Marak Angkutan Besar Bongkar Muat di Pinggir Jalan

TABENGAN/LIU BERBAHAYA -Sejumlah pekerja memindahkan barang dari mobil kontainer ke truk di pinggir jalan Adonis Samad belum lama ini.

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM-Beberapa tempat di Kota Palangka Raya dijadikan sebagai tempat bongkar muat barang. Pemandangan ini sering terlihat di Jalan Adonis Samad dan sekitarnya, sejumlah mobil kontainer menurunkan muatannya, dipindahkan ke mobil lain. Tidak hanya itu, Dishub provinsi juga menerima laporan dari masyarakat di Jalan Wortel dan sekitarnya juga sering ada tronton melakukan bongkar muat barang.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Yulindra Dedy menyampaikan, mereka sudah menggelar rapat dengan pemerintah Kota Palangka Raya. Salah satu materi yang dibahas dalam rapat itu, rencana kedepan angkutan besar tidak harus masuk dalam kota. Tidak hanya di Palangka Raya tapi juga kalau bisa di kabupaten juga dengan memaksimalkan forum lalulitas tingkat kabupaten/kota, keanggotaannya dari dinas perhubungan, balai perhubungan, Kepolisian, PU Provinsi dan kabupaten/kota dan instansi terkait lainnya.

“Ada review terhadap tata ruang kota, misalnya tempat pergudangan, ada pergudangan jadi bongkar muat barang itu kedepannya, tidak harus masuk gudang dalam kota. Misalnya di Kota Palangka Raya, maksimalkan terminal WA Gara sebagai tempat bongkar muat barang. Setelah itu dari sana diangkut lagi dengan angkutan skala kecil. Tapi dari Disperindag juga perlu kita perhatikan jangan sampai pada saatnya terjadi kenaikan harga, biaya bongkar muatnya bertambah,” kata Yulindra Dedy, Senin (7/2).

Dishub Provinsi melihat sampai saat ini kota belum ada tempat terminal yang khusus untuk bongkar muat barang, untuk itu mereka tawarkan, kalau memang ketika jam sibuk sudah tiba, bisa gunakan terminal WA Gara sebagai tempat sementara bongkar muat. Masuk dalam kota dibawa dengan angkutan skala kecil. Tidak lagi  kontainer langsung masuk ke kota. Begitu juga angkutan alat berat tidak pelu lewat dalam kota, kalau terpaksa, harus dikawal.

Salah satu yang jadi perhatian, berkaca dari kejadian di Balikpapan, Dishub provinsi coba mengatur jam operasional angkutan besar yang bisa masuk ke kota. Kalau misalnya sopir berangkat malam dari tempat asal dan sampai di Palangka Raya pagi, paling tidak ada pengaturan, misalnya sampai di Palangka Raya sini jam 5 atau 6 pagi, tidak boleh masuk kota dulu.

“Jam 8 atau 9 pagi baru masuk kota. Karena antara jam 6-7 pagi itu masih padat aktivitas masyarakat, ada yang berangkat sekolah, ke kantor pemerintahan, karyawan swasta berangkat kerja. Kita beharap ada semacam pengaturan jam operasional angkutan berat itu masuk wilayah kota, tidak hanya Palangka Raya saja tapi kabupaten juga. Karena potensi kerusakan jalan dalam kota cukup besar juga antispasi jangan sampai kejadian seperti di Balikpapan, terjadi di Kalteng,” imbuh Dedy.

Sementara itu mengenai pengawasan di jalan, itu merupakan tanggung jawab bersama, sinergi dengan semua pihak terkait dalam pelaksanaan tugas, dari provinsi sampai ke kabupaten/kota. Selama inis sering terjadi salah kaprah. Siapa melakukan pengawasan di jalan provinsi, jalan negara, dan jalan kabupaten/kota. Menurut Dedy pengawasan bisa dilakukan secara sinergi, berbeda dengan tanggungjawab pemeliharaan jalan, baru bicara mengenai tanggungjawab siapa. yml

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.