Tabengan.com – Presiden Prabowo Subianto menunjukkan ambisi besar di sektor teknologi strategis. Dalam rapat terbatas yang digelar di kediaman pribadinya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Prabowo secara khusus membahas peluang dan langkah Indonesia untuk mengembangkan chip semikonduktor Indonesia secara mandiri.
Agenda rapat ini pertama kali terungkap melalui unggahan akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet. Pertemuan tersebut dihadiri jajaran menteri kunci lintas sektor, menandakan bahwa pengembangan semikonduktor bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari strategi besar pemerintah.
Rapat Hambalang, Sinyal Serius Pemerintah
Sejumlah pejabat tinggi yang hadir antara lain Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Turut hadir pula Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani.
Komposisi peserta rapat ini mencerminkan bahwa pembangunan chip semikonduktor Indonesia dipandang sebagai proyek lintas sektor, mulai dari industri, energi, investasi, hingga riset dan teknologi.
Empat Agenda Besar, Semikonduktor Jadi Kunci
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah membahas empat agenda utama. Salah satu fokus terpenting adalah penguatan sektor otomotif dan elektronik melalui investasi pengembangan teknologi semikonduktor.
Tujuannya jelas: membangun fondasi industri chip masa depan di Indonesia yang dapat menopang industri otomotif, digital, dan elektronik nasional.
Chip semikonduktor kini menjadi komponen vital, terutama di industri otomotif modern. Mobil dan sepeda motor keluaran terbaru mengandalkan puluhan hingga ratusan chip untuk sistem keselamatan, infotainment, efisiensi energi, hingga fitur kendaraan pintar.
Pelajaran Mahal dari Pandemi
Urgensi penguasaan chip semikonduktor Indonesia semakin terasa jika menengok ke belakang. Saat pandemi Covid-19 pada 2020–2021, gangguan rantai pasok global semikonduktor membuat produksi mobil dan motor di berbagai negara tersendat.
Indonesia ikut terdampak karena sepenuhnya bergantung pada impor chip. Krisis tersebut menjadi pengingat keras bahwa semikonduktor bukan lagi sekadar komoditas industri, melainkan aset strategis nasional.
Indonesia Pernah Punya Pabrik Chip
Menariknya, Indonesia sebenarnya bukan pemain baru di sektor ini. Pada 1973, Indonesia pernah memiliki industri semikonduktor melalui kerja sama dengan Amerika Serikat.
Saat itu, dua perusahaan multinasional asal AS, Fairchild Semiconductors dan National Semiconductors, menanamkan investasi di sektor manufaktur chip di Indonesia.
Namun, dinamika industri global berubah drastis sejak 1980-an.
Industri Semikonduktor Berubah Total
Awalnya, industri semikonduktor menggunakan model vertical integration, di mana satu perusahaan mengerjakan seluruh proses dari desain hingga produksi. Model ini dikenal sebagai Integrated Device Manufacturer (IDM).
Seiring waktu, ekosistem tersebut terpecah menjadi beberapa segmen: Fabless (desain chip), Foundry (fabrikasi), IDM (desain dan fabrikasi), serta OSAT (assembly dan pengujian).
Fragmentasi ini justru memicu ledakan inovasi dan melahirkan banyak perusahaan rintisan semikonduktor di berbagai negara.
Indonesia Tertinggal, Malaysia Melaju
Sayangnya, Indonesia gagal memanfaatkan momentum tersebut. Pada 1985, persoalan ketenagakerjaan mendorong investor manufaktur semikonduktor hengkang ke Malaysia.
Sejak saat itu, peta industri berubah. Malaysia tumbuh menjadi basis manufaktur semikonduktor regional, sementara Indonesia tertinggal dan beralih menjadi pengimpor chip.
Kehilangan pabrik semikonduktor tersebut menjadi kerugian strategis jangka panjang, baik dari sisi ekonomi, teknologi, maupun kemandirian industri.
Ambisi Prabowo: Bangkitkan Kembali Industri Chip Nasional
Kini, lewat dorongan langsung Presiden Prabowo, peluang kebangkitan chip semikonduktor Indonesia kembali terbuka. Tantangannya jelas tidak kecil—mulai dari investasi besar, transfer teknologi, hingga kesiapan sumber daya manusia.
Namun di tengah persaingan global dan meningkatnya ketegangan geopolitik teknologi, upaya ini menjadi langkah krusial.
Jika berhasil, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga berpotensi masuk ke rantai pasok semikonduktor global. Di era digital dan kendaraan listrik, siapa menguasai chip, dialah yang menguasai masa depan industri.
Dan Prabowo tampaknya ingin Indonesia ikut duduk di meja besar itu, bukan sekadar menjadi pasar.





