Teras: Hati-hati Bertutur Kata

Senator Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari bermacam-macam suku dan berbagai macam agama. Presiden pertama Soekarno mengatakan, kita ini berbeda, tetapi kita ini adalah satu. Pemahaman beliau itu tiada lain untuk mengingatkan, kendatipun kita memperoleh kebebasan di dalam mengeluarkan pendapat, memberikan pandangan-pandangan, tetapi harus menyadari bahwa kita tidak berada di ruang kosong.

Hal itu dikemukakan Senator Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustin Teras Narang saat menyampaikan tanggapan terkait keterbukaan informasi di era digitalisasi sekarang ini, via WhatsApp, Selasa (1/2/2022).

Teras mengatakan, di dalam era digitalisasi, ketika kita berpandangan, ketika kita berpendapat di media sosial, maka akan langsung tersebar ke mana-mana, dan yang menerima, membaca, bahkan yang mendengar bukan hanya di sekitar kita.

Kembali, kata Anggota DPD RI Dapil Kalteng ini, kita itu berbeda, maka otomatis jangan kita hanya melihat kepada diri kita, tetapi kita juga melihat kepada lingkungan kita, melihat secara keseluruhan, atas pandangan ataupun pendapat yang dikeluarkan itu.

Di sinilah, kata Teras, diperlukan adanya karakter dan rasa kebersamaan yang tiada lain adalah bahwa dalam tutur kata kita harus berhati-hati, dan di dalam hati-hatian itu tentu kita harus mampu untuk memilah dan memilih.

“Peran kita tentu dimulai dari para pemimpin, apakah itu di tingkat nasional, pemimpin di tingkat provinsi, di tingkat kabupaten dan kota, sampai ke tingkat desa. Para pemimpin harus mampu menjadi contoh, teladan bagi masyarakatnya. Tutur kata dalam segala perkataan dan perbuatan dari pemimpin itu harus mampu mencerminkan kebhinekaan ini,” kata Teras.

Pemimpin, lanjut Gubernur Kalteng periode 2005-2015 ini, harus mampu mencerminkan kearifan di dalam bertutur kata, harus juga secara bijaksana dalam memutuskan sesuatu. Seorang pemimpin tanpa menyadari dirinya itu adalah pimpinan apakah itu di tingkat pemerintahan, apakah itu di tingkat organisasi, sampai ke tingkat yang paling bawah yakni Rukun Tetangga, dan sampai di keluarga.

“Contoh mulai dari keluarga. Saya sebagai kepala rumah tangga, maka yang paling utama harus diperhatikan adalah lingkungan keluarga saya, dan saya harus mengingatkan kepada istri, kepada anak-anak, kepada saudara-saudara saya yang terdekat, untuk selalu berhati-hati ketika kita keluar rumah,” jelas Teras.

Artinya, sambung Teras, kita harus berani menentukan bahwa apa pun yang terjadi di luar itu tidak mungkin lepas kepada aturan-aturan. Kita berada di luar, dan kemudian kita melakukan sesuatu seperti memberikan pandangan, memberikan pikiran, memberikan ujaran-ujaran, ataupun ucapan-ucapan, maka itu berkaitan dengan hukum.

Namun demikian, Teras meyakini, penghukuman yang dilakukan oleh pihak aparat penegak hukum, bukan suatu hukuman yang begitu saja, tetapi juga merupakan bagian dari pengajaran. Pengajaran kepada masyarakat masyarakat yang lain.

“Artinya penegakan hukum ini tiada lain adalah sebagai salah satu cara, sebagai salah satu sarana, bahwa apabila seseorang melakukan sesuatu, dan terkena oleh tindakan hukum maka berarti itu juga adalah suatu pengajaran juga. Bukan hanya bagi diri orang tersebut, tetapi juga bagi masyarakat,” ujarnya.

Teras menggambarkan, berita yang memuat informasi adanya perbuatan yang melanggar hukum, hendaknya juga dipahami ini sebagai suatu pengajaran. Mengingatkan kepada diri kita, kepada lingkungan kita, agar kita tidak berbuat hal yang seperti itu, karena apa, karena kita akan dihukum. Tidak saja dihukum tapi juga “dihukum oleh masyarakat”. ded

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.