Ombudsman: Harga Minyak Goreng Dijual Beragam

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalteng Bernardianto Biroum Dan Pengamat Ekonomi Kalimantan Tengah, yang juga seorang dosen ekonomi di Universitas Palangka Raya (UPR), Fitria Husnatarina

Fitria: Pasar Penyeimbang Tidak Menjawab hingga Akar permasalahan

PALANGKA RAYA- Penurunan harga minyak goreng tidak sejalan dengan ketersediaan di lapangan. Barangnya sulit didapat. Kelangkaan tersebut juga membuat Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Tengah turun melakukan pemantauan.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kalteng Bernardianto Biroum menjelaskan, hasil pemantauan yang dilakukan tim di lapangan, ditemukan merek minyak goreng M&M kemasan sederhana berbentuk bantal yang dijual dengan harga berbeda-beda di setiap toko atau lapak. Padahal, kemasannya sama-sama 1 Liter.
Perbedaan ini, kata Biroum, disebabkan harga beli dari agen yang berbeda-beda. Ada kemungkinan ada lebih dari 1 agen yang memasok minyak goreng merek M&M, atau kemungkinan lain adalah 1 agen yang sama namun menerapkan harga yang berbeda-beda di setiap lapak.
Kemudian, kebijakan di setiap tempat berbeda-beda terkait jumlah maksimal pembelian oleh masyarakat. Ada yang menerapkan per orang maksimal 2 liter, ada pula yang dijual secara bebas.
Menurut Biroum, Ombudsman RI Perwakilan Kalteng melakukan pemantauan minyak goreng di Kalteng pada Sabtu (19/2) sampai Senin (21/2). Ada 4 lokasi yang dilakukan pemantauan, yakni pasar tradisional, pasar modern, toko tradisional dan toko modern.
“Di pasar tradisional minyak curah berkisar antara harga Rp10 ribu-15 ribu. Harga Rp10 ribu, pedagang menggunakan minyak merek Sania kemasan jerigen kemudian dikemas menjadi kemasan kecil (curah) 600 ml. Sementara minyak goreng kemasan sederhana dijual Rp16 ribu-19 ribu per liter. Pedagang kebanyakan mendapat pasokan dari agen atau distributor, dan membeli dengan harga kisaran Rp14 ribu-16 ribu per liter,” kata Biroum, di Palangka Raya, Selasa (22/2).
Sementara untuk minyak goreng kemasan premium, papar Biroum, di pasar tradisional dijual dengan harga Rp22 ribu per liter. Namun, tidak banyak kios yang menjual minyak goreng kemasan premium ini. Stok sendiri, para pedagang mendapatkannya dari pembelian di pasar tradisional yang lebih besar. Minyak goreng kemasan sederhana, pengakuan dari pedagang, pasokan diperoleh dari agen dengan jumlah 1-3 dus dalam sekali pembelian.
Di pasar tradisional, lanjut Biroum, masyarakat yang membeli minyak goreng tidak dibatasi. Lanjut ke pasar modern yakni Hypermart Palangka Raya. Di sini tidak dipasok minyak goreng curah dan kemasan sederhana. Sementara untuk kemasan premium, dijual dengan harga Rp14 ribu per liter. Stok didapat dari distributor PT Papasamsu dengan harga beli Rp11.800 per liter.
Di toko tradisional, tambah Biroum, juga tidak memasok minyak goreng curah. Sementara untuk kemasan sederhana dijual Rp16.500-Rp17.500 per liter. Pedagang mendapat stok dari pasar yang lebih besar, ada juga merek minyak yang diantar oleh agennya, dengan harga beli kisaran Rp15.200-Rp 16 ribu per liter. Pedagang memasok minyak tergantung ketersediaan. Harga ini juga berlaku untuk minyak goreng kemasan premium.
Terakhir, ungkap Biroum, toko modern Alfamart dan Indomaret. Kedua gerai ini tidak menyediakan atau menjual minyak goreng curah, dan kemasan sederhana. Minyak goreng kemasan premium dijual dengan harga Rp14 ribu per liter. Namun saat tim datang ke sana stok minyak sedang kosong atau habis.
Pengamat Menilai Pasar Penyeimbang
Pemerintah kota Palangka Raya berkolaborasi dengan Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Palangka Raya dan pihak distributor lakukan operasi pasar bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang di mulai, Selasa (22/2) s/d Sabtu (26/2) disejumlah kelurahan dan kecamatan yang ada di Palangka Raya.
Dalam pantauan Tabengan, masyarakat yang datang pun ke Balai Basarah Kelurahan Palangka, tempat dilangsungkannya Pasar Penyeimbang tersebut begitu antusias. Pasalnya, dipusat-pusat grosir mereka masih sulit untuk memperoleh minyak goreng.
Mengamati apa yang dilakukan Pemerintah Kota tersebut, Pengamat Ekonomi Kalimantan Tengah, yang juga seorang dosen ekonomi di Universitas Palangka Raya (UPR), Fitria Husnatarina menilai bahwa Pasar Penyeimbang seperti ini secara momental memang menjadi aktivitas penting yang menolong masyarakat untuk tetap mendapatkan “harga terjangkau” dari minyak goreng.
Namun demikian, bagi Fitria hal tersebut kurang menjawab persoalan yang ada hingga ke akarnya. Menurut Fitria aksi semacam itu tidak dapat digelar dalam waktu yang cukup panjang. Selasa.
Fitria berpendapat, tindakan tegas bagi penimbun saat ada temuan-temuan dilapangan jangan sampai diabaikan. Karena justru hal itulah yang dapat menyebabkan ketidak stabilan harga minyak.
“Tapi mohon diingat, bahwa aksi seperti ini tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lama, karena tujuan utama kebijakan proses stabilisasi adalah secepat-cepat menstabilkan mekanisme pasar, hal ini yang paling urgensi. Jika dari temuan lapangan didapati penimbun, penahanan produk dalam gudang atau hal-hal yang dilakukan oknum untuk merusak harga pasar, itu dulu yang harus dibereskan, dan diselesaikan sebagai prioritas,” tukasnya. ded/dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.