HUKUM  

SIDANG TIPIKOR-Jaksa dan Pengacara Nyaris Baku Hantam

TABENGAN/ANDRE TUNTUT PEMBEBASAN - Tampak seratusan massa melakukan aksi demonstrasi menuntut pembebasan terdakwa Willem Hengki, Kepala Desa (Kades) Kinipan. Pengacara dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Lamandau justru nyaris baku hantam.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Sidang perkara korupsi dengan terdakwa Willem Hengki, Kepala Desa (Kades) Kinipan, Kabupaten Lamandau, kembali digelar di Pengadilan Tipikor Palangka Raya, Senin (21/2).
Persidangan kali ini memanas. Saat sekitar seratusan massa melakukan aksi demonstrasi menuntut pembebasan terdakwa, pengacara dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Lamandau justru nyaris baku hantam.
“Jangan intervensi kalian!” teriak Aryo Nugroho Waluyo selaku Ketua Tim Penasihat Hukum (PH) terdakwa kepada JPU.
Berawal ketika PH dan JPU telah menyelesaikan persidangan dengan agenda putusan sela. Majelis Hakim menolak eksepsi atau keberatan terdakwa atas surat dakwaan dan memutuskan untuk melanjutkan persidangan untuk pembuktian pokok perkara.
Saat sidang berakhir, salah satu anggota JPU menyampaikan kepada anggota tim PH agar terdakwa melaporkan ke pihak kejaksaan karena statusnya masih tahanan kota. Saat komentar itu disampaikan anggota tim PH kepada Aryo, situasi memanas.
“Ngapain lapor kalian! Gak usah intervensi gitu!” teriak Aryo. Dia tidak terima bila Hengki harus melaporkan diri ke pihak kejaksaan lantaran selama ini bersikap kooperatif datang termasuk dalam persidangan. Aryo menganggapnya sebagai bentuk intervensi persidangan.
Sedangkan jaksa tersebut membalas bahwa seharusnya pihak terdakwa konsisten dengan perjanjian awal saat Majelis Hakim mengeluarkan penetapan.
“Maju sini kalau berani!” balas jaksa tersebut lantaran tidak terima atas reaksi PH. Para peserta aksi di luar pagar yang mendengar ada keributan di depan ruang sidang ikut terpancing.
“Keluar itu yang teriak-teriak!” seru para peserta aksi bersahut-sahutan. Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Lamandau Maruf Muzakir dan Kasi Intel Okto Samuel Silaen berusaha melerai.
“Sudah, nanti kita buktikan saja. Kalian punya kewenangan, kita juga punya. Tenang, kita tidak ada upaya intervensi,” ucap Maruf.
Perkelahian terhindarkan ketika para pengunjung sidang termasuk pengacara, jaksa, dan pegawai pengadilan memisahkan keduanya.
Usai keributan, Willem Hengki menemui para demonstran yang terdiri dari warga Desa Kinipan, mahasiswa dan aktivis lingkungan hidup.
“Kita ada kekecewaan, namun hari ini kita tetap tertib. Karena saya patuh dengan hukum di negara kita. Saya harap penegakan hukum di negara ini betul-betul berkeadilan,” ucap Willem.
Para pendukung Willem tampak mematuhi permintaannya untuk membubarkan diri dengan tertib. Mereka tetap meyakini Willem hanyalah korban kriminalisasi akibat upayanya mempertahankan wilayah adat dari perusahaan perkebunan sawit. Usai penyampaian aspirasi, para peserta aksi yang datang dengan puluhan sepeda motor, beberapa mobil, dan sebuah bus itu membubarkan diri. dre

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.