Tinggal di Bekas Kandang Ayam, Biaya Sekolah Anak Tetap Ditagih

50
tinggal di bekas kandang ayam
Kondisi gubuk bekas kandang ayam yang didiami Nuryana, ketika dikunjungi Tabengan, Sabtu (31/1). TABENGAN/BAMBANG

KUALA PEMBUANG/tabengan.com – Warga kurang mampu di Sungai Mitak, Desa Persil Raya, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan tinggal di sebuah gubuk bekas kandang ayam milik keluarganya.

Dia adalah Nuryana. Perempuan berusia 35 tahun itu ternyata sudah tinggal bersama anaknya Halimah (15), selama kurang lebih 3 tahun di gubuk bekas kandang ayam berukuran 3×3 meter yang berada di belakang rumah warga, tak jauh dari pemukiman.

Pada bagian dalamnya, bekas kandang ayam yang hanya beratapkan daun nipah dengan dinding kayu yang tidak rapat dan sudah mulai lapuk itu disekat sedikit untuk kamar anaknya, serta keperluan memasak seadanya. Untuk penerangan di malam hari, ada sebiji lampu.

Di sudut ruang, tampak sebuah lemari pakaian. Sedangkan ruang makan, ruang tempat tidur tergabung menjadi satu. Begitu juga dengan pintu masuk dan pintu keluar, menjadi satu-satunya pintu untuk masuk. Tidak ada dapur ataupun pintu lain seperti umumnya sebuah rumah.

Sejauh ini, Pemerintah Daerah (Pemda) melalui dinas terkait belum memberikan bantuan yang memadai. Padahal, setiap tahun dipastikan ada dana yang dikucurkan Pemerintah Pusat untuk warga kurang mampu. Seperti rehab rumah tidak layak huni melalui Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Seruyan yang nilainya mencapai Rp15 juta untuk setiap rumah, hingga bantuan material berupa seng melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BPMDes).

Penuturan Nuryana, pekerjaannya sehari-hari tidak menentu. Terkadang dia mengambil upah menanam padi hingga mencarikan sayur untuk orang. Untuk berangkat bekerja, Nuryana menggunakan sepeda pancal, karena perjalanan menuju tempatnya bekerja jauh dari pemukiman. “Penghasilan tidak menentu paling banyak Rp30 ribu sehari, itu sudah besar,” ujarnya.

Di gubuk itu, Nuryana tidak dibebankan biaya apapun kecuali untuk penerangan sebiji lampu yang dibayar semampunya. Dengan kondisi seperti itu, Nuryana juga tidak terlalu berharap mendapatkan bantuan dari pemerintah. Karena menurutnya, setiap hari hanya fokus bekerja apa saja untuk membiayai kebutuhannya sehari-hari dan keperluan sekolah anaknya. “Setiap hari kan anak saya juga perlu uang jajan di sekolah,” terangnya.

Meski demikian, Nuryana mengaku tidak kesulitan untuk mencari air untuk MCK, karena gubuknya berada tidak jauh dari Sungai Seruyan.

Famili Nuryana, Istri Misba mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi itu. Menurutnya, bekas kandang ayam miliknya itu sebenarnya kurang layak huni. Kandang ayam itu sudah beberapa kali diperbaiki, karena pondasinya hanya terbuat dari kayu seadanya.

Sebenarnya, kata Nuryana, untuk membayar biaya sekolah seperti biaya OSIS sebulan Rp25 ribu dan membeli buku sekolah pun tidak mampu ia bayar. Dia sempat berinisiatif membuat surat keterangan tidak mampu di desa.

“Surat tidak mampu pun tidak berlaku, gurunya tidak bersedia, kalau nanti ada uang harus dicicil,” tuturnya.

Kondisi itu, katanya, berbeda dengan di Kota Palangka Raya, dimana dia pernah tinggal. Waktu itu dia membuat surat tidak mampu dan pihak sekolah memahami, sehingga dibebaskan dari segala biaya. “Di sini (Seruyan) tidak ada, tetap ditagih,” paparnya. c-bam

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here