GADUH MINYAK GORENG-Menahan Barang Akan Sebabkan Berbagai Masalah

Pengamat Ekonomi Kalimantan Tengah/Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Kampus UPR, Fitria Husnatarina

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Kegaduhan akibat hilangnya minyak goreng di pasaran memancing komentar banyak pihak, salah satunya pengamat ekonomi Kalimantan Tengah Fitria Husnatarina.

Menurut Fitria, kelangkaan minyak goreng salah satunya sangat memungkinkan terkait aktivitas ekspor CPO. Penyebab  kelangkaan muncul akibat tidak lancarnya distribusi atau sebaran produk minyak goreng di proses produksi turunannya maupun pemasarannya.

Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Kampus UPR itu juga menyebutkan, dampak Permendag 06 yang menurunkan harga minyak goreng menjadi 3 jenis, yaitu Rp14.000 untuk premium, Rp13.500 untuk kemasan sederhana dan Rp11.500 untuk minyak curah, menjadi persoalan tersendatnya distribusi minyak di pasaran.

“Konsepnya memang terkonfirmasi dengan munculnya turbulensi rantai pasok minyak goreng, karena variabel cost yang tidak sama  antardistributor memang harusnya menjadi pertimbangan penting dalam penetapan harga ini,” bebernya, Selasa (8/2).

Mantan Ketua Ikatan Akuntansi Indonesia Wilayah Kalteng ini mengemukakan, kondisi sebenarnya lebih kepada produsen penghasil produk minyak goreng secara spesifik, tetapi lebih mengalami pergolakan lagi adalah pihak-pihak yang terlibat dalam proses distribusi, karena variasi dari variabel cost-nya cenderung lebih banyak dan berbeda antarwilayah/daerah.
Fitria menilai, penahanan  barang untuk rasionalisasi satu harga sebenarnya tidak memungkinkan dilakukan dalam waktu yang panjang, karena mekanisme pasar akan menjadi semakin tidak alamiah dan menyebabkan berbagai masalah lainnya di pasar dan jalur distribusi.

Jika kondisi ini terus berkepanjangan, tutur wanita yang berprofesi sebagai Dosen Fakultas Ekonomi UPR itu, kelangkaan tentunya berimbas pada kenaikan harga karena kebutuhan atas minyak goreng tidak bisa dikurangi atau distop masyarakat.

Selanjutnya, karena kebutuhan tersebut, tentu permintaan selalu ada. Jika permintaan selalu ada, tapi minyak goreng menjadi langka, ujungnya daya tawar pasar menjadi daya tawar dengan harga yang tinggi. Akhirnya memang masyarakat yang merasakan akibat dari itu semua.

“Karena momentun menimbun itu memang paling menguntungkan dilakukan pada kondisi pasar seperti ini. Distributor membaca pola saat ini dan bagaimana reaksi pasar berikutnya,” ucapnya.

Fitria juga menanggapi terkait pernyataan pihak dinas dan aparat yang menegaskan apa yang dilakukan distributor bukanlah bentuk penimbunan. Namun, yang menjadi catatan penting, apakah dapat diyakini bahwa tidak ada aktivitas menimbun? Dia menilai dalam kegaduhan minyak goreng ini sanksi dan sidak memang dibutuhkan, tetapi juga sangat dibutuhkan bahwa kontrol dilakukan menyeluruh pada proses distribusi.  dsn

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.