Tabengan.com – Platform media sosial legendaris era awal 2000-an, Friendster, resmi menemukan “kehidupan kedua”. Setelah sempat mati suri dan hilang dari peredaran, domain Friendster kini dihidupkan kembali oleh seorang programmer sekaligus pengusaha, Mike Carson, dengan nilai transaksi sekitar USD 30.000 atau setara Rp517 juta.
Langkah ini bukan sekadar nostalgia digital. Carson membawa visi baru yang cukup kontras dengan wajah media sosial modern saat ini.
Dari Ikon Warnet ke Domain Terlantar
Bagi generasi awal internet, Friendster adalah pionir. Jauh sebelum Facebook, Instagram, atau TikTok, platform ini menjadi tempat utama membangun jaringan pertemanan digital—termasuk di Indonesia.
Namun, dominasi itu tak bertahan lama. Friendster kalah bersaing, terutama setelah Facebook menawarkan pengalaman yang lebih stabil dan scalable. Layanan ini akhirnya resmi ditutup pada 2015.
Menariknya, domain Friendster sempat muncul kembali pada 2023, namun hanya berisi situs penuh iklan—indikasi bahwa aset digital ini sekadar dimonetisasi tanpa arah produk yang jelas.
Akuisisi: Dari USD 8.000 ke USD 30.000
Mike Carson mulai tertarik setelah menelusuri kepemilikan domain tersebut. Ia menemukan bahwa pemilik sebelumnya membeli Friendster.com seharga USD 8.000.
Negosiasi pun terjadi. Carson akhirnya mengamankan domain tersebut dengan:
- Bitcoin senilai USD 20.000
- Ditambah domain lain dengan pendapatan iklan sekitar USD 9.000 per tahun
Total nilai transaksi diperkirakan mencapai USD 30.000.
Tak berhenti di domain, Carson juga mengejar aspek legal yang krusial: merek dagang Friendster. Setelah melalui proses hukum, ia resmi mengantongi hak tersebut pada 13 Mei 2025.
Visi Baru: Media Sosial yang “Lebih Nyata”
Alih-alih meniru platform modern, Carson justru mengambil arah berlawanan. Ia ingin mengembalikan esensi jejaring sosial sebagai sarana interaksi nyata, bukan sekadar engagement digital.
Konsep utamanya cukup unik—bahkan bisa dibilang radikal:
Untuk berteman, pengguna harus bertemu langsung dan “mengetuk” ponsel satu sama lain.
Secara teknis, ini mirip dengan pertukaran data berbasis proximity (seperti NFC atau Bluetooth), tetapi dengan filosofi yang jelas: koneksi digital harus berakar dari interaksi fisik.
Dua Fitur Pembeda Utama
Friendster versi baru membawa dua mekanisme yang cukup berbeda dari platform lain:
1. Jaringan “Teman dari Teman”
Pengguna dapat melihat koneksi tingkat dua (mutual connections) dan mengirim pesan. Namun, untuk benar-benar menjadi teman, tetap harus ada pertemuan langsung.
2. Koneksi Bisa “Melemah”
Jika dua pengguna tidak pernah berinteraksi secara fisik (mengetuk ponsel) dalam waktu satu tahun, hubungan mereka akan melemah di sistem.
Ini bukan sekadar fitur teknis, melainkan desain perilaku (behavioral design) yang mendorong interaksi dunia nyata.
Tantangan Awal: Ditolak App Store
Perjalanan tidak mulus. Aplikasi Friendster sempat ditolak oleh Apple karena dianggap tidak memenuhi standar “Minimum Functionality 4.2”.
Carson kemudian menyesuaikan sistem:
- Pendaftaran dibuka untuk semua pengguna
- Namun fitur inti (menambah teman) tetap berbasis pertemuan langsung
Pendekatan ini akhirnya lolos, dan aplikasi Friendster kini sudah tersedia di App Store (iOS).
Bukan Soal Monetisasi (Untuk Sekarang)
Berbeda dengan mayoritas startup sosial saat ini, Carson menegaskan bahwa monetisasi bukan prioritas utama. Fokus awalnya adalah:
- Membangun komunitas
- Menciptakan pengalaman sosial yang sehat
- Menutup biaya operasional secara bertahap
Namun, opsi fitur premium berbayar tetap terbuka di masa depan.
Analisis: Nostalgia vs Realitas Pasar
Gagasan Friendster baru ini menarik karena mencoba mengoreksi “kelelahan sosial digital” (social media fatigue). Banyak pengguna mulai jenuh dengan:
- Interaksi dangkal
- Algoritma adiktif
- Overload konten
Namun, pendekatan berbasis pertemuan fisik juga membawa tantangan besar:
- Skalabilitas terbatas
- Kurang praktis dibanding platform konvensional
- Bergantung pada perubahan perilaku pengguna
Dengan kata lain, ini bukan sekadar membangun aplikasi—ini mencoba mengubah cara orang bersosialisasi.
Kembalinya Friendster bukan hanya cerita comeback, tetapi eksperimen sosial dalam bentuk digital. Dengan konsep yang menekankan interaksi nyata, platform ini mencoba keluar dari arus utama media sosial yang serba instan dan virtual.
Apakah model ini akan berhasil? Itu sangat bergantung pada satu hal sederhana:
apakah orang masih mau benar-benar bertemu, atau cukup puas dengan sekadar “like” dan “follow”?






