Lika-liku Pegiat Seni Pahat Khas Dayak Kalteng

TABENGAN/YULIANUS SENI PAHAT- Iyan dengan berbagai karya seninya.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Bermula dari sekadar hobi seni ukir dan pahat, tetapi setelah ditekuninya selama kurang lebih 20 tahun, akhirnya pria berusia 45 tahun ini menjadikan aktivitas tersebut sebagai mata pencaharian.
Adalah Sofyan Noor atau jika dalam pentas seni dikenal dengan Iyan Seta. Pria kelahiran Banjarmasin ini saat dibincangi Tabengan, Jumat (11/2), menceritakan sedikit lika-liku sebagai seorang pegiat seni ukir dan pahat.
Sejak 2018, keterampilan di bidang seni ukir dan seni pahat yang sudah puluhan tahun dikuasai Iyan Seta, mendapat kesempatan untuk dikenal masyarakat lebih luas lagi.
Di tahun tersebut, instansi pemerintah dan perkantoran mulai memesan berbagai motif ornamen seni pahat khas Dayak. Di setiap gedung perkantoran jika melihat ada berbagai benda seni pahat, seperti ornamen batang garing atau talawang (perisai khas Dayak), umumnya adalah karya dari Iyan Seta.
Selain itu, karyanya juga biasa digunakan pada pelaminan dalam acara pernikahan ataupun hari-hari besar keagamaan yang digunakan untuk memberi nuansa meriah di rujab gubernur.
“Biasa pesan kantor-kantor. Hiasan salah satunya ada di Polda mulai gedung utama dan beberapa gedung lainnya di Polda. Seperti Rujab Polda juga pesan,” beber Iyan.
Iyun menceritakan, sebelum terjun ke dunia seni pahat, pada awalnya berjuang mengais rezeki dengan ikut kakaknya di Jalan KS Tubun. Namun, karena hobi dan tertarik dengan motif, seni ukir pahat Dayak yang penuh dengan makna filosofi, kini usahanya kian berkembang.
“Awalnya hobi aja, lihat motif ukiran Dayak ini banyak filosofinya dan maknanya. Jadi tertarik,” tuturnya.
Pria yang tinggal di rumah kayu sangat sederhana, di simpang 4 Jalan Mahir Mahar, Kereng Bangkirai itu menyebutkan, untuk 1 jenis item pesanan kurang lebih memakan waktu pengerjaan 1 minggu. Tergantung tingkat kesulitan dan besar atau tidaknya ukuran yang diminta pelanggan.
Sedangkan untuk kayu yang digunakan adalah benuas, ulin, meranti.
“Harus paham filosofi dari gambar di ukiran, tidak asal membuat,” ujarnya.
Dia juga membeberkan bahwa modal untuk membuat sebuah karya seni pahatnya paling sedikit Rp600.000-Rp700.000. Dan karya-karyanya tersebut dibanderol mulai harga Rp750.000, bahkan bisa mencapai Rp20.000.000.
“Karena kayu ulin harga turun naik dan bukan rakyat biasa yang menjual, jadi kalau ada pesanan dengan kayu ulin cukup mahal harganya,” imbuhnya.
Namun demikian, sejak pandemi Covid-19 masuk ke Kalimantan Tengah, khususnya Palangka Raya, Iyan mengaku sangat terdampak. Pasalnya, setiap tahun dirinya bersama teman-teman pegiat seni lainnya turut menghadiri festival budaya, yang difasilitasi instansi pemerintah atau swasta, antara lain Dinas Pariwisata dan Dinas Perdagangan.
“Keliling Kalimantan untuk wakili Kalteng. Terakhir di Samarinda, mewakili Kalteng 2019, sebelum Covid,” katanya lagi.
Tetapi yang sangat ironis adalah setiap kali mengikuti festival budaya, Iyan selalu merogoh kantongnya sendiri. Iyan mengaku tidak pernah sepeser pun pemerintah memberikan dukungan finansial saat ada festival budaya. Padahal, karya seni hasil pahatan Iyan sempat beberapa kali juara saat dilombakan.
Bahkan, lanjut Iyan, ketika semua masyarakat terdampak pandemi, ia belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah.
“Ikut festival budaya tidak ada bantuan dari pemerintah.
Padahal kalau masalah izin hingga NPWP selalu ada. Selama Covid juga tidak ada bantuan, padahal kalau seni begini, banyak acara di-cancel kita makan apa. Alasannya katanya seniman sudah sugih. Sugih dari mana? Acara-acara semua di-cancel,” keluhnya.
Di akhir wawancara, Iyan kembali berharap agar pemerintah memerhatikan para pelaku seni. Sedikitnya ada 40-50 perajin seni pahat di Kalteng, tapi belum terkoodinasi dan juga kurang mendapat apresiasi dari pemerintah.
“Selalu alasan tidak ada dananya. Lain dengan Kadis Pariwisata yang dulu. Karena orang seni, jadi tahu bagaimana keadaan seniman. Semoga kami seniman khususnya seni pahat Dayak Kalteng ini semakin diperhatikan pemerintah dan instansi terkait,” harap Iyan.daniel susanto ngadini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.