Tabengan.com – Fenomena TikTok ditinggalkan pengguna ramai terjadi di Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir. Ribuan hingga jutaan pengguna dilaporkan mulai menghapus aplikasi video pendek asal China tersebut dan beralih ke platform media sosial alternatif.
Gelombang eksodus ini dipicu oleh menurunnya kepercayaan publik terhadap manajemen baru TikTok di Amerika Serikat, menyusul pemindahan operasional platform tersebut ke entitas gabungan yang berbasis di AS.
Sejumlah pengguna menilai perubahan struktur kepemilikan dan pengelolaan TikTok berpotensi memengaruhi kebijakan platform, terutama terkait moderasi konten dan pengelolaan data pribadi.
Isu Kepercayaan Jadi Pemicu Utama
Ramainya TikTok ditinggalkan pengguna AS tidak lepas dari kekhawatiran terhadap entitas baru yang mengelola operasional TikTok di Amerika. Salah satu nama yang mencuat adalah Oracle, perusahaan teknologi yang pendirinya Larry Ellison dikenal memiliki kedekatan politik dengan Presiden AS Donald Trump.
Isu ini memicu spekulasi luas di media sosial mengenai potensi perubahan arah kebijakan TikTok pasca divestasi ByteDance, perusahaan induk asal China.
Sejumlah unggahan viral menyoroti kemungkinan perluasan jenis data yang dihimpun TikTok, mulai dari data pribadi sensitif seperti ras dan etnis, orientasi seksual, kewarganegaraan, status imigrasi, hingga informasi keuangan.
Meski demikian, TikTok menegaskan bahwa deskripsi kebijakan tersebut bukan hal baru. Versi kebijakan yang diarsipkan sejak Agustus 2024 juga mencantumkan poin-poin serupa.
Namun, momentum pengumuman pemindahan operasional membuat isu tersebut kembali mencuat dan memicu sentimen negatif di kalangan pengguna.
Dugaan Sensor Konten Ikut Memperkeruh Situasi
Selain isu data, alasan TikTok ditinggalkan pengguna juga berkaitan dengan dugaan pembungkaman konten tertentu. Sejumlah kreator mengklaim konten yang mengkritik Donald Trump atau kebijakan imigrasi pemerintah AS mengalami penurunan jangkauan secara tiba-tiba.
TikTok membantah tudingan tersebut dan menyebut gangguan yang dialami sebagian pengguna disebabkan oleh pemadaman listrik di salah satu pusat data mereka, yang berdampak pada sistem algoritma dan distribusi konten.
Meski klarifikasi telah disampaikan, sentimen publik terlanjur berkembang dan mempercepat tren pengguna yang memilih hengkang dari platform tersebut.
Data Sensor Tower: Uninstall TikTok Melonjak Tajam
Firma riset pasar Sensor Tower mencatat bahwa rata-rata jumlah pengguna yang menghapus aplikasi TikTok melonjak hingga 150 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya, setelah pengumuman pemindahan operasional TikTok di AS.
Data tersebut memperkuat narasi bahwa pengguna TikTok meninggalkan platform bukan sekadar isu viral sesaat, melainkan tren yang tercermin secara nyata dalam perilaku pengguna aplikasi.
Penurunan posisi TikTok di toko aplikasi juga menjadi indikator kuat. Di Apple App Store AS, TikTok tercatat berada di peringkat ke-27 dalam daftar aplikasi gratis terpopuler, jauh dari posisi puncak yang sebelumnya kerap dikuasainya.
UpScrolled Mendadak Melejit
Seiring gelombang uninstall TikTok, aplikasi media sosial yang sebelumnya nyaris tak dikenal bernama UpScrolled justru mencuri perhatian.
Aplikasi ini mendadak menduduki posisi nomor satu aplikasi gratis di Apple App Store AS pada Kamis (29/1/2026), mengalahkan aplikasi populer seperti ChatGPT, Threads, dan Google Gemini, mengutip laporan Forbes, Sabtu (31/1/2026).
Fenomena ini menjadikan UpScrolled sebagai aplikasi pengganti TikTok yang paling mencolok dalam beberapa hari terakhir.
Pendiri UpScrolled, Issam Hijazi, mengungkapkan bahwa jumlah pengguna platformnya telah menembus 1 juta orang, melonjak tajam dari sekitar 150.000 pengguna hanya dalam hitungan hari.
Narasi Anti-Sensor Jadi Daya Tarik
UpScrolled memposisikan dirinya sebagai platform media sosial yang bebas sensor dan shadowban. Dalam komunikasi publiknya, aplikasi ini secara terbuka mengkritik TikTok, Meta, dan X sebagai platform yang dianggap membungkam suara pengguna dan menyembunyikan konten tertentu melalui algoritma.
Narasi tersebut terbukti efektif menarik pengguna yang merasa jenuh dengan moderasi konten di platform arus utama, terutama di tengah isu TikTok ditinggalkan pengguna.
Dalam laman resminya, UpScrolled menegaskan tidak memiliki agenda politik maupun kepentingan komersial tertentu, serta mengklaim setiap konten memiliki peluang yang sama untuk menjangkau audiens.
Latar Belakang Pendiri dan Visi Platform
UpScrolled merupakan aplikasi yang baru berdiri pada Juni 2025. Issam Hijazi, sang pendiri, memiliki latar belakang karier di perusahaan teknologi besar seperti IBM dan Oracle.
Hijazi, yang memiliki latar etnis Palestina, Yordania, dan Australia, menyebut ide membangun UpScrolled muncul sejak 2023. Ia menilai banyak konten bermakna hilang dari linimasa media sosial utama, sementara disinformasi justru semakin masif.
Visi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam platform yang menekankan kebebasan berekspresi dan transparansi algoritma.
Sinyal Pergeseran Loyalitas Pengguna Media Sosial
Fenomena TikTok ditinggalkan pengguna dan naiknya aplikasi alternatif seperti UpScrolled mencerminkan rapuhnya loyalitas pengguna di era media sosial modern.
Kepercayaan terhadap pengelolaan data, kebijakan moderasi, dan transparansi algoritma kini menjadi faktor penentu, bukan sekadar fitur atau popularitas.
Bagi industri media sosial global, tren ini menjadi peringatan bahwa dominasi platform besar dapat runtuh dengan cepat ketika kepercayaan publik terguncang.
Ke depan, persaingan platform diperkirakan tidak hanya soal inovasi fitur, tetapi juga soal kredibilitas, transparansi, dan keberpihakan terhadap pengguna di tengah dinamika politik dan regulasi yang semakin kompleks.







