Warga Katingan Keluhkan Fasilitas Pendidikan dan Insentif Mantir

38
duwel rawing di katingan
Anggota DPRD Kalteng, Duwel Rawing, saat meninjau SMAN 1 Tasik Payawan, Kabupaten Katingan, saat reses ke Kabupaten tersebut, Rabu (18/4).

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Sejumlah masyarakat di Desa Baun Bango, Petak Bahandang dan Pendahara mengharapkan adanya peningkatan fasilitas pendidikan serta perhatian pemerintah untuk meningkatkan insentif mantir adat.

Hal ini disampaikan langsung oleh mantir adat dan masyarakat kepada anggota DPRD Kalteng dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kalteng I yang meliputi Kabupaten Katingan, Gunung Mas, dan Kota Palangka Raya, Duwel Rawing, saat reses dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat di Kabupaten Katingan, Kamis (19/4).

“Kemarin pada saat saya melaksanakan reses ke Desa Baun Bango dan Pendahara ada beberapa aspirasi yang disampaikan kepada saya di antaranya yaitu Mantir Adat yang mengharapkan adanya kenaikan insentif. Jangan sampai insentif mereka lebih rendah dibandingkan insentif rukun tetangga (RT), sedangkan selama ini Mantir Adat memiliki tugas yang sangat banyak,” kata Duwel, saat dibincangi wartawan, di gedung dewan, Jumat (20/4).

Politisi dari PDI Perjuangan ini juga mengatakan, selain meminta kenaikan insentif, mantir adat di Desa Baun Bango dan Pendahara juga mengharapkan adanya bantuan untuk melengkapi fasilitas alat-alat kantor, karena sampai saat ini di kantor mantir adat belum ada fasilitas apapun.

“Untuk fasilitas alat-alat kantor, saya rasa hal tersebut perlu diperhatikan, karena pada saat saya berkunjung ke tempat mantir adat kemarin, ternyata fasilitas yang ada hanya 1 meja dan 1 kursi. Tidak ada lemari, bahkan alat-alat tulis,” ungkapnya.

Mantan Bupati Kabupaten Katingan dua periode ini juga menyampaikan, untuk bidang pendidikan khususnya Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK) di wilayah pelosok, masih banyak kekurangan fasilitas seperti komputer, sehingga masih banyak yang harus bergabung dan meminjam fasilitas dari sekolah lain yang berada di Kasongan.

“Contohnya di Desa Baun Bango dan Petak Bahandang, untuk mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) kemarin, SMA di desa tersebut terpaksa bergabung dengan dekolah lain yang fasilitasnya memadai di kota Kasongan. Padahal jarak yang ditempuh cukup jauh, sehingga hal ini harus menjadi perhatian pemerintah khususnya Dinas Pendidikan,” tambah anggota Komisi C DPRD Kalteng, yang membidangi pendidikan ini.

Duwel Rawing yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Katingan ini juga menuturkan, selain fasilitas berupa komputer, SMA di beberapa desa masih banyak kekurangan fasilitas lain seperti kurangnya ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar.

“Tidak hanya fasilitas komputer misalnya di Desa Petak Bahadang, SMA di sana masih kekurangan ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan ruang kantor pun tidak punya, sehingga dengan terpaksa ruang kelas yang ada diberi sekat dan dijadikan kantor. Bahkan jurusannya pun dikurangi, jadi hanya ada jurusan IPA dan IPS saja, jurusan bahasanya tidak ada,” terangnya. sgh

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here