BUDAYA  

Ivan Pandung, Penjaga Budaya Seni Pembuatan Mandau

TABENGAN/DANIEL MANDAU- Ivan Pandung bersama koleksi mandau hasil karyanya.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Mandau adalah senjata tajam khas Dayak yang sudah sangat dikenal di berbagai kalangan. Bukan hanya sebagai salah satu objek budaya, tetapi juga beberapa hal legenda yang menyertainya.
Sebagai penjaga budaya, seniman pembuat mandau tidak cukup banyak. Di Kalimantan Tengah, menurut apa yang dikisahkan Ivan Pandung, hanya sekitar 7 orang.
“Hanya 7 orang, semua masih muda, ada yang seumuran. Ada satu sudah tua,” ungkapnya saat dibincangi Tabengan, Selasa (15/2).
Ivan sendiri menggeluti seni pembuatan mandau sejak masih duduk di bangku sekolah tingkat SMP.
“Minat dari SMP, lihat orang tua-tua dulu membuat, lalu coba-coba jadi hobi, sampai sekarang. Autodidak saya, ya paling hanya share ke teman-teman, atau ke seorang Bue yang dulunya pernah membuat mandau,” terangnya.
Mandau yang dibuatnya ada beberapa jenis. Terbuat dari kayu dan tanduk rusa. Sedangkan untuk bilah pisaunya, Ivan mengaku masih pesan dari Banjarmasin. Bilah terbuat dari besi tempa yang berasal dari pegas kendaraan besar, seperti truk dan sejenisnya.
“Bilahnya paling murah Rp800 ribu. Sedangkan kalau untuk mandau pusaka, biasanya dari batu meteorid. Pembuatannya pun tidak sembarangan. Untuk mandau pusaka minimal modal Rp3-5 juta,” bebernya.
Satu buah mandau dihargainya cukup bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan dan bahannya.
“Membuat mandau harus mengerti filosofinya. Gagangnya tidak dibuat sembarangan, ada pakemnya. Khususnya mandau pusaka dan untuk ritual. Seperti contohnya di Jawa ada seorang empu yang membuat keris, ada syarat-syaratnya. Begitu pula mandau, lebih banyak syaratnya,” bebernya.
Untuk berbahan kayu ulin lebih murah dari yang berbahan tanduk rusa. Karena bahan yang sulit dan rusa menjadi hewan dilindungi. Mandau yang dijualnya dibanderol mulai Rp1.500.000, bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Tidak sedikit pula mandau karya Ivan dicari oleh para pejabat di sekitar Kalteng, khususnya Palangka Raya. Biasanya jika ada pejabat baru, seorang ajudan akan mendatangi rumah Ivan yang sederhana di Jalan Galaxi III Gang Lingkungan untuk membeli sebuah mandau sebagai cenderamata.
Namun demikian, sebagai salah satu penjaga dan pengawal budaya Dayak, melalui seni pembuatan mandau, Ivan mengaku sejauh ini belum ada perhatian dan dukungan dari pemerintah khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Ivan berharap ke depannya pekerja seni seperti dirinya lebih mendapat apresiasi.
“Tolong perajin pewaris budaya Kalteng. Kami-kami ini orangnya. Mohon Dinas Pariwisata kami diperhatikan dan didukung. Bukan hanya berbicara uang. Perhatian bisa dengan memberikan ruang pameran adat budaya, dicarikan pasarnya, dan lain-lain,” ujar Ivan. dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.