Contoh Iklan
Berita

Industri Telco Masih Jadi Tulang Punggung, Pemerintah Pacu Ekonomi Digital 2026

146
×

Industri Telco Masih Jadi Tulang Punggung, Pemerintah Pacu Ekonomi Digital 2026

Sebarkan artikel ini
Industri Telco Masih Jadi Tulang Punggung, Pemerintah Pacu Ekonomi Digital 2026
Contoh Iklan

Tabengan.com – Industri telekomunikasi masih menjadi sektor andalan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia pada 2026. Pemerintah menilai peran operator telekomunikasi tetap krusial, terutama dalam menopang konsolidasi infrastruktur dan pengembangan ekosistem digital nasional.

Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi digital nasional sebesar Rp155,57 triliun pada 2026. Target tersebut disusun sebagai bagian dari Rencana Strategis (Renstra) Komdigi 2025–2029.

Capaian ini ditopang oleh tiga faktor utama, yakni konsolidasi sektor telekomunikasi, penguatan infrastruktur digital, serta meningkatnya kebutuhan layanan government technology (GovTech) di berbagai level pemerintahan.

Konsolidasi Operator Perkuat Fondasi Digital

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, menilai sektor telekomunikasi menjadi penopang utama pencapaian target ekonomi digital tersebut.

Ia menyoroti konsolidasi yang dilakukan tiga operator besar nasional, yakni PT Telkom Indonesia Tbk., PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk., dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk., khususnya di lini infrastruktur digital.

“Konsolidasi ini memperkuat fondasi ekonomi digital nasional,” ujar Sarwoto, Kamis (15/1/2026).

Konsolidasi tersebut mencakup pengembangan jaringan fiber optik, satelit, base transceiver station (BTS), hingga pusat data (data center), yang menjadi tulang punggung konektivitas digital di Indonesia.

Operator Bertransformasi Jadi Techco

Selain infrastruktur, Sarwoto menekankan adanya pergeseran signifikan pada model bisnis operator telekomunikasi. Kini, operator tidak lagi semata berperan sebagai penyedia konektivitas, tetapi mulai bertransformasi menjadi perusahaan teknologi (techco).

“Mereka berlomba-lomba masuk ke aplikasi Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), cloud computing, hingga keamanan siber,” jelasnya.

Transformasi ini dinilai penting untuk menciptakan nilai tambah ekonomi digital yang lebih besar, seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital lintas sektor.

Regulasi OTT dan Telco Perlu Lebih Seimbang

Sarwoto juga menyoroti pentingnya penataan regulasi yang lebih adil antara layanan over the top (OTT) dan penyelenggara telekomunikasi.

Menurutnya, penyesuaian beban regulasi di tingkat pusat dan daerah yang lebih rasional akan menciptakan ruang pertumbuhan yang lebih sehat bagi operator telekomunikasi, penyedia jaringan, serta penyelenggara jasa internet.

“Ekosistem digital akan tumbuh optimal jika regulasinya seimbang,” ujarnya.

Teknologi Antariksa Jadi Sumber Pertumbuhan Baru

Di luar sektor telekomunikasi konvensional, Sarwoto melihat potensi besar dari teknologi antariksa sebagai sumber pertumbuhan baru ekonomi digital.

Pemanfaatan satelit low earth orbit (LEO), non-terrestrial network (NTN), teknologi penginderaan jauh (remote sensing), serta pemetaan digital (mapping) dinilai mampu memperluas kontribusi ekonomi digital ke sektor-sektor strategis seperti pertanian, kelautan, mitigasi bencana, dan tata ruang.

GovTech Ikut Dongkrak Nilai Ekonomi Digital

Tak kalah penting, kebutuhan layanan digital pemerintahan atau GovTech juga menjadi pendorong nilai tambah ekonomi digital.

“GovTech akan ikut meramaikan dan memperbesar kontribusi ekonomi digital nasional,” kata Sarwoto.

Digitalisasi layanan publik dinilai tidak hanya meningkatkan efisiensi birokrasi, tetapi juga membuka peluang bagi industri teknologi dalam negeri.

Target Disusun Konservatif tapi Realistis

Secara keseluruhan, Sarwoto menilai target kontribusi ekonomi digital yang ditetapkan Komdigi bersifat konservatif namun realistis.

Ia menjelaskan, rentang target dari Rp137,89 triliun pada 2025 hingga Rp206,16 triliun pada 2029 mencerminkan asumsi pertumbuhan rata-rata 10–12 persen per tahun. Angka ini setara dengan pertumbuhan sektor digital yang diproyeksikan dua kali lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan PDB nasional di kisaran 5–8 persen.

“Pendekatan perhitungannya moderat dan berbasis nilai tambah ekonomi digital,” ujarnya.

Roadmap Ekonomi Digital hingga 2029

Dalam dokumen Renstra Komdigi 2025–2029, kontribusi ekonomi digital dirancang meningkat bertahap:

  • 2025: Rp137,89 triliun
  • 2026: Rp155,57 triliun
  • 2027: Rp172,43 triliun
  • 2028: Rp189,30 triliun
  • 2029: Rp206,16 triliun

Selain itu, Komdigi juga menargetkan peningkatan Indeks Transformasi Digital Nasional (TDN) pilar bisnis dari 40,38 pada 2025 menjadi 40,70 pada 2026, dan terus meningkat hingga 41,70 pada 2029.

Kontribusi sektor informasi dan komunikasi terhadap PDB nasional ditargetkan stabil di level 4,3 persen sepanjang 2025–2028, sebelum naik menjadi 4,4 persen pada 2029.

Dari sisi infrastruktur, indeks pilar jaringan dan infrastruktur ditargetkan naik dari 56,08 pada 2025 menjadi 57,41 pada 2029. Sementara itu, Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) ditargetkan meningkat dari 44,34 pada 2025 menjadi 53,23 pada 2029, seiring kenaikan tenaga kerja sektor TIK dari 3,21 persen menjadi 5,21 persen secara kumulatif.

Seluruh target tersebut dirancang untuk mendukung tujuan utama Renstra Komdigi 2025–2029, yakni mewujudkan konektivitas digital yang inklusif, ekosistem digital yang memberdayakan, serta ruang digital yang aman dan berdaulat, dengan industri telekomunikasi tetap menjadi pilar utamanya.

Contoh Iklan
Contoh Iklan
Contoh Iklan