Tabengan.com – Peluang besar di industri telekomunikasi global kini berada di depan mata. Namun di saat teknologi 5G dan kecerdasan buatan mulai menjadi fondasi layanan digital masa depan, Ericsson memperingatkan bahwa banyak operator masih bergerak terlalu lambat untuk benar-benar memanfaatkan momentum tersebut.
Dalam riset global terbarunya, vendor teknologi asal Swedia itu mengungkap adanya kesenjangan besar antara optimisme industri dan implementasi teknologi di lapangan. Jika kondisi ini terus berlanjut, peluang pendapatan operator 5G dan AI diperkirakan bisa hilang sebelum sempat dimaksimalkan.
Studi tersebut melibatkan 455 eksekutif senior telekomunikasi dari berbagai negara. Hasilnya menunjukkan mayoritas operator sebenarnya sangat optimistis terhadap masa depan bisnis berbasis AI dan layanan 5G canggih.
Sebanyak 90 persen responden percaya organisasi mereka mampu menangkap peluang bisnis baru dari transformasi digital. Namun ironisnya, sekitar 70 persen operator belum mulai menerapkan teknologi yang justru dianggap paling penting untuk mewujudkan pertumbuhan tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa industri telekomunikasi global saat ini berada di titik kritis. Banyak perusahaan memahami arah masa depan industri, tetapi belum cukup cepat mengambil langkah konkret.
Ericsson Soroti Kesenjangan Ambisi dan Eksekusi
Dalam laporan tersebut, Ericsson menyebut industri telekomunikasi kini menghadapi tantangan utama berupa execution gap atau kesenjangan eksekusi.
Operator telekomunikasi secara umum sudah mengetahui area bisnis mana yang memiliki potensi besar untuk menghasilkan pertumbuhan baru. Namun implementasi teknologi pendukung justru masih tertinggal.
Riset Ericsson menunjukkan bahwa jaringan 5G privat dan konektivitas perusahaan menjadi sektor paling menjanjikan dengan tingkat prioritas mencapai 49 persen.
Di bawahnya terdapat layanan digital konsumen dan perusahaan dengan performa yang disesuaikan sebesar 44 persen, serta konektivitas IoT area luas sebesar 40 persen.
Ketiga sektor tersebut dipandang sebagai sumber pertumbuhan utama bagi operator telekomunikasi dalam beberapa tahun mendatang.
Namun di sisi lain, banyak operator belum mengembangkan kemampuan teknis yang diperlukan untuk mendukung monetisasi layanan tersebut.
Implementasi AI dan 5G Canggih Masih Lambat
Salah satu temuan paling penting dalam laporan Ericsson adalah lambatnya implementasi operasi jaringan berbasis AI.
Sebanyak dua pertiga eksekutif telekomunikasi diketahui belum memulai penerapan AI untuk pengelolaan jaringan mereka.
Padahal AI di industri telekomunikasi dipandang sebagai fondasi penting untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengotomatisasi jaringan, serta mempercepat pengembangan layanan digital baru.
Tidak hanya itu, sekitar 61 persen operator juga belum mulai menerapkan layanan 5G canggih seperti standalone architecture dan network slicing.
Standalone 5G sendiri merupakan arsitektur jaringan mandiri yang memungkinkan operator memaksimalkan kemampuan penuh teknologi 5G tanpa bergantung pada infrastruktur 4G lama.
Sementara network slicing memungkinkan operator membagi jaringan menjadi beberapa jalur virtual dengan performa berbeda sesuai kebutuhan pelanggan atau industri tertentu.
Teknologi ini sangat penting untuk mendukung layanan enterprise, smart factory, kendaraan otonom, hingga konektivitas IoT skala besar.
Namun hingga saat ini implementasi layanan tersebut masih jauh dari optimal.
SaaS dan Cloud Telekomunikasi Belum Banyak Diadopsi
Selain AI dan 5G, Ericsson juga menemukan bahwa adopsi SaaS telekomunikasi masih rendah.
Sebanyak 68 persen operator belum mengadopsi platform TI berbasis Software as a Service atau SaaS.
Padahal model SaaS memungkinkan operator bergerak lebih fleksibel dan cepat dalam mengembangkan layanan digital baru.
SaaS sendiri merupakan model komputasi awan di mana perangkat lunak dihosting secara terpusat oleh penyedia pihak ketiga dan diakses melalui internet.
Dengan pendekatan ini, operator dapat mengurangi ketergantungan terhadap infrastruktur fisik tradisional dan meningkatkan skalabilitas layanan.
Dalam era transformasi digital, fleksibilitas menjadi salah satu faktor paling penting untuk memenangkan persaingan pasar.
Karena itu, lambatnya adopsi cloud software dan SaaS dipandang dapat memperlambat inovasi operator telekomunikasi.
Operator Paham Urgensi, Tapi Belum Bergerak Cepat
Menariknya, mayoritas operator sebenarnya menyadari bahwa pertumbuhan industri telekomunikasi ke depan sangat bergantung pada kemampuan bergerak cepat.
Lebih dari 80 persen responden mengakui bahwa peningkatan skala layanan secara cepat akan menjadi faktor utama dalam memenangkan pasar.
Selain itu, banyak operator juga memahami pentingnya kemampuan bereksperimen secara lebih fleksibel untuk menciptakan model bisnis baru.
Namun pemahaman tersebut belum diikuti implementasi nyata dalam skala besar.
Head of Strategy for Cloud Software and Services Ericsson, Razvan Teslaru, mengatakan industri telekomunikasi sebenarnya sudah memiliki visi yang cukup jelas mengenai masa depan bisnis digital.
Menurutnya, tantangan terbesar kini bukan lagi menemukan peluang, tetapi mengeksekusi transformasi secara lebih cepat.
“Industri telekomunikasi memiliki peluang pertumbuhan yang jelas dalam layanan berbasis AI, 5G privat, dan IoT, dan mereka secara umum sepakat tentang kemampuan yang dibutuhkan untuk mewujudkannya,” kata Razvan Teslaru.
“Tantangannya adalah adopsi kemampuan tersebut masih terbatas, dan kesenjangan eksekusi ini pada akhirnya akan menentukan siapa yang menerjemahkan ambisi menjadi pertumbuhan nyata,” lanjutnya.
Monetisasi 5G Jadi Tantangan Besar Operator
Selama beberapa tahun terakhir, monetisasi 5G memang menjadi tantangan utama industri telekomunikasi global.
Meski investasi jaringan sangat besar, banyak operator masih kesulitan menciptakan model bisnis baru yang benar-benar menghasilkan pendapatan signifikan.
Sebagian besar layanan 5G saat ini masih difokuskan pada peningkatan kecepatan internet konsumen.
Padahal potensi terbesar teknologi 5G justru berada di sektor enterprise, industri otomatisasi, cloud gaming, smart city, hingga konektivitas IoT.
Karena itu, implementasi layanan 5G privat dan network slicing menjadi sangat penting.
Teknologi tersebut memungkinkan operator menyediakan layanan jaringan khusus dengan kualitas berbeda untuk sektor industri tertentu.
Misalnya, rumah sakit dapat menggunakan jaringan dengan latensi sangat rendah untuk kebutuhan operasi jarak jauh, sementara pabrik pintar membutuhkan konektivitas stabil untuk sistem otomatisasi mesin.
Tanpa transformasi ke layanan bernilai tinggi seperti itu, operator berisiko hanya menjadi penyedia konektivitas biasa dengan margin keuntungan semakin kecil.
AI Diprediksi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Selain 5G, AI juga dipandang sebagai sumber pertumbuhan baru bagi operator telekomunikasi.
Implementasi AI memungkinkan otomatisasi pengelolaan jaringan, analisis trafik real-time, optimasi kualitas layanan, hingga pengembangan customer service berbasis AI generatif.
Teknologi AI juga dapat membantu operator menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan infrastruktur.
Dalam jangka panjang, AI bahkan diperkirakan akan menjadi bagian penting dalam pengembangan autonomous network atau jaringan yang mampu mengelola dirinya sendiri secara otomatis.
Namun untuk mencapai tahap tersebut, operator membutuhkan investasi besar pada cloud infrastructure, data platform, dan sistem otomatisasi modern.
Karena itu, Ericsson menilai operator perlu bergerak lebih agresif agar tidak tertinggal dari transformasi industri global.
Indonesia Masih Hadapi Tantangan Implementasi 5G
Di Indonesia sendiri, perkembangan 5G masih berjalan relatif lambat dibanding sejumlah negara lain.
Beberapa faktor menjadi penyebab utama, mulai dari tingginya biaya pembangunan infrastruktur, keterbatasan spektrum frekuensi, hingga transisi bertahap dari jaringan 4G.
Meskipun operator besar sudah mulai menyediakan layanan 5G di sejumlah kota, cakupan jaringan masih terbatas dan pengalaman pengguna belum merata.
Selain itu, monetisasi layanan 5G di Indonesia juga masih menjadi tantangan.
Sebagian besar penggunaan masih sebatas akses internet cepat untuk konsumen, sementara implementasi layanan enterprise dan IoT belum berkembang masif.
Padahal sektor industri, manufaktur, logistik, hingga smart city dipandang memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan pendapatan operator 5G dan AI di masa depan.
Persaingan Telekomunikasi Masuk Fase Baru
Laporan Ericsson memperlihatkan bahwa industri telekomunikasi kini memasuki fase persaingan baru.
Jika sebelumnya operator fokus memperluas jaringan dan meningkatkan jumlah pelanggan, kini kompetisi mulai bergeser ke kemampuan membangun layanan digital bernilai tinggi.
AI, cloud, IoT, dan 5G privat dipandang sebagai fondasi utama untuk menciptakan sumber pendapatan baru di luar layanan konektivitas tradisional.
Karena itu, operator yang mampu bergerak cepat mengadopsi teknologi baru diperkirakan akan memiliki posisi lebih kuat dalam beberapa tahun mendatang.
Sebaliknya, operator yang lambat bertransformasi berisiko kehilangan momentum pertumbuhan digital.
Ericsson menilai pendekatan yang lebih fleksibel serta kolaborasi dengan mitra teknologi dan ekosistem baru menjadi langkah penting untuk mempercepat transformasi tersebut.
Di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas global dan ledakan penggunaan AI, industri telekomunikasi saat ini berada di titik penentu yang akan menentukan siapa pemain yang mampu memimpin era digital berikutnya.





