya.

Peningkatan jaringan 4G di wilayah rural, menurut Merza, dapat dilakukan melalui penambahan spektrum dan penguatan backbone. Tantangan terbesar tetap pada pembangunan fiber optik, terutama di daerah dengan akses sulit dan proses perizinan yang kompleks.

5G Masih Jadi Tantangan Jangka Menengah

Masuknya target broadband ke dalam Renstra Komdigi 2025–2029 menunjukkan komitmen pemerintah terhadap penguatan infrastruktur digital. Namun, data yang ada menegaskan bahwa jaringan 5G Indonesia masih berada pada tahap awal, sementara fokus utama masih tertuju pada pemerataan 4G dan peningkatan kualitas layanan eksisting.

Dengan cakupan 5G yang masih di bawah 5 persen wilayah permukiman, akselerasi teknologi generasi terbaru ini tampaknya masih akan menjadi tantangan jangka menengah, seiring kebutuhan investasi besar, kesiapan ekosistem, dan disparitas geografis Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *