Tabengan.com – Telkom Indonesia menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan melalui aksi nyata dalam peringatan Hari Bumi 2026. Lewat inisiatif GoZero%, perusahaan menggelar kegiatan konservasi di kawasan pesisir Pantai Pandanan, Desa Malaka, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Kamis (23/4).
Dalam kegiatan tersebut, Telkom bersama mitra strategis dan masyarakat setempat menanam 10.000 pohon mangrove serta melakukan transplantasi 2.000 terumbu karang. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mempercepat transformasi hijau menuju target jangka panjang, sekaligus memperkuat implementasi pilar Save Our Planet dalam program keberlanjutan GoZero%.
Aksi Nyata di Hari Bumi
Momentum Hari Bumi dimanfaatkan Telkom sebagai titik refleksi sekaligus aksi konkret dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan teknologi dan tanggung jawab lingkungan. Perusahaan menilai bahwa sektor digital memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, tidak hanya dari sisi inovasi, tetapi juga dalam pengelolaan dampak ekologis.
SGM Social Responsibility Telkom, Hery Susanto, menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar program tambahan, melainkan telah menjadi bagian integral dari strategi bisnis perusahaan.
Menurutnya, kegiatan konservasi seperti penanaman mangrove dan transplantasi terumbu karang memberikan manfaat ganda. Selain menjaga ekosistem pesisir, program ini juga berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat lokal yang bergantung pada sumber daya laut.
Lombok Utara Dipilih karena Nilai Strategis
Pemilihan Lombok Utara sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki posisi strategis sebagai jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) TelkomGroup Mandalika–Sanur.
Keberadaan ekosistem pesisir yang sehat dinilai berperan penting dalam menjaga ketahanan wilayah terhadap abrasi dan perubahan iklim. Hal ini secara tidak langsung juga mendukung keberlangsungan infrastruktur digital bawah laut yang menjadi tulang punggung konektivitas.
Dengan kata lain, pendekatan yang dilakukan Telkom tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga mengintegrasikan aspek keberlanjutan dengan kebutuhan infrastruktur digital.
Peran Mangrove dan Terumbu Karang
Secara ekologis, mangrove memiliki fungsi vital sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi serta sebagai penyerap karbon biru (blue carbon) yang efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Sementara itu, terumbu karang berperan sebagai habitat bagi berbagai biota laut dan menjadi penopang utama keanekaragaman hayati di ekosistem laut. Selain fungsi ekologis, keberadaan terumbu karang juga memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama bagi sektor perikanan dan pariwisata.
Dengan melakukan transplantasi terumbu karang, Telkom turut berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut sekaligus mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.
Konsistensi Program Lingkungan Telkom
Upaya yang dilakukan pada Hari Bumi 2026 bukanlah langkah yang berdiri sendiri. Sepanjang 2025, Telkom telah menjalankan berbagai program pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan yang lebih berkelanjutan.
Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah pengumpulan lebih dari 3,3 ton sampah plastik melalui Reverse Vending Machine (RVM) di Telkom Hub Jakarta. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 177.915 botol plastik yang berhasil didaur ulang.
Selain itu, Telkom juga mengelola limbah kabel serat optik dengan tingkat pemulihan mencapai 73 persen. Pendekatan ini mengadopsi konsep ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan kembali material untuk mengurangi limbah dan dampak lingkungan.
Dorong Efisiensi Energi dan Bangunan Hijau
Dalam aspek efisiensi energi, Telkom telah mengadopsi standar bangunan ramah lingkungan melalui sertifikasi internasional EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies). Standar ini memastikan efisiensi penggunaan energi, air, dan material di berbagai fasilitas operasional perusahaan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi yang lebih luas dalam mengurangi jejak karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Target Net Zero Emission 2060
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, Telkom juga telah menyusun Climate Transition Plan yang menjadi panduan menuju target Net Zero Emission pada 2060.
Pada fase awal yang mencakup periode 2023 hingga 2030, perusahaan menetapkan enam strategi dekarbonisasi. Beberapa di antaranya meliputi pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 20 persen untuk cakupan 1 dan 2, serta peningkatan efisiensi energi hingga 10 persen melalui modernisasi jaringan.
Selain itu, Telkom juga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas lebih dari 14 MWp sebagai bagian dari upaya transisi ke energi bersih.
Di sektor pengelolaan limbah, perusahaan menargetkan pengurangan sampah hingga minimal 70 persen, termasuk optimalisasi pengelolaan limbah serat optik.
Kolaborasi Jadi Kunci Transformasi Hijau
VP Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menekankan bahwa transformasi menuju keberlanjutan tidak dapat dilakukan secara sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor dan konsistensi dalam menjalankan berbagai inisiatif lingkungan.
Menurutnya, perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan, termasuk penerapan budaya ramah lingkungan di seluruh lini bisnis TelkomGroup.
Integrasi Keberlanjutan dan Infrastruktur Digital
Melalui peringatan Hari Bumi 2026, Telkom tidak hanya memperkuat komitmen terhadap lingkungan, tetapi juga memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Pendekatan ini mencerminkan upaya perusahaan dalam mengintegrasikan inovasi keberlanjutan dengan pengembangan infrastruktur digital. Dengan demikian, layanan konektivitas yang dihadirkan tidak hanya andal dan inklusif, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan.
Langkah Telkom ini menunjukkan bahwa transformasi digital dan pelestarian lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan.






