Covid-19 Menggila karena Kesadaran Masyarakat Kurang

Ilustrasi medis tangani Covid-19. Inset Kepala Laboratorium Mikrobiologi Klinik Biomekuler Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Palangka Raya dr Mayawati ES Mewo MKedKlin SpMK

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kota Palangka Raya makin menggila. Belum terlihat tanda-tanda adanya penurunan. Sejumlah faktor memengaruhi belum akan menurunnya kasus dalam waktu dekat ini.
Kepala Laboratorium Mikrobiologi Klinik Biomekuler Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Palangka Raya dr Mayawati ES Mewo MKedKlin SpMK menyampaikan, kesadaran dari masyarakat masih kurang. Orang-orang yang terkonfirmasi positif lebih baik jangan keluar beraktivitas dan tetap isolasi mandiri.
“Batuk atau apa tetap saja beraktivitas, itu yang bahaya. Karena mohon maaf kesadaran untuk bermaskernya agak beda. Kadang kalau untuk makan, atau ngerokok, maskernya ditaruh di leher. Sementara lehernya sudah terkontaminasi, habis selesai makan atau ngerokok, maskernya dinaikin lagi ke hidung, ya udah, virus yang lengket di dagu akhirnya masuk ke hidung,” kata Maya, Selasa (22/2).
Sementara itu, kasus konfirmasi positif yang sedang dirawat inap di RS Kota lebih dari 10 orang dengan memiliki komorbid seperti diabetes. Setiap hari kenaikan 80 sampai 100 per hari dari 300 sampel yang diperiksa setiap hari.
Menurut Maya, selama oknum tidak ada kesadaran, tidak menjalani isolasi dengan baik, maka situasinya tidak akan bisa cepat diatasi dan tidak tahu sampai kapan bisa berakhir.
Maya menambahkan, sebenarnya jumlah kasus lebih banyak daripada yang ada saat ini. Yang tercatat di laporan itu hasil PCR. Namun, yang sekarang lagi tren, orang-orang mau antigen diri sendiri di rumah karena ingin tahu kondisinya. Hasilnya positif, tetapi istirahatnya tidak sesuai dengan isolasi mandirinya, misal tidak boleh keluar, tetap mau keluar.
“Akhirnya banyak yang los pemantauan. Jadi sebenarnya angka positif ini banyak. Tapi tersembunyi. Ada juga kemungkinan tempat-tempat tertentu yang tidak melapor hasilnya. Jadi ada oknum-oknum tertentu yang sebenarnya membuat angka positif ini tidak tercatat dengan benar. Apalagi yang antigen di rumah, yang penting tahu hasilnya positif, minum vitamin banyak, tapi dia tidak membatasi dirinya sendiri dengan isolasi mandiri, kalau ini tidak diputus, maka tidak akan bisa bebas dari Covid-19,” pungkas Maya.
Untuk itu, lanjut Maya, kesadaran masyarakat harus dibina, sehingga tidak merugikan banyak orang. Antigen di fasilitas kesehatan tercatat semua, sehingga bisa menyusun tindakan apa yang harus dilakukan.
Prediksi sementara awal Maret terjadi lonjakan kasus, apalagi penerbangan masih lancar, bepergian bebas sehingga bertahan dengan situasi yang ada. Meskipun puncaknya daerah lain sudah, namun di Kota Palangka Raya prediksinya kemungkinan masih belum. Biasanya kalau puncaknya di daerah pusat penyebaran Maret, maka di daerah bisa akhir Maret.
Masih menurut Maya, antisipasi hadapi puncak Covid-19 Omicron, sama seperti menghadapi Covid seperti biasanya. Tidak ada tindakan khusus, namun memang perlu edukasi ke masyarakat. Perlu kencang karena mungkin dianggap gejalanya ringan, sehingga orang bebas keluar, olahraga atau bepergian.
Setiap orang yang terkonfirmasi positif wajib isoman 10 hari. Hasil PCR positif dengan gejala ringan disuruh isoman di rumah. Tanpa tes hari ke-10 sudah bisa bebas. Tapi kalau mau cepat, biasanya di hari ke-5 dan ke-6 dua kali berturut-turut PCR negatif baru bebas dari isolasi. Tetapi dari 2 kali pemeriksaan itu satu saja hasil yang positif maka tetap isoman, sampai hari ke-11 baru bisa bebas.
“Omicron itu flunya beda dengan flu biasa, dia lebih berat, kemudian sakit tenggorokannya luar biasa. Kalau orang masih muda, masih bagus daya tahan tubuhnya dan sudah vaksin memang ringan gejalanya. Tapi kalau dia jalan-jalan kontak dengan orang tua, dengan lansia, memiliki komorbid, autoimun, ini yang kasihan, jadi berat dan bisa meninggal,” pungkas Maya. yml

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.